Menjamu Tamu Atau Shalat Berjamaah di Masjid, Mana Yang Didahulukan?

0

Harakah.id Lebih baik didahulukan menyambut, menyaji dan menghormati sang tamu. Ini termasuk akhlak yang baik. Seseorang memang akan kehilangan pahala shalat berjamaah, tetapi dia akan mendapat pahala lain yang tidak kalah besarnya dalam Islam.

Menghormati tamu adalah tuntunan para nabi. Nabi Ibrahim alaihis salam dikenal sebagai nabi yang memulai tradisi menghormati tamu ini. Nabi-nabi setelahnya meneruskan akhlak yang mulia ini.

Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menghormati dan memuliakan tamu. Dalam salah satu sabdanya, beliau berkata,

 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآْخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ خَيْرَ فِيمَنْ لاَ يُضِيفُ

Tak ada kebaikan dalam diri orang yang tak mau menjamu tamunya. (HR Ahmad).

Dalam Islam, menghormati tamu disebut Al-Dhiyafah. Mayoritas ulama menilai hukumnya sunnah.

وَقَدْ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الضِّيَافَةَ سُنَّةٌ، وَمُدَّتُهَا ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ.

Para ulama kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa memuliakan tamu adalah sunnah.

Lamanya adalah selama tiga hari. Pendapat ini juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, 28/316)

Riwayat lain dari Imam Ahmad menyatakan bahwa menjamu untuk memuliakan tamu adalah wajib.

Ini merupakan pendapat yang kuat dalam mazhab Hanbali. Imam Malik menghukumi wajib menjamu tamu ketika sang tamu dalam kondisi sangat membutuhkan.

Demikian penjelasan singkat tentang hukum menghormati, memuliakan dan menjamu tamu dalam fiqh Islam sebagaimana dirangkum dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah.

Tetapi bagaimana jika sang tamu datang pada waktu ketika akan ditunaikannya shalat berjamaah di masjid? Mana yang harus didahulukan?

Melihat hukum menyambut tamu seperti yang telah dikemukakan, sebenarnya baik menyambut tamu maupun shalat berjamaah merupakan perkara yang sama-sama disunnahkan.  

Alias tidak wajib. Artinya, ketika tidak dilaksanakan seseorang tidak berdosa. Tetapi, tetapi lebih baik dilaksanakan.

Sebenarnya kondisi ini tidak perlu dipertentangkan. Seandainya kondisi longgar, tuan rumah dapat saja mengajak tamunya untuk ikut berjamaah di masjid terlebih dahulu.

Atau hendaknya ketika akan bertamu seseorang memastikan terlebih dahulu kebiasaan tuan rumah sehingga dia tidak datang pada waktu yang kurang tepat.

Namun demikian, jika sang tamu adalah orang yang sangat jarang berkunjung dan waktunya sangat terbatas sehingga jika ditinggal berjamaah maka sang tamu akan segera pergi, maka lebih baik didahulukan menyambut, menyaji dan menghormati sang tamu.

Ini termasuk akhlak yang baik. Seseorang memang akan kehilangan pahala shalat berjamaah, tetapi dia akan mendapat pahala lain yang tidak kalah besarnya dalam Islam.

Sikap seperti ini merupakan sikap yang juga dilakukan oleh para ulama pada zaman dahulu, seperti yang dijelaskan dalam kitab Tadzkirun Nas:

وقال سيدي رضي الله عنه لبعض زائريه من السادة العلويين إذا جاءني أحد ممّن أحبّه أترك أورادي وأجلس معه. وكان بعض السلف وهو السيد علوي بن عبد الله العيدروس صاحب ثبي يقول: الأوراد تقضى ومجالسة الإخوان لا تقضى

Junjunganku berkata pada sebagian orang yang mengunjunginya dari golongan Alawiyyin: “ketika datang padaku salah satu dari orang yang aku cintai, maka aku tinggalkan wiridanku dan aku akan menemani duduk bersamanya”.

Sebagian Salafus Shalih yaitu Sayyid Alawi bin Abdullah Al-‘Idrus berkata: “Wiridan (dzikir) dapat di-qadha, sedangkan duduk bercengkrama dengan teman-teman tidak dapat di-qadha.” (Sayyid Ahmad bin Hasan bin Abdullah Al-‘Attas, Tadzkir an-Nas, hal. 117)

Inilah sikap para ulama terdahulu ketika mendapatkan kunjungan tamu. Mereka mendahulukan menghormati dan menjamu para tamunya dibandingkan melaksanakan kesunnahan lainnya.

Kesunnahan menghormati tamu tidak kalah besar dibanding kesunnahan lainnya. Demikian penjelasan singkat tentang keutamaan mendahulukan tamu daripada shalat berjamaah.