Beranda Headline Mengenal Pemikiran Taha Jabir al-‘Alwani Tentang Islamisasi Pengetahuan

Mengenal Pemikiran Taha Jabir al-‘Alwani Tentang Islamisasi Pengetahuan

Harakah.idTaha Jabir al-‘Alwani, pewaris dan pembawa obor al-Faruqi, menyatakan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sebuah usaha untuk mengenalkan kembali keagungan al-Qur’an kepada seluruh dunia.

Biografi Dr. Taha Jabir Al-Alwani dilahirkan di Iraq 1354 II/1935 M.Dia memperoleh pendidikan dasar dan menengahnya di tanah kelahirannya sendin, kemudian mendapatkan gelar B.A dan Fakultas Syari’ah dan Hukum di Universitas al-Azhar Kaior pada tahun 1378 H/1959 M.

Di universitas yang sama pula gelar master dan doktoralnya dalam bidang Usul Fiqih masing masing pada tahun 1968 M & 1973 M.

Selepas sarjana, Taha Jabir al-‘Alwani kembali ke Iraq dan menjadi anggota militer di Iraq dan mengajar di Akademi Militer Iraq di Baghdad, sekaligus mengajarkan ilmunya di perguruan Tinggi dalam bidang Islamic Studies di mana dia menjadi Guru Besar selama 6 tahun.

Selama 10 tahun dia menjadi guru besar dalam bidang fikih dan Ushul Fiqih di Universitas Muhammad Ibn Saud di Riyadh Mekkah. Al-‘Alwani kemudian memutuskan untuk hijrah ke USA pada tahun 1983 M. Dia menetap di Northern Virgina selama 23 tahun. Sekaligus dia juga membidani dalam pendirian “The International Institute of Islamic Thought” di USA pada tahun 1401H/1981 M.

Al-‘Alwani menulis dan menerbitkan karya-karyanya, lebih dari 30 buah buku tentang beragam issu Islam termasuk terkait tentang “etika beda pendapat”. Dia menggagas banyak pemikiran baru tentang perubahan dan gagasan-gagasan yang kemudian melahirkan tren baru dalam bidang kajian Islamic Studies.

Ia menulis tentang Islamisasi pengetahuan, kewajiban untuk berjihad, dan konsep fiqih aqalliyat (fiqh minoritas) yang berhubungan dengan persoalan pandangan orang Islam di Negara di mana mereka yang minoritas dan intinya lebih spesial dan luar biasa menguasai kondisi kondisi tersebut. Al-‘Alwani dikenal pula dalam karyanya sebagai Quranic Interpreter’s (penafsir al-Qur’an).  

Bukunya yang berjudul “Tadabbur” dia membahas bagaimana memahami al-Qur’an dengan menggunakan al-Qur’an ita sendiri sebagai cara yang berbeda dengan para mufassir al-Qur’an. Karena al-‘Alwani menyakini keragaman latar belakang dan pendidikan mufassir membawa bias dan perbedaan di antara orang Islam dalam menafsirkan al Qur’an.

Pada suatu ketika ia sempat menangis, kebingungan, hatinya menyempit disebabkan pertanyaan-pertanyaan yang baru itu tak ditemukan jawabannya dalam kitab-kitab induk di atas. Sampai pada akhirnya ia membaca Al-Qur’an, memikirkan prinsip-prinsi universalnya.

Taha Jabir al-‘Alwani, pewaris dan pembawa obor al-Faruqi, menyatakan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sebuah usaha untuk mengenalkan kembali keagungan al-Qur’an kepada seluruh dunia. Keagungan al-Quran lah yang selalu memiliki konsepsi alternatif, universal, epistemologis, dan sistematis.

Al-‘Alwani di sini menyadari adanya kesulitan bahwa untuk peninjauan alternatif Qurani harus menyelami sistem epistemologis dalam al-Qur’an, yang menjadi warisan tafsir yang sangat banyak, bertimbun, dan berabad-abad usianya serta disiplin-disiplin klasik (yang dikenal Ulumul Qur’an). Karena itu, umat Islam tidak boleh meninggalkan khazanah keilmuan klasik, yang bisa menjadi dasar bagi pengembangan program Islamisasi pengetahuan.

Tujuan dari program Islamisasi dapat disimpulkan dalam lima hal berikut. yaitu:

(1) Untuk membangun pokok-pokok sistem epistemologi muslim kontemporer dari al-Qur’an

(2) Untuk membangun metode-metode yang sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ilmu pengetahuan, pemikiran dan peradaban.

(3) Untuk membangun metode-metode yang sesuai dengan peninggalan-peninggalan muslim klasik kemudian meningkatkannya pada peniruan dan menimba pelajaran dari kekacauan yang terjadi di zaman-zamannya.

(4) Untuk membangun metode-metode yang sesuai dengan legalitas modern kemudian dapat memunculkan interaksi dengan pemikiran dan peradaban modern global untuk memecahkan krisis-krisisnya.

(5) Untuk membangun metode-metode yang sesuai dengan legalitas modern kemudian dapat memunculkan interaksi dengan pemikiran dan peradaban modern global untuk memecahkan krisis-krisisnya.

Selanjutnya, al-‘Alwani mengajukan beberapa syarat yang bersifat epistemologis tentang Islamisasi ini. Ia menulis berikut ini: (a) Pengetahuan apapun yang dapat dibuktikan menjadi fakta-fakta yang bersifat sains harus secara legal diterima sebagai sesuatu yang Islami. (b) Semua pengetahuan harus dituntaskan pada kerangka menyeluruh dari rencana banyak hal. (c) Penemuan apapun yang bertentangan dengan prinsip-prinsip universal dalam Islam harus ditolak.

Inilah di mana usaha-usaha ilmuwan sosial Muslim akan berkontribusi kepada semua ilmuwan-ilmuwan dan teknolog Muslim dalam kemunculan sebuah masyarakat Islam yang terintregasi yang berarti seseorang bisa jadi dapat menyelesaikan misinya di bumi.

Program Islamisasi ilmu memang telah banyak menuai kritikan. Antara lain tuduhan bahwa program itu bagian dari agenda-agenda ideologis. Kritik ini datang dari para intelektual liberal, sekular, dan anti-Islam yang melihat usaha sembunyi-sembunyi di dalamnya untuk mengislamisasikan masyarakat dengan mengubah 18 pola pendidikan dan konsep keilmuan pada generasi-generasi baru. Kritik-kritik lainnya sudah dibuktikan dengan fakta bahwa tak ada satupun ilmuwan di masa keemasan Islam pernah berusaha untuk mengislamisasi pengetahuan yang sudah diterima dari peradaban sebelumnya. Malah mereka semua berproses untuk mempelajari, menguasai, mencerna, dan mengkritik hal itu, tidak dari sudut pandang menurut Islam tapi lebih dari kesesuaiannya pada kebenaran.

Artikel kiriman dari Nailin Ni’mah, Mahasantri International Instatute for Hadith Sciences Darus Sunnah Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...