Menguak Makna kata “Sijjin” dan “Illiyyin” dalam Al-Quran

0

Harakah.id Allah menggambarkan kata sijjin sebagai tempat yang mengerikan dan menakutkan. Bagaimana tidak, ia bagaikan penjara yang abadi, azab yang sangat pedih. Di antara para ulama ada yang mengatakan bahwa sijjin ialah tempat yang terletak di bawah perut bumi lapis ketujuh.

Dalam QS Al-Mutaffifin, Allah dengan keras memurkai perbuatan curang dan melarang penipuan. Semua perbuatan manusia terekam rapi dalam catatan amalan masing-masing, baik buruk ataupun baik. Mereka yang beramal baik akan mendapatkan Illiyin. Mereka yang beramal buruk, akan ditempatkan di Sijjin.

Di sini, Al-Quran menyebut kata “sijjin” dan “iliyyin.” Ada beberapa pendapat mengenai makna dari kata tersebut. Kata sijin bermakna ad-dhayyiqu, yang berarti sempit. Kemudian menjadi sijjin yang bermakna sangat sempit QS 83 : 7.

Pendapat terkait sijjin sebagian ada yang mengatakan bahwasanya ialah tempat yang berada pada lapisan bumi yang paling bawah (lapisan ketujuh). Kemudian ada yang berpendapat makna sijjin merupakan sebuah batu besar dan keras berwarna hijau yang berada dalam lapisan paling bawah.

Menurut Ibnu Katsir, Allah menggambarkan kata sijjin sebagai tempat yang mengerikan dan menakutkan. Bagaimana tidak, ia bagaikan penjara yang abadi, azab yang sangat pedih. Di antara para ulama ada yang mengatakan bahwa sijjin ialah tempat yang terletak di bawah perut bumi lapis ketujuh.

Hadis al-Barra ibnu Azib dalam hadis yang cukup panjang, bahwasannya Allah berfirman berkenaan dengan roh orang kafir kepada malaikat-malaikat pencatat amal perbuatan, “Simpanlah kitab catatan amal perbuatannya ke dalam sijjin”.

Menurut pendapat yang lainnya adalah nama sebuah sumur yang terletak dalam neraka Jahannam. Meningat bahwasanya neraka jahannam merupakan lapisan yang paling dasar.

Kebalikan dari orang-orang yang buruk, illiyyin ialah al-abrar orang-orang yang baik yang memiliki catatan yang tersimpan dalam tempat mulia bernama “illiyyin.” Kata illiyyin berasal dari al-’ulwu yang memiliki makna tinggi. Segala sesuatu yang semakin tinggi otomatis akan menjadi sangat luas. Ali bin abi thalib berkata : Dari Ibnu Abbas mengenai makna illiyin dalam QS 83 : 18 memiliki makna syurga.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna firman-Nya Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu tersimpan dalam illiyyin (QS 83:19) yaitu maksudnya di dalam syurga. Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas, bahwasanya catatan amal perbuatan mereka itu berada di langit di sisi Allah SWT.

Catatan yang dituliskan sangatlah detail, tidak ada satupun yang terlewatkan. Catatan yang dimuliakan ini juga disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan kepada Allah SWT. Dan kelak di hari akhir sang pemilik catatan akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang sangat luar biasa.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dibawah letaknya lebih sempit dibandingkan yang berada di atas. Sebagaimana langit yang mempunyai tujuh tingkatan. Langit yang paling kecil ialah langit yang paling dekat dengan bumi as-samaa ad-Dunya (langit terdekat). Semakin ke atas semakin luas dan yang paling luas adalah langit ke tujuh yang berada di bawah ‘Arsy.

Orang-orang ini kelak di hari kiamat memiliki nikmat yang abadi dan syurga yang berada di dalamnya terdapat karunia yang berlimpah. Dimana mereka memandangi kerajaan mereka dengan segala sesuatu yang diberikan Allah SWT kepada mereka berupa kebaikan, kenikmatan dan karunia yang tidak akan pernah habis dan rusak untuk selamanya.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa perihal orang-orang yang berbakti, mereka diperbolehkan melihat kepada Allah SWT, sedangkan mereka berada di atasi dipan-dipan dan hamparan-hamparannya. Wajah mereka tampak berseri-seri, sangat cerah, dan riang gembira karena telah mendapatkan kenikmatan besar yang selalu menggelimangi kehidupan mereka.

Dari sini, semua kembali kepada diri kita. Apakah kita akan masuk ke Sijjin atau Illiyyin. Semoga kita semua dijauhkan dari sijjin, tempat yang sangat mengerikan

Artikel kiriman dari Maula Sari, Mahasiswa Pascasarjana Studi Quran dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.