Beranda Headline Mengenang Sutopo Purwo Nugroho [3-habis); Tentang Raisa dan Terjebak Nostalgia

Mengenang Sutopo Purwo Nugroho [3-habis); Tentang Raisa dan Terjebak Nostalgia

DIA pernah bilang, dalam hidup ia selalu berusaha tidak patah semangat. Ia cuma patah semangat sekali, waktu Raisa kawin dengan Hamish Daud. ehe he he…

Tapi bagaimanapun kanker terlihat sangat menekannya. Sekarang ia berjalan ke press conference dengan langkah gontai. Kadang wajahnya meringis. Sesekali ia minta maaf karena semakin lemot menjawab pertanyaan dari media, sesuatu yang samasekali bukan salahnya.

Media lokal maupun asing semakin padat memenuhi ruang Press Conference yang sekarang dipindah ke lobby lantai 1 BNPB. Karena lantai 11 sudah tidak cukup.

Dia pernah melotot saat melihat saya “Heh. Terlambat terus!” Saya cuma cengar cengir sambil menghilang masuk ke kerumunan.

Selepas paparan pun, dia diserbu dan dikelilingi oleh para wartawan yang masih haus akan pertanyaan. Kadang saya merasa kurang patut. Bagi blio yang menahan sakit secara konstan tiap saat. Berbicara saja melelahkan. Tapi masih ada saja yang bertanya: Pak bagaimana prediksi bencana gempa bumi ke depan. Plak! sesuatu yang bagi kami sangat Hadeh sekali.

Kadang-kadang, ketika kerumunan sudah melonggar, saya mendekatinya Dengan muka malas ia langsung menukas “mo tanya apa lagi?!” saya cuma nyengir dan langsung memijit-mijit pahanya. Nggak tahu juga apa tujuannya. Tapi kemudian saya nyeletuk “Pak, kenapa bencana selalu terjadi di hari libur?”

Diapun langsung meletakkan mapnya dan melebarkan bahu. Seperti bos yang bersiap hendak ngomel: “Wah itu. Itu dia. Tsunami Aceh hari minggu, Jembatan Putus hari minggu. Gempa Lombok weekend, Tsunami Palu juga weekend. Ini orang emang mau nggak dikasih libur ya?” kami yang mengelilinginya pun tertawa.

Desember 2018 saya naik ke Gunung Anak Krakatau. Melanggar semua protokol keamanan. Lalu saya share foto fotonya ke beliau. “Melanggar aturan kamu!” Semburnya.

Saya pikir beliau sudah marah sekali dan emoh berkomunikasi dengan saya. Tapi beberapa saat kemudian ia mengirim pesan lagi “Tapi mantap kan?” celetuknya “Hehe iya pak. Pemandangannya luar biasa…”

2 Oktober 2018. Waktu itu baru selesai Konferensi Pers Kebencanaan di Forum Merdeka Barat. Sutopo sudah tak antusias lagi. Ingin cepat-cepat pulang. Tapi betapapun ibanya kami padanya, kami tetap harus mencari berita. Dan tidak ada sumber yang lebih baik dari dirinya. Jadi pertanyaan demi pertanyaan tetap dijawabnya. Meski ogah ogahan.

“Pak, Raisa gimana?”

Seketika matanya berbinar. Para ogah terlempar jauh.
Tapi wartawan lain mengernyit dan memelototi saya. Bisa bisanya ya waktu penting-pentingnya tanya begituan. Tadi pagi, Sutopo seperti biasa ngetweet. Tapi bukan soal apdet bencana melainkan menyemangati para penyintas kanker seperti dirinya agar tidak patah arang. Cuman di akhir tweetnya ada yang aneh. Dia nge-tag raisa. Iya, raisa yang itu, yang enam enam sembilan kosong.

“Tadi Raisa japri aku ngajak video call!” kata Sutopo antusias. Tamat sudah semua pertanyaan soal bencana. Tapi sayangnya permintaan bidadari dari langit itu tidak bisa Sutopo penuhi karena beberapa menit kemudian dia harus sudah naik ke panggung konpres menghadap ratusan kamera. Duty comes first!!

Para wartawati pun menghujani Sutopo dengan ciye ciye. Sebentar-sebentar, katanya. Hape saya sedang lowbat. Sebentar saya ganti hape satunya. “Biar nggak ketahuan istrinya ya pak?” celetuk seorang wartawati kawan saya. “Bukan, lowbaaat..” kilah Sutopo.

Raisa mengirim pesan ke chat pribadinya. “Hai Pak Sutopo, saya Raisa, rasanya kita sudah kenal lama ya?” Hati Sutopo mendadak sejuk bagai disiram embun. “Iya, saya juga merasa sudah lama kenal mbak Raisa,” jawabnya. Hati Sutopo lantas menyanyikan lagu kebangsaan senandung mantan terindah jilid dua pasal terjebak nostalgia.

Ciye-Ciye intensified.

Sutopo mengelus dada : Selama hidup saya nggak pernah nyapa Raisa. Eh dia nyapa duluan. Tapi untung nggak pernah ketemu. “Kenapa pak?” serbu para wartawan. “Wah, bisa mati gaya saya,” katanya.

Wah, tapi kalau saya ketemu Raisa, nanti saya akan ngomong tentang penanggulangan bencana wehehe. Pasti nggak mati gaya.

Sutopo mengatakan, kalo dirinya bertemu Raisa, ia ingin minta ia jadi duta Bencana. Soalnya, indonesia sendiri belum punya duta bencana. Kalau mau ngajak artis, mahal tarifnya. “Kalau Raisa tarifnya berapa pak?” Tanya teman-teman wartawan lagi. Wah, harus kemanusiaan dong (jangan minta tarif,Red). iya harus. Demi kemanusiaan.

Impiannya bertemu Raisa betul-betul terpenuhi beberapa bulan kemudian. Setelah Raisa datang berbagai tokoh, penghargaan dan sanjung-puji. Media media asing lantas berlomba-lomba mewawancarainya. Akhirnya, Presiden sendiri pun dibuat kagum olehnya. Meski kesakitan, saya percaya itulah saat-saat terbaik dalam hidup Sutopo.

Senin pagi tadi di dekat Pusaranya, saya sempat kirim pesan ke nomor WhatsAppnya yang sudah tidak aktif sejak 15 Juni lalu.

Selamat Jalan, pak Mendan….

Boyolali, 8 Juli 2019

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...