Beranda Keislaman Tafsir Menyelami Keindahan Bahasa Surat Al-Fatihah dan Kedalaman Maknanya

Menyelami Keindahan Bahasa Surat Al-Fatihah dan Kedalaman Maknanya

Harakah.id Jika kita perhatikan, surat Al-Fatihah sendiri memiliki suatu keunikan dibalik arti dan maknanya serta gaya bahasa yang digunakan.

Jika kita perhatikan, surat Al-Fatihah sendiri memiliki suatu keunikan dibalik arti dan maknanya serta gaya bahasa yang digunakan. Dan salah satu keunikan yang tampak dan terlihat adalah ketika Allah SWT memuji diri-Nya. Apabila kita perhatikan, mulai Q.s. al-Fatihah. ayat 2-4, Allah menggunakan gaya bahasa ghaib dengan memakai kata ganti orang ketiga, seolah yang dipuji bukan diri-Nya, tetapi yang lain.

Padahal, Allah sedang memuji diri-Nya. Ini merupakan adab yang luar biasa. Tetapi, ketika berbicara tentang menyembah, meminta pertolongan dan berdoa kepada-Nya, Allah SWT menggunakan gaya bahasa Mukhathab [orang kedua]. Lihatlah: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus..” (Q.s. al-Fatihah: 5-6)

Allah juga mendahulukan, “Iyyaka Na’budu” (Hanya Engkaulah yang kami sembah), ketimbang, “Iyyaka Nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan), juga merupakan adab yang luar biasa. Allah hendak mengajarkan, “Berikanlah dulu hak yang lain, baru Engkau meminta”.

Menyembah adalah kewajiban hamba kepada-Nya, sekaligus hak-Nya dari hamba, sedangkan memberikan pertolongan adalah “kewajiban” Allah kepada hamba-Nya, sekaligus haknya dari Allah.

Setelah memuji-Nya dan memberikan apa yang menjadi kewajibannya kepada-Nya, barulah kita meminta kepada-Nya, “Ihdina as-Shiratha al-Mustaqim” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Ini juga merupakan adab dan tata cara berdoa kepada-Nya. Tidak langsung meminta-Nya tanpa mengambil hatinya terlebih dahulu.

Kedua, Q.s. al-Fatihah: 1-7 juga bisa dibagi menjadi dua:

Pertama, dari ayat 1-4 berupa ilmu nalar. Ilmu tentang apa dan siapa? Ilmu tentang Allah SWT. Coba perhatikan: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (Q.s. al-Fatihah: 1-4)

Kedua, dari ayat 5-7 berupa tindakan (aksi). Coba perhatikan:  “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.s. al-Fatihah: 5-7). Dengan demikian, melalui Q.s. al-Fatihah ini, Allah hendak mengajarkan kepada kita tentang pentingnya ilmu. Mendahulukan ilmu nalar sebelum bertindak. Maka, kita tidak boleh mengambil tindakan, tanpa didasari ilmu nalar.

Karena itu, Allah mengecam orang-orang Yahudi dan Nashrani, dengan predikat, “Ghairi al-Maghdhubi ‘Alaihim” (bukan orang-orang yang Engkau murkai). Siapa mereka, yaitu orang-orang yang sebenarnya sudah tahu (mempunyai ilmu/nalar), tetapi tidak menggunakan ilmu dan nalarnya, sehingga sengaja melakukan kesalahan dan kekufuran.

Orang Yahudi dan Nashrani jelas telah mendapatkan pengetahuan tentang Nabi Muhammad dan syariatnya dalam kitab suci mereka, tetapi mereka mengingkarinya. Bukan karena mereka tidak tahu, tetapi karena pengetahuan yang mereka miliki tidak mereka pergunakan. Dan karena sebab itulah akhirnya, mereka melakukan kesalahan dan kekufuran. Karena itu, Allah murkai mereka.

Terdapat juga salah satu keunikan lagi dibalik arti dan makna serta penggunaan gaya bahasa pada surat Al-Fatihah. Salah satunya adalah pada bagian kala Allah mengecam orang-orang Musyrik, dengan predikat, “Wa la ad-dhallin” (bukan pula golongan orang-orang yang tersesat). Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang Musyrik, Arab Jahiliyah, yang tidak mempunyai pengetahuan tentang kebenaran, dan bersikukuh dengan kebodohan mereka. Karena itu, mereka juga dimurkai oleh Allah SWT.

Karena itu, bisa disimpulkan, jika manusia mempunyai ilmu tentang Allah, dan menggunakan ilmu untuk menemukan kebenaran (al-Haq), maka pasti akan ketemu. Dia akan menemukan, “Shiratha al-Mustaqim” (jalan yang lurus), yaitu Islam. Tetapi, jika dia tidak menggunakan ilmu, maka yang dia temukan adalah jalan “al-Maghdhubi ‘Alaihim wa la ad-Dhallin” (orang yang dimurkai dan tersesat).

Ketiga, dari aspek bahasa, struktur kalimat Q.s. al-Fatihah ini juga bisa dipilah menjadi dua:

Pertama, jumlah ismiyyah (kalimat nominal). Kedua, jumlah fi’liyah (kalimat verbal). Coba perhatian, ayat 2-4, semuanya berbentuk jumlah ismiyyah (kalimat nominal). Sedangkan ayat 5-7, semuanya berbentuk jumlah fi’liyah (kalimat verbal). Apa rahasianya?

Dalam kajian ilmu Balaghah, khususnya Ma’ani, kalimat dengan struktur Jumlah Ismiyyah mempunyai konotasi permanen, tidak berubah, seiring dengan waktu dan tempat, karena bersifat fiks. Coba perhatikan:  “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (Q.s. al-Fatihah: 1-4)

Konotasi kalimat di dalam ayat-ayat ini, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan.” bersifat permanen, tidak berubah, seiring dengan waktu dan tempat, karena bersifat fiks.

Ini berbeda dengan struktur Jumlah Fi’liyyah, yang mempunyai konotasi temporer, bisa berubah, seiring dengan waktu dan tempat, karena tidak bersifat fiks. Sekarang perhatikan:  “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.s. al-Fatihah: 5-7)

Konotasi kalimat di dalam ayat-ayat ini, “Hanya Engkaulah yang kami sembah.”, “Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” bersifat temporer, bisa berubah, seiring dengan waktu dan tempat, karena tidak bersifat fiks.

Keempat, tentang keseimbangan (tawazun).  Pertama, keseimbangan antara ilmu dengan tindakan (bain al-‘ilmi wa al-‘amal). Kedua, keseimbangan antara isim dan fi’il (tawazun bain al-ismi wa al-fi’l). Ketiga, keseimbangan antara harapan dan tanggungjawab (tawazun bain al-amal wa al-mas’uliyyah). Keempat, keseimbangan antara kewajiban beribadah dan meminta pertolongan (tawazun bain al-ibadah wa al-isti’anah). Kelima, keseimbangan antara ilmu dan amal dengan diperolehnya petunjuk jalan yang lurus, di satu sisi. Di sisi lain, ketika ilmu tidak digunakan dalam amal, atau amal tanpa ilmu, maka akan mendapati jalan orang-orang yang dimurkai, dan jalan orang-orang yang tersesat.

Begitulah indahnya Q.s. al-Fatihah, dan begitulah dahsyat makna surat tersebut. Bukti, bahwa al-Qur’an ini bukanlah susunan manusia biasa, tetapi merupakan mukjizat luar biasa, yang diturunkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya.  Salah satu rujukan kitab tafsir yang muffasirnya konsen pada aspek Bahasa di sini adalah kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid karya ‘Abd al-Rauf al-Fanshuri. (Siti Juleha, Mahasiswi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut Daarul Qur’an, Jakarta)

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...