Menolak Asumsi Misoginis dalam Memahami Hadis Perempuan Jadi Penyebab Batalnya Salat

0
58

Harakah.idSedangkan Aisyah dan para ulama sesudahnya yang mengikuti pendapat Aisyah berargumentasi bahwa wanita bukanlah termasuk faktor yang menyebabkan terputusnya shalat seorang laki-laki.

Hadis merupakan riwayat yang bertujuan untuk mengutip Nabi dalam segala hal baik dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan. Misoginis mempunyai makna membenci atau merendahkan perempuan.

Dalam beberapa tafsir hadis misogini, perempuan merupakan objek limpahan keputusan bagi laki-laki, dan mereka hanya dianggap sebagai pelengkap bagi kekurangan laki-laki, hal itu berdampak dalam beberapa aspek, seperti kontribusi, hak dan kewajiban suami terhadap perempuan. Keberadaan perempuan sering diragukan perannya dalam kemajuan atau perubahan, seperti hal pendidikan, sehingga pendidikan bagi perempuan dalam pandangan beberapa kalangan kuranglah penting, karena mereka dianggap lemah dalam sisi kognitif, dan cenderung menggunakan perasaan.

Istilah misogini (mysogyny) secara etimologi berasal dari kata misogynia (Yunani) yaitu miso (benci) dan gyne (perempuan) yang berarti a hatred of women, yang berkembang menjadi Misoginisme (mysogynism), yang bermakna suatu ideologi yang membenci perempuan. Selain itu istilah misogini dianalogikan berasal dari istilah yang berasal dari bahasa Inggris misogyny yang mempunyai arti yang sama yakni kebencian terhadap perempuan.

Kamus Ilmiah Populer menyebutkan, terdapat tiga ungkapan berkaitan dengan istilah tersebut, yaitu misogin artinya benci akan perempuan, misogini artinya perasaan benci akan perempuan, misoginis artinya laki-laki yang benci pada perempuan. Secara terminologi istilah misoginis digunakan untuk doktrin-doktrin sebuah aliran pemikiran yang secara zahir memojokkan dan merendahkan derajat perempuan. Anggapan adanya unsur misoginis dalam hadis dipopulerkan oleh seorang aktivis perempuan Fatima Mernissi melalui bukunya ”Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry”. (Khozin, 2018)

Teori Feminisme Liberal. Teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena itu perempuan harus mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Meskipun demikian, kelompok feminis liberal menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan.

Dalam beberapa hal masih tetap ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun juga, fungsi organ reproduksi bagi perempuan membawa konsekuensi logis dalam kehidupan bermasyarakat. Teori kelompok ini termasuk paling moderat di antara teori-teori feminisme. Pengikut teori ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian, tidak ada lagi suatu kelompok jenis kelamin yang lebih dominan. Organ reproduksi bukan merupakan penghalang bagi perempuan untuk memasuki peran-peran di sektor publik.

Teori-teori di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa Hadis misoginis adalah Hadis yang mendiskreditkan perempuan dalam penafsirannya, sehingga hak-hak perempuan dan laki-laki tampak timpang dalam peran dan kontribusinya dalam permasalahan sehari-hari, maka melihat dari beberapa aspek, mereinterpretasikan Hadis misoginis sangatlah penting untuk merekonstruksi pemahaman para perempuan yang sebagai objek Hadis misoginis, dan pemahaman laki-laki sebagai kaum yang lebih diuntungkan dengan keadaan tersebut. (Elviandri, 2019)

Kemudian terdapat salah satu contoh hadis misoginis bahwa seorang perempuan sebagai penyebab batalnya salat, hadis nomor 511 dalam jalur periwayatan Imam Muslim. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW bersabda:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ وَيَقِي ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Yang memutuskan shalat ialah wanita, keledai, dan anjing. Untuk menjaga shalatmu (dengan meletakkan sutrah berupa) seperti kayu yang diletakkan diatas punggung unta”. (HR. Muslim)

Secara teks, hadis ini mengatakan bahwa terdapat tiga hal yang dapat memutuskan atau membatalkan shalat yaitu anjing, keledai, dan Wanita. Imam Nawawi menjelaskan dalam “al-Minhaj Syarh Shahih Muslim” bahwa para ulama berbeda pendapat terkait putusnya shalat diantaranya, pendapat menurut Imam Ahmad bin Hanbal yang dapat memutuskan shalat hanya anjing saja karena hukum ini telah dijelaskan secara jelas dalam banyak hadis dan yang dimaksud anjing disini adalah anjing hitam atau dimaknai dengan setan.

Sementara itu, pernyataan terputusnya shalat karena dua hal lainnya Imam Ahmad bin Hanbal masih meragukannya terutama persoalan perempuan. Hal ini disebabkan karena adanya bantahan seperti dalam riwayat Sayyidah Aisyah r.a (Nawawi, 2013) yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ

Dari Aisyah (dalam jalur lain disebutkan) Al A’masy berkata, telah menceritakan kepadaku Muslim, dari Masruq, dari Aisyah, bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat: anjing, keledai dan wanita. Maka ia pun berkata, “Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sedangkan aku berbaring di atas tikar antara beliau dan arah kiblatnya. Sehingga ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau”. (HR. Bukhari)

Kritik yang dilontarkan oleh Aisyah di atas mengindikasikan bahwa sejak semula hadis tentang perempuan dapat memutuskan shalat ini memang bermasalah, terutama dalam aspek muatan isi atau matannya. Sehingga tidak aneh bila kemudian di kalangan para ulama terdapat perbedaan interpretasi dan kesimpulan.

Nawawi melanjutkan, mayoritas ulama memandang bahwa melintasnya salah satu dari tiga faktor, yakni perempuan, keledai dan anjing tidak mem batalkan salat. Di antara para ulama yang berpendapat demikian adalah Malik, Abu Hanifah, Syafi’i, dan mayoritas ulama dari kalangan salaf (terda hulu) dan khalaf (belakangan). Mereka menginterpretasikan lafadz يَقْطَعُ (terputus) dengan berkurangnya kualitas salat karena hati disibukkan dengan salah satu ketiga hal tersebut. Lafadz يَقْطَعُ tidak berarti membatalkan shalat. Adapun Ahmad ibn Hanbal berpendapat sedikit berbeda. Ia mengatakan bahwa anjing hitam dapat membatalkan (يَقْطَعُ) shalat. Sedangkan perempuan dan keledai dapat mengganggu kekhusyukan.  (Al-Nawawi, 1997).

Sedangkan Aisyah dan para ulama sesudahnya yang mengikuti pendapat Aisyah berargumentasi bahwa wanita bukanlah termasuk faktor yang menyebabkan terputusnya shalat seorang laki-laki. Oleh karenanya, diperbolehkan mengerjakan shalat meskipun ada wanita lewat di depannya. (Al-Nawawi, 1997)

Artikel kiriman dari Syania Alawiyah, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Jakarta