Beranda Keislaman Hadis Menghafal Hadis Tidak Hanya Butuh Kecerdasan dan Kekuatan Hafalan

Menghafal Hadis Tidak Hanya Butuh Kecerdasan dan Kekuatan Hafalan

Harakah.id – Mengahafal hadis akan selalu menjadi pekerjaan tak mudah, bahkan bagi orang paling cerdas sekalipun.

Menghafal hadis tidak hanya butuh kekuatan hafalan, ia butuh tekad, kemurnian jiwa dan konsistensi. Setidaknya itu yang dirasakan Abul Fadhl al-Hamadzani ketika bertarung tanding menghafal sebuah juzu’ kitab hadis dengan Imam al-Hakim al-Naysaburi. Ia mengakui, menghafal hadis memang tidak mudah, bahkan untuk orang cerdas seperti dirinya.

Ketika seorang sastrawan ternama dari Hamadzan yang bernama Abul Fadhl al-Hamadzani (358-395 H) berkunjung ke Naisapur, salah satu kota hadis, seluruh warga bergembira ria menyambut kedatangannya. Mereka mengenal sastrawan hebat itu dengan baik dan sangat ngefans, bahkan tak sedikit yang fanatik berat terhadapnya.

Abul Fadl memang dikenal sebagai Badi’uz Zaman (raja sastra di masanya). Ia pun sangat bangga dengan gelar itu. Kehebatannya itu bukan hanya dalam karena kemampuan sastrawinya yang sangat tinggi, melainkan ia juga sangat kuat hafalannya. Kecerdasannya di luar umumnya orang saat itu. Sangat jenius.

Suatu ketika, ia mendapat persembahan sebuah syair baru. Ia pun baru pertama kalinya mendengar syair yang jumlahnya lebih dari 100 bait itu. Tidak perlu waktu lama untuk menghafalnya. Tidak perlu pula mendengarnya berulang-ulang.

Cukup sekali ia mendengar syair baru itu, ia pun langsung hafal di luar kepala. Tidak hanya itu, ia bahkan mampu membacanya secara terbalik, dari belakang ke depan. Dari bait terakhir hingga bait pertama. Tidak ada kesalahan sedikitpun. Ia pun semakin bangga dengan kecerdasan dan kekuatan hafalannya. Warga Naisapur yang terkenal sebagai pegiat hadis pun semakin kagum dan fanatik terhadap penyair tersebut.

Mendapatkan pengakuan dan perlakuan yang berlebihan itu, Abul Fadhl pun semakin bangga pada dirinya. Ia bahkan mengingkari kehebatan orang-orang lain di Naisapur yang menghafal hadis. Ketika, orang-orang Naisapur ada yang berkelakar,

فلان الحافظ في الحديث

“[Di Naisapur] banyak orang yang jadi penghafal hadis handal,” teriak seorang warga.

Abul Fadhl pun tak percaya. Ia tak mau tertandingi.

وهل حفظ الحديث مما يذكر؟

“Bukankah hafalan hadis itu gampang. Mudah diingat.” Katanya meremehkan.

Warga yang sehari-harinya mempelajari hadis itu pun semakin dibuat heboh olehnya. Mendengar kehebohan tersebut, salah seorang tokoh ahli hadis Naisapur sedikit gusar oleh kesombongannya. Adalah Imam al-Hakim al-Naisaburi, Abu Abdullah Ibnul Bayyi’ (w. 403/405 H) orangnya, yang menguji kehebatan Abul Fadhl. Ia adalah salah satu ahli hadis kenamaan di Naisapur yang menyusun al-Mustadrak ‘Alas Shahihayn.

Dengan sabar dan tenang, al-Hakim menyodorkan sebuah juzu’ hadis (kitab kecil berisi beberapa hadis tentang satu tema saja) kepada Abul Fadhl. Ia menantang Abul Fadhl untuk menghafal hadis-hadis yang ada di dalamnya. Ia memberinya waktu selama satu pekan (ajjalahu jum’atan fi hifdzihi).

Setelah tepat sepekan, pada Jumat berikutnya, juzu’ itu pun dikembalikan kepadanya. Al-Hakim segera menantang penduduk Naisapur soal siapa yang hafal isi juzu’ tersebut.

“Siapa yang bisa menghafal ini? Muhammad bin Fulan dan Ja’far bin Fulan meriwayatkan dari Fulan.” Kata al-Hakim memulai tantangannya. Ia pun segera menyebutkan nama-nama yang bermiripan dan matan-matan hadis yang juga bermacam-macam.

Praktis, Abul Fadhl yang awalnya menganggap enteng hafalan hadis, karena berhasil menghafal ratusan bait syair dalam sekejap saja, mati kutu dibuatnya. Ia gagal menghafal hadis itu dengan baik. Ia kesulitan mengingat hadis karena ketidaktulusannya dalam menghafal. Ia kelimpungan mengingat nama-nama yang mirip dan unik serta matan-matan yang bermacam-macam namun masih memiliki makna yang berdekatan. Ternyata, orang jenius pun kesulitan menghafal hadis.

Melihat ekspresi Abul Fadhl, al-Hakim pun berujar;

فاعرف نفسك، واعلم أن حفظ هذا أضيق مما أنت فيه

“Sekarang, kau sudah tau siapa dirimu dan seberapa kemampuanmu. Ketahuilah, menghafal hadis itu jauh lebih sulit daripada syair yang kau kuasai itu.” Katanya menasihati.

Dari kisah ini kita tahu bahwa menghafal hadis adalah pekerjaan yang tidak hanya menuntut kecerdasan dan kekuatan hafalan. Menghafal sabda Nabi juga membutuhkan kemurnian jiwa, kesungguhan, tekad dan konsistensi. Tanpa itu semua, mengahafal hadis akan selalu menjadi pekerjaan tak mudah, bahkan bagi orang paling cerdas sekalipun.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...