Mengenal Syekh Ali Al-Jurjawi, Ulama Pengacara, Penulis Kitab Hikmatut Tasyri’

0

Harakah.idAli bin Ahmad bin Ali Al-Jurjawi (w. 1380 H/1961 M). Seorang ulama terkemuka alumni Al-Azhar, Mesir, pengacara di Mahkamah Syar’iyah, dan pendakwah pertama di Ibukota Jepang, Tokyo.

Para pengkaji hukum Islam banyak yang akrab dengan kitab Hikmatut Tasyri’ Wa Falsafatuhu. Kitab ini sangat baik dalam menjelaskan kelebihan ketentuan-ketentuan syariat. Baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Tetapi jarang yang mengenal penulisnya.

Penulis kitab ini adalah Ali bin Ahmad bin Ali Al-Jurjawi (w. 1380 H/1961 M). Seorang ulama terkemuka alumni Al-Azhar, Mesir. Ia aktif sebagai pengacara di Mahkamah Syar’iyah, Kairo. Ia merupakan pendakwah pertama di Ibukota Jepang, Tokyo.

Al-Jurjawi lahir dan tumbuh besar di Qur’an, salah satu desa yang berada di kawasan Distrik Jurja, Provinsi Suhaj, Mesir pada akhir abad 19. Nama Al-Jurjawi dinisbatkan dengan daerah asalnya, distrik Jurja.

Ia belajar dasar-dasar baca dan tulis serta menghafal Al-Quran di Kuttab –semacam madrasah di distrik ini. Ia belajar ilmu-ilmu agama dasar di hadapan sejumlah ulama di daerah ini. Daerah ini memiliki banyak ulama mengingat terdapat lembaga pendidikan keagamaan kuno. Ali Al-Jurjawi merantau ke Kairo untuk menyempurnakan pendidikan. Di kota ini, ia belajar di Universitas Al-Azhar Al-Syarif.

Ia kemudian menjutkan pendidikan di Sekolah Hukum Syar’i dan lulus dengan memperoleh ijazah. Ia aktif sebagai pengacara di Mahkamah Syar’iyyah. Selain itu, ia mendirikan koran Al-Irsyad. Ia bekerja sebagai kepala organisasi keilmuan Al-Azhar, Jam’iyyah Al-Azhar Al-Ilmiyyah.

Pada tahun 1906 M., ia berangkat ke Tokyo, Jepang untuk mengikuti Muktamar Perbandingan Agama. Muktamar ini berusaha memilih agama yang paling utama dan sesuai untuk menjadi agama resmi kekaisaran Jepang.

Agenda ini bermula ketika Jepang berhasil mengalahkan Rusia pada 1905. Jepang merasa kemajuan yang diperolehnya kurang mendapatkan dukungan dari agama lokalnya. Pemerintah Jepang berusaha mencari agama baru untuk negaranya.

Untuk itu, pemerintah Jepang berencana mengadakan muktamar agama-agama dunia. Mereka mengundang perwakilan agama-agama dunia, baik dari Eropa maupun Asia. Salah satu yang diundang adalah utusan Kesultanan Turki Usmani.

Mendengar berita ini, Syekh Ali Al-Jurjawi berusaha meyakinkan Al-Azhar agar mengirim utusan melalui media yang dipimpinnya, Al-Irsyad. Tidak diketahui secara pasti apakah Al-Azhar kemudian membentuk komite untuk agenda ini. Tetapi, Syekh Ali Al-Jurjawi kemudian kembali ke kampung halamannya dan menjual tanahnya agar bisa mengikuti muktamar ini.

Syekh Ali Al-Jurjawi berangkat ke Tokyo dan mengikuti kegiatan ini. Muktamar tidak menghasilkan kesepakatan karena para tokoh pemimpin di Jepang memandang semua agama –sebagaimana disampaikan para wakilnya adalah baik. Mereka berbeda pendapat sehingga tidak menemukan kata sepakat.

Syekh Ali Al-Jurjawi tidak langsung kembali ke Mesir. Ia menetap di sana beberapa lama. Ia mendirikan lembaga dakwah Islam. Berkat lembaga ini, tidak kurang dari 12 ribu warga Jepang masuk Islam. Abdul Wadud Syibli mengatakan, “Lelaki ini, jika saja mau bertahan di Jepang, niscaya mayoritas penduduknya akan masuk Islam.”

Ia kemudian kembali ke Mesir dan mendirikan koran Al-Azhar Al-Ma’mur pada 8 Rabiul Awwal 1325 H/April 1907 H. Aktifitas ini dijalani Al-Jurjawi hingga wafat pada tahun 1967.

Di antara karya-karyanya adalah Al-Rahlah Al-Yabaniyyah, Hikmah Al-Tasyri’ Wa Falsafatuhu, Al-Islam Wa Mustarskut, Al-Maqalat Qashidah Fi Dzikra Julus Abbas Hilmi Al-Tsani Ala ‘Arsyi Mishr, Al-Maqalat Qashidah Fi Intiqad Al-Hukumah Fi Ahdi Khadi Taufiq.