Mengenal Tradisi Meugang, Cara Masyarakat Muslim Aceh Menyambut Bulan Puasa

0
574

Harakah.id Jika di Jawa dikenal tradisi Megengan, maka di Aceh dikenal istilah Meugang. Meugang adalah cara masyarakat Aceh menyambut bulan Ramadhan. Mereka memasak daging sebagai ekspresi kegembiraan. Bagaimana asal-usulnya?

Aceh dikenal dengan “Seuramoe Mekkah” di dalamnya terdapat berbagai tradisi. Salah satunya tradisi yang unik saat menjelang puasa Ramadhan dan menjelang hari raya idul fitri maupun idul adha yang dikenal dengan meugang.

Seperti kita ketahui, bulan suci Ramadhan hanya menghitung hari saja. Betapa banyaknya masyarakat kita yang sangat antusias dengan datangnya bulan Ramadhan. Begitu pula dengan Aceh yang sangat beragam dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Banyaknya tradisi yang akan dilaksanakan dalam menyambut bulan suci Ramadhan, yakni salah satunya mengenai tradisi yang berbeda dengan daerah yang lainnya yaitu tradisi Meugang.

Meugang sendiri merupakan tradisi memasak daging menjelang hari besar yang dilakukan sebelum memasuki perayaan hari besar. Tradisi ini hampir disetiap daerah Aceh melaksanakannya dengan mempersiapkan berbagai kebutuhan memasak daging. Bahkan, orang Aceh yang berdomisili diluar kota atau pulau ada juga yang ikut memeriahkan tradisi ini.

Tradisi meugang dulu dikenal dengan makmeugang. Gang dalam bahasa Aceh berarti pasar, dimana dalamnya banyak yang menjual daging yang digantung di bawah bambu. Masyarakat akan ramai mendatangi pasar, sehingga ada istilah Makmu that gang nyan (makmur sekali pasar itu), maka jadilah nama Makmeugang. Maka, tak heran jika pada hari meugang, aroma daging hampir tercium dimana-mana.

Tradisi meugang sendiri sudah ada sejak sultan Aceh. Dalam undang-undang kesultanan Aceh dulu, yang dikenal dengan Qanun Meukuta Alam disyarah Tgk Di Mulek, dalam bab II pasal 5 menyebutkan bahwa “bila telah mendekati hari makmeugang, baik puasa, Hari Raya Fitrah, Hari Raya Haji, sebulan sebelum memasuki hari meugang ini, semua keuchik imum meunasah, dan tuha peut di seluruh Aceh diwajibkan memeriksa tiap kampung yang dipimpinnya.

Tujuannya untuk mengetahui jumlah fakir miskin, inong balee (janda), yatim piatu, orang sakit lasa (lumpuh), dan orang buta, dan orang sakit yang tidak bisa mencari nafkah”. Begitu sultan menerima laporan, segeralah sultan membeli kerbau dan sapi untuk dipotong pada hari meugang dan dibagikan kepada mereka.

Bentuk tradisi diatas merupakan salah satu sikap kita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan keadaan yang gembira. Bulan ini di penuhi dengan kebaikan, yang mana pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka di tutup.

Allah telah berfirman mengenai anjuran kegembiraan dalam menyambut buan suci ramadhan, dalam QS. Yunus: 58, dimana setiap karunia Allah serta segala rahmat yang Allah berikan hendaklah kita harus bergembira dan berlapang dada. Dikarenakan segala yang telah Allah karuniakan kepada kita serta rahmat yang telah Allah berikan terhadap kita lebih baik dari segala apapun yang kita kumpulkan.

Oleh karena itu, semakin beragam budaya maka semakin menarik pula tradisi dan perayaaannya. Sekaligus untuk melestarikan budaya yang telah di kembangkan oleh para leluhur terdahulu, serta dalam bentuk kesyukuran kita kepada Allah swt karena telah banyak karunianya yang telah diberikan.