Beranda Keislaman Tafsir Menghormati Tuhan yang Maha Kuasa, Manusia Kadang Lupa Atau Tak Tahu Caranya,...

Menghormati Tuhan yang Maha Kuasa, Manusia Kadang Lupa Atau Tak Tahu Caranya, Tafsir Al-Fatihah: 2-3

Harakah.idAl-Fatihah mengajarkan penghormatan setinggi-tingginya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Salah satunya ditunjukkan dalam ayat kedua. Qs. Al-Fatihah: 2.

Tafsir Al-Fatihah: 2-3. Al-Fatihah mengajarkan penghormatan setinggi-tingginya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Salah satunya ditunjukkan dalam ayat kedua. Qs. Al-Fatihah: 2 mengajarkan umat Islam bagaimana mengikrarkan penghormatan itu melalui pernyataan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” Kata ini menyimpan makna yang dalam tentang cara menghormati sang pencipta. Bagaimana penjelasannya?

Inilah tafsir Al-Fatihah: 1-2. Tafsir Al-Fatihah ini menjelaskan cara memuliakan dan menghormati Tuhan Sang Maha Pencipta.

Dalam ayat kedua surat Al-Fatihah, Allah SWT mengatakan;

الحمد لله ربّ العالمين

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

Dalam kaidah nahwu, kata Alhamdu adalah marfu’ atau yang dibaca rofa’ karena kedudukan Alhamdu ini adalah sebagai Mubtada. Dimana mubtada dalam kitab Azurumiyah dikatakan bahwa mubatada adalah kalimat isim yang dibaca rofa’ dan dibaca rofa’. Kemudian pada kata Lillahi yaitu majrur, karena merupakan susunan jar wa majrur. Dimana Lam disitu berkedudukan sebagai huruf jar, dan Allahi tersebut dibaca jar karena sebagai majrur dari Lam.

Pada kata Rabbi adalah majrur, karena kata itu merupakan badal dari kata Allahi. Dimana badal adalah kedudukan sebagai pengganti dari mubdal minhu yaitu kata Allahi. Badal pun sama seperti sifat dalam I’robnya, yaitu harus mengikuti Mubdal Minhunya. Dan kemudian kata Al-‘Aalamiina berkedudukan sebagai mudhof ilaihi maka disitu kata tersebut dibaca majrur.

Segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Di antara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rabb (ربّ) dalam kalimat Rabbul-‘aalamiin (ربّ العالمين) tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah (التربية) yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini.

Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat.

Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al-Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin/إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين (hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

Ayat Ketiga: Maha Kasih Tuhan Tiada Batasnya

الرّحمن الرّحيم

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Kata ar-Rahman dan ar-Rahim dalam ayat ketiga ini tidak dapat dianggap sebagai pengulangan sebagian ayat pertama (Basamalah). Akan tetapi ar-Rahman dan ar-Rahim mempunya makna tersendiri yang terkandung didalamnya. Sebelum membahas lebih lanjut tentang ayat ini, kita bahas terlebih dahulu ayat ini dalam segi kedudukan kalimatnya.

Kata ar-Rahman, merupakan majrur dari kata Allahi pada ayat ke-2, begitu juga kata ar-Rahimi kedudukannya sama seperti ar-rahmani menjadi majrur. Kata ar-Rahman dan ar-Rahim dalam ayat yang ke-3 ini memiliki makna yang berbeda dari ar-Rahman dan ar-Rahim pada kalimat Basmalah. Namun pada ayat ini memiliki kandungan makna tersendiri yaitu bahwa pendidikan dan pemeliharaan Allah sebagaimana disebutkan pada ayat kedua, sama sekali bukan untuk kepentingan Allah atau suatu pamrih, seperti halnya seseorang atau perusahaan yang menyekolahkan karyawannya. Pendidikan dan pemeliharaan tersebut semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Tuhan yang dicurahkan kepada makhluk-makhluk-Nya.

Banyak ulama berpendapat bahwa kata ar-Rahman dan ar-Rahim, keduanya terambil dari akar kata yang sama yaitu Rahmat, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa ar-Rahman tidak berakar kata, dan karena itu pula orang-orang musyrik tidak mengenal siapa ar-Rahman. Ini terbukti dengan membaca firman-Nya: “Apabila diperintahkan kepada mereka, sujudlah kepada ar-Rahman, mereka berkata, ‘siapakah ar-Rahman itu? Apakah kami bersujud kepada sesuatu yang engkau perintahkan kepada kami? ‘perintah ini menambah mereka enggan/menjauhkan diri dari keimanan” (QS. Al-Furqan [25]: 60).

Menurut para Ulama ini melanjutkan pendapatnya bahwa kata ar-Rahman, pada hakekatnya terambil dari bahasa Ibrani (رخمان) rakhman (dengan titik di atas huruf [ح] ha), dan karena itu, kata tersebut dalam basmalah dan dalam surah al-Fatihah disusul dengan kata ar-Rahman untuk memperjelas maknanya. Tetapi al-Qurthubi yang mengutip pendapat ini tidak mengemukakan satu dan alasan apapun. Kalaupun dalam kata bahasa Ibrani demikian, maka tidak mustahil ia terambil dari bahasa Arab, karena bahasa Arab lebih tua dari bahasa Ibrani. Demikian komentar Thahir ibn Asyur.

Demikian sedikit penjelasan dan tafsir Al-Fatihah, khususnya ayat 2-3. Semoga tafsir Al-Fatihah: 2-3 ini bermanfaat untuk kita semua. (Abdul Halim, Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Institut Daarul Qur’an, Jakarta).

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...