Beranda Keislaman Hadis Menguak Misteri Nama Abul Qasim Abdullah bin Muhammad al-Naisaburi Guru Imam al-Sulami

Menguak Misteri Nama Abul Qasim Abdullah bin Muhammad al-Naisaburi Guru Imam al-Sulami

Harakah.id Dari segi kesesuaian nama, Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad bin Isa, yang wafat tahun 391 H. lebih kuat dibanding Abdullah bin Muhammad cucu al-Dauraqi yang wafat tahun 366 H.

Guru Imam al-Sulami. Penulis mendapat sebuah sanad hadis. Hadis itu berasal dari Abu Abdurrahman al-Sulami, dari Abu al-Qasim Abdullah bin Muhammad al-Naisaburi, dari Ali bin Musa al-Basri, dari Ibnu Juraij, dari Musa bin Wirdan, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah.

Penulis sudah menelusuri profil Abu Abdurrahman al-Sulami (w. 412 H.). Beliau seorang ulama besar, ahli hadis sekaligus tasawuf. Berdasarkan sanad di atas, beliau pernah mendapat hadis dari gurunya yang bernama Abu al-Qasim Abdullah bin Muhammad al-Naisaburi. Siapakah Abu al-Qasim guru Imam al-Sulami? Apakah guru Imam al-Sulami tersebut orang yang tsiqah/terpercaya?

Saya telah mencari dalam beberapa kitab biografi para perawi. Saya menemukan bahwa terdapat beberapa orang yang bernama identik yang relevan dengan tahun hidup Abu Abdurrahman al-Sulami. Hanya saja, terdapat beberapa orang yang bernama Abu al-Qasim Abdullah bin Muhammad. Imam al-Dzahabi mencatat dalam kitab Tarikh al-Islam dua nama tersebut. Mereka adalah:

  1. Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad, Abu al-Qasim al-Naisaburi al-Simmidzi (w. 391 H.). Ia adalah murid Ibnu al-Syaraqi dan Muhammad bin Hamdun. Imam al-Hakim –penulis kitab “al-Mustadrak” pernah berguru kepada Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad al-Naisaburi ini.
  2. Abdullah bin Muhammad bin Abdullah, Abu al-Qasim al-Naisaburi al-Muthawwa’i (w. 394 H.). Ia adalah murid Ja’far al-Khuldi dan Abdullah bin Adi al-Hafizh. Ia wafat pada Jumadil Akhir tahun 394 H.

Sedangkan Syekh Abu Thayib Nayif Shalah bin Ali al-Manshuri dalam kitab al-Raudh al-Basim fi Tarajim Syuyukh al-Hakim menyebutkan beberapa orang yang bernama Abdullah bin Muhammad Abu al-Qasim al-Naisaburi. Kitab Raudh al-Basim adalah kitab yang menghimpun daftar guru Imam al-Hakim al-Naisaburi, pengarang kitab al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain. Di antara mereka yang bernama Abdullah bin Muhammad Abu al-Qasim al-Naisaburi adalah sebagai berikut:

  1. Abdullah bin Muhammad bin ‘Isham, Abu al-Qasim al-Naisaburi al-Hiri al-Rikhi (w. 338 H.). Ia pernah berguru kepada Abu Abdillah al-Busyanji dan ulama-ulama seangkatannya. Imam al-Hakim pernah berguru kepada Abdullah bin Muhammad ini. Disebutkan bahwa ia adalah orang yang saleh. Syekh Abu Thayib Nayif Shalah bin Ali al-Manshuri dalam kitab al-Raudh al-Basim fi Tarajim Syuyukh al-Hakim menyebutnya shaduq shalih.
  2. Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad bin ‘Isa, Abu al-Qasim al-Simmidzi al-Naisaburi. Ia berguru kepada Abu Ahmad ibn al-Syarqi (w. 325 H.), Abu Bakr Muhammad bin Hamdun bin Khalid (w. 320 H.) dan ulama-ulama seangkatan mereka. Imam al-Hakim berguru kepada Abu al-Qasim ini. Beliau wafat pada tahun 391 H. di daerah Nahrawan saat hendak berangkat haji ke Mekah. Biografinya sering tercampur dengan Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Ziyad Abu Muhammad al-Simidzi, cucu al-Dauraqi yang juga perawi kitab “Musnad Ibnu Rahawaih”. Ini perlu diperhatikan. Menurut Syekh Abu Tayib Nayif al-Manshuri, beliau tergolong orang yang tsiqah lagi banyak meriwayatkan hadis (tsiqah muktsir). Ia meriwayatkan riwayat jenis “al-Fawa’id”, yaitu hadis-hadis yang hanya dimiliki oleh seorang syaikh serta tidak dimiliki oleh selain syaikh tersebut. Di sini, bisa dipahami bahwa Abu al-Qasim meriwayatkan hadis-hadis langka sehingga para muhaditsin senang terhadap hadis-hadisnya. Ini merupakan bukti usaha kerasnya dalam mempelajari hadis, thalabul hadis, dan memahaminya. Hampir tidak ada kritik yang dialamatkan kepada Abu al-Qasim al-Naisaburi ini. Hal ini menunjukkan ke-tsiqah-nya. Imam al-Hakim adalah satu-satunya ulama yang menilainya tsiqah.
  3. Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Ziyad, Abu Muhammad Ibnu Binti Ahmad bin Ibrahim al-Dauraqi, ibnu binti Nashr bin Ziyad, al-‘Adl, al-Simmidzi al-Naisaburi; perawi Musnad Ibnu Rahawaih. Ia berguru kepada Abdullah bin Syiriwaih, Musaddad bin Quthn, Abu al-Abbas al-Sarraj, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaiman, kakeknya dari pihak ibu Syekh Ahmad bin Ibrahim al-Dauraqi, Ahmad bin Muhammad bin Yahya al-Hafizh, Muhammad bin Hamdun bin Khalid, Muhammad bin Ya’qub al-Umawi, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman al-Qurashi, Ahmad bin al-Hasan al-Shufi al-Harrani, al-Haitsam bin Khalaf al-Duri, al-Mufaddhal bin Ahmad bin Jundi, Abu Ali al-Marwazi dan lainnya.

Di antara muridnya adalah Abu Abdillah al-Hakim, penulis Mustadrak. Imam al-Hakim menilainya sebagai orang yang adil. Di antara muridnya lagi adalah Abu Abdurrahman al-Sulami, Abu Sa’d Abdurrahman bin Hamdan al-Nashrawi, Abu Ya’la a-Khalili, Abu Thayib Sahl bin Muhammad bin Sulaiman.

Imam al-Hakim dalam kitab Tarikh-nya menulis; Abdullah bin Muhammad al-Naisaburi adalah salah satu ahli ibadah, ahli ijtihad, muhsinin yang tidak terkenal, ia senang bergaul dengan komunitas zahid dan sholeh. Ia meninggal pada 5 Dzulqa’dah 366 H. al-Khalili berkata, “Dia adalah orang yang tsiqah dan diridhai.” Syekh Abu Tayib Nayif –penulis al-Raudh al-Basim, mengatakan bahwa ia perawi derajat shaduq dan ahli ijtihad. Penilaian tsiqah al-Khalili sebelumnya adalah didasarkan kepada kesalehan beliau.  (Al-Raudh al-Basim, jilid 1, hlm. 628).

Sampai di sini, Abdullah bin Muhammad Abu al-Qasim al-Naisaburi yang kemungkinan besar merupakan guru Abu Abdurrahman al-Sulami (w. 412 H.) adalah:

  1. Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad bin ‘Isa, Abu al-Qasim al-Simmidzi al-Naisaburi (w. 391 H.)
  2. Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Ziyad, Abu Muhammad Ibnu Binti Ahmad bin Ibrahim al-Dauraqi, ibnu binti Nashr bin Ziyad, al-‘Adl, al-Simmidzi al-Naisaburi (w. 366 H.).

Dari segi kesesuaian nama, Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad bin Isa, yang wafat tahun 391 H. lebih kuat dibanding Abdullah bin Muhammad cucu al-Dauraqi yang wafat tahun 366 H. Hal ini karena dilihat dari segi nama kunyah yang sesuai dengan yang disebutkan oleh Abu Abdurrahman al-Sulami dalam sanad milik al-Hakkari (w. 486 H.).

Sayangnya, daftar nama muridnya tidak ada yang menyebut Abu Abdurrahman al-Sulami. Justru Abdullah bin Muhammad cucu al-Dauraqi yang tercatat memiliki murid bernama Abu Abdurrahman al-Sulami. Dari segi kecocokan nama murid, nama Abdullah bin Muhammad cucu al-Dauraqi lebih kuat.

Berdasarkan asumsi bahwa Abdullah bin Muhammad Abu al-Qasim al-Naisaburi adalah ulama yang wafat pada tahun 391 H., berarti guru Imam al-Sulami adalah orang yang tsiqah. Sesuai penilaian al-Hakim al-Naisaburi dan Abu Thayib Nayif. Hanya saja, beliau memang memiliki koleksi “al-fawa’id”; hadis-hadis yang hanya dimiliki oleh seorang syaikh tertentu saja.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...