fbpx
Beranda Keislaman Ibadah Mengenal Petugas Bilal, Pemberi Aba-Aba dan Pemandu Jamaah

Mengenal Petugas Bilal, Pemberi Aba-Aba dan Pemandu Jamaah

Harakah.id – Istilah bilal telah digunakan para ulama Aswaja seperti Syekh Abu Bakar Syatha dan Syekh Nawawi Banten. Bilal memanggil jama’ah seperti berlaku dalam shalat-shalat sunnah seperti Hari Raya, Tarawih, Witir, dan shalat Gerhana.

Selain muazin, masyarakat Muslim juga mengenal padanannya, yaitu bilal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bilal berarti orang yang bertugas menyerukan adzan. Bilal adalah istilah lain dari muazin.

Masyarakat sebenarnya menggunakan kata tersebut untuk pengertian yang lebih spesifik, lebih dari sekadar penyeru azan. Yaitu orang yang bertugas memberi aba-aba kepada jamaah saat akan melaksanakan shalat berjamaah. Bilal bertugas menjadi penyambung suara imam shalat agar terdengar oleh makmum. Bagaimana asal-usul penggunaan kata tersebut? Apakah istilah tersebut digunakan dalam literatur keislaman? Apakah para ulama menggunakan istilah tersebut untuk menyebut orang yang bertugas memberi aba-aba? Tulisan ini akan membahas hal tersebut.

Baca Juga: 2 Macam Takdir dalam Islam, Takdir Mubram dan Takdir Mu’allaq

Setiap kita mendengar nama “Bilal” tentu konotasinya adalah nama sahabat Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah “kekasih” Rasulullah, bertugas untuk mengumandangkan azan setiap shalat. Tetapi, asal-usul istilah bilal sangat berkaitan dengan peran sahabat Bilal yang menjadi penyeru umat di zaman awal Islam.

Bilal adalah orang yang tugasnya memberi aba-aba, lebih tepatnya menyambung suara imam. Sewaktu hendak dilaksanakan shalat atau khotbah, dialah yang menyampaikan kepada jama’ah dengan kata-kata yang khas.

nucare-qurban

Setiap hari jum’at dapat disaksikan ketika imam hendak naik mimbar, maka sang bilal akan mendengungkan aba-aba agar jama’ah tenang, mendengarkan khotbah sungguh-sungguh, siapa bicara atau menegur teman sebelahnya dengan suara yang bisa membuat gaduh, maka ia kehilangan pahala jum’atannya. Para bilal menyampaikan peringatan dalam bahasa Arab yang sulit dicerna. Biasanya disertai kutipan hadis. Istilah bilal telah digunakan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti Syekh Abu Bakar Syatha dan Syekh Nawawi Banten.

Dalam I’anatuth Thalibin disebutkan, “Bilal memanggil jama’ah seperti berlaku dalam shalat-shalat sunnah seperti Hari Raya, Tarawih, Witir, dan shalat Gerhana. Biasanya ia memanggil jama’ah dengan kata-kata ‘ash-shalah’ atau ‘Halumma ila ash-shalah’ (mari shalat). Kurang tepat bila memakai kata-kata ‘Hayya ala sha-shalaah’. Lain halnya pada saat shalat jenazah, bilal tidak diperlukan karena para pentakziyah tidak memerlukannya. Akan tetapi, bila para pentakziyah itu membludak dan mereka tidak tahu kapan imam datang untuk melakukan shalat maka sunnah diangkat seorang bilal.”

Dalam kitab Nihayat Al-Zain, “Bilal diadakan pada setiap 2 rakaat shalat tarawih. Bilal berlaku juga untuk shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjama’ah (tetapi biasanya dilaksanakan dengan berjama’ah, seperti shalat dhuha). Sedangkan shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjama’ah dan dijalankan sendiri-sendiri, tentu tidak memerlukan seorang bilal.”

Dalam bagian lain Nihayat Al-Zain dikatakan, “Seorang imam ketika membaca takbir intiqal (takbir untuk perpindahan rukun shalat, misalnya dari berdiri ke rukuk, dari rukuk ke sujud) disunnahkan bersuara keras. Demikian pula sunnah bagi seorang bilal ketika ia menyampaikan aba-aba. Hal ini dikandung maksud untuk zikir dan agar dapat didengar makmum lainnya. Jika tidak diniatkan zikir, shalat  sang bilal menjadi batal. Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa yang berbicara dengan bahasa Arab, itu tercatat sebagai dzikir.’ Oleh karena itu, Bilal biasanya memakai bahasa Arab.”

Baca Juga: 3 Cara Mengubah Takdir Buruk Menjadi Baik Sesuai Ajaran Nabi

Mengadakan bilal itu sebenarnya bid’ah. Sebab di zaman Rasulullah hal semacam itu tidak ada. Tetapi ini termasuk “Bid’ah Hasanah” (bid’ah yang baik). Sebab membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an itu bisa mendatangkan gairah dan semangat cinta kepada Rasulullah, terutama masa-masa seperti sekarang ini, tentu perlu diperbanyak. Sedang membaca hadits sesudah adzan jum’at sebelum dilakukan khutbah akan dapat mengingatkan kaum muslimin (jama’ah jum’at) untuk menghindari seseorang dari berbicara yang oleh sebagian ulama haram hukumnya atau setidaknya makruh.

Rasulullah sendiri pernah bersabda terkait kasus ini di mimbar dengan hadits yang shahih. Rasulullah SAW bersabda di awal khutbahnya yang berisi himbauan agar kaum muslimin mau mendengarkan khutbah dengan seksama.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...