Mengenang Sutopo Purwo Nugroho [2]; The Sole Beacon In the Dark Time

0
161

Harakah.id – Kebahagiaan sederhana bagi para jurnalis adalah saat seorang narasumber begitu egaliternya dia mau menjawab semua pertanyaanmu. Gampang dihubungi dan mau “diganggu”. You’ll love them! dan ketika kamu tahu dia melayani begitu banyak wartawan selain kamu, you’ll love them even more. Dan ketika posisinya semakin penting dan susah lagi kamu hubungi, you still love ‘em.

That the kind of narasumber Sutopo is!!

Kadang nggak tahan juga pingin protes. “Pak mendan, dibales dunkz,” sapa saya suatu hari. Lalu dibalasnya dengan mengirim screenshot aplikasi WhatsApp dengan notifikasi, “Nih, segini yang belom saya baca.”

Saya melihat ss tersebut. Dua ribu lima ratus lima puluh satu pesan yang belum terbaca. Saya pun mengkeret. “Hehe, ampun kumendan,” balas saya.

Sutopo membentuk grup WhatsApp untuk wartawan: Medkom Bencana. Sebagai fasilitas blasting rilis dan info kebencanaan. Grup itu langsung penuh. 250 anggota. Karena penuh Sutopo bikin lagi, Medkom Bencana 2. Langsung penuh lagi. Tak lama kemudian sudah berkembang hingga Medkom Bencana 8. Itu belum termasuk media asing dan grup wa BNPB dan BPBD seluruh Indonesia yang tiap jam mengirim laporan real time perkembangan penanganan kebencanaan di tiap daerah.

“Aduh, hape saya ini hang terus,” keluhnya suatu hari.

Jumat siang, 26 Januari 2018, gempa besar 5,2 Skala Richter (SR) yang berpusat di Banten mengguncang Jakarta. Biasanya, hanya dalam hitungan Jam, Sutopo sudah muncul dengan rilis resmi BNPB dengan data-data akurat dari lapangan. Namun hingga sore, Sutopo belum juga muncul.

Sutopo sedang berbaring di rumah sakit, tapi ratusan pesan dan panggilan menyerbu masuk ke HP nya. Diatas ranjang RS, Sutopo mengumpulkan laporan dari BPBD banten dan semua jaringan BNPB untuk diketik dalam sebuah pers rilis. ”Yasudah lah saya bikin rilis, tapi saya nggak mau angkat telepon nerima wawancara,” katanya.

Sampai Jumat malam, Sutopo masih setia memelototi HP. Menurut pengalamannya, setelah terjadi gempa besar, rawan bermunculan berita-berita hoaks tentang tsunami. Ia merasa perlu berjaga jangan sampai masyarakat panik.

5 Februari 2018, Sutopo sedang menunggu dokter di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Sejak semalam, Debit air di Bendung Katulampa sudah menyentuh siaga merah. Sutopo menyisir dunia maya dan televisi, belum ada satupun media yang mengabarkan hal tersebut. Memang ada beberapa info yang beredar. Tapi bahasanya rumit, normatif. Sutopo berpikir masyarakat tidak paham apa artinya siaga satu dengan bahasa teknis seperti itu.

Padahal, warga Jakarta terancam banjir. Ia pun kembali menekuri HP nya, mengumpulkan data dan menyusun rilis.

Saat terjadi Longsor di Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, 22 Februari lalu, Sutopo tengah berada di ruang bedah RSPAD Gatot Subroto. Bersiap menjalani operasi. Awalnya, ia berpikir nanti dulu lah, operasi lebih utama. Namun, belum ada satupun berita tentang longsor Brebes. Sutopo tetap gelisah. ia tahu betul bencana longsor pasti mematikan. ”Wah ini longsor, pasti banyak korbannya,” tuturnya.

Lagi-lagi dalam kondisi berbaring ditas ranjang, ia mengontak BPBD dan beberapa instansi yang menangani langsung. Maupun petugas BNPB di lapangan. Data-data ia kumpulkan lalu disusun dalam bentuk rilis.

Kemudian tidak perlu saya ceritakan lagi ditelnya. Pada Juli datang gempa besar di Lombok, disusul hattrick bencana Gempa Bumi-Tsunami-Likuifaksi di Palu, menyusul kemudian Tsunami Selat Sunda serta bencana- bencana lain yang tak terhitung jumlahnya.

Empat ribu dua ratus tiga puluh satu nyawa melayang. Enam ribu jiwa terluka, tiga koma enam juta jiwa kedinginan di tempat pengungsian, ratusan ribu rumah, infrastruktur dan rumah ibadah luluh lantak.

Bencana-bencana itu datang seperti tinju yang bertubi tubi atau hempasan ombak yang sambung-menyambung menghantam lambung kapal bernama Indonesia. Dan Sutopo, sang navigator tetap berbicara di menara komunikasi meskipun basah kuyup dan babak belur. Layaknya lampu suar yang tak pernah padam.

Setelah cerita di lantai 11 itu, hidup Sutopo berlanjut. Begitu juga dengan bencananya. Satu persatu datang menghantam. Dar der dor. Sambung menyambung, susul menyusul. Seiring berjalannya waktu, Indonesia membangun citranya sebagai “supermarket bencana”, tahun 2018 sebagai “tahun bencana” dan Sutopo sebagai “The most referred disaster spokesman of Indonesia“.

Bersambung….