Sejarah Paganisme di Mekkah Sebelum Nabi Datang, Mereka yang Menyembah Berhala di Sekitar Ka’bah

0
1589
Sejarah Paganisme di Mekkah Sebelum Nabi Datang, Mereka yang Menyembah Berhala di Sekitar Ka'bah

Harakah.idSejarah paganisme di Mekkah bisa dilihat dari puluhan patung berhala di sekitar Ka’bah berdiri tegak ribuan tahun lalu. Mekkah sebelum kedatangan Nabi dan Islam adalah kota pagan yang masyarakatnya menyembah berhala. Sampai Nabi lahir, patung-patung sembahan bangsa Quraisy masih tegak berdiri di sekitar Ka’bah.

Makkah (yang di dalamnya terdapat Ka’bah) adalah tempat yang dibangun oleh Nabi Ibrahim beserta anaknya Nabi Ismail untuk menghidupkan agama hanif. Disanalah Nabi Ibrahim menempatkan istrinya Siti Hajar dengan Nabi Ismail yang masih bayi. Sebelum meninggalkan keduanya, Nabi Ibrahim berdoa seperti yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Q.S. Ibrahim [14]: 37)

Baca Juga: Lebih Dekat Kota Riyadh, Ibukota Kerajaan Arab Saudi Modern

Doa Nabi Ibrahim tersebut akhirnya terkabul. Allah Swt. memberikan keberkahan pada keturunan keduanya (Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail). Setelah itu, keluarga Nabi Ibrahim yang berbangsa Arab semakin meluas (Nabi Ibrahim awalnya berasal dari Palestina), karena putranya Nabi Ismail telah menjalin pernikahan dengan perempuan Kabilah Jurhum.

Dari pernikahannya tersebut, Nabi Ismail dianugerahi seorang anak laki-laki yang diberi nama Adnan. Nasab Adnan saling menyambung sehingga menjadi nasab bangsa Arab yang paling sahih, paling terjaga dan paling dinamis. Adnan kemudian mempunyai banyak anak, namun yang paling terkenal ialah Ma’idd. Dari anak Ma’idd yang bernama Nizar lahirlah Mudhar. Sedangkan dari anak-cucu Mudhar lahirlah Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyas, bin Mudhar. Di sinilah dimulai fase pertama dalam sejarag paganisme di Mekkah.

Seperti yang diriwayatkan Syekh Ja’far Barzanji, Fihr inilah yang pada akhirnya dinisbatkan nama Quraisy, sehingga suku ini kemudian dikenal dengan suku Quraisy. Seluruh penduduk Arab mengakui ketinggian nasab, kepemimpinan, kefasihan bahasa dan kemurniannya, kemuliaan akhlak, keberanian, dan kehormatan yang dimiliki oleh suku Quraisy. Ia dianggap sebagai simbol yang tidak perlu diuji dan diperdebatkan.

Para keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di atas mewarisi agama dan cara hidup yang diwariskan ayah mereka. Hal tersebut berupa pengesaan Allah, penyembahan-nya, pelaksanaan aturan-nya, penyucian-nya, dan pemuliaan-nya. Salah satu ajaran yang paling menonjol adalah pengagungan dan penyucian Baitul Haram. Termasuk di dalamnya penghormatan terhadap simbol-simbolnya, pembekalan, pelayanan, dan pemeliharaannya.

Setelah abad-abad berlalu, mulailah mereka mencampuradukkan kebenaran yang mereka warisi itu dengan kebatilan. Seperti itulah keadaan semua umat dan bangsa setelah didominasi kebodohan dalam waktu yang lama serta disusupi bisikan para tukang sihir dan penghayal. Akibatnya keyakinan yang selama ini benar disusupi syirik, bahkan mereka menjadikan patung sebagai sesembahan.

Baca Juga: Sejarah Terbentuknya Kerajaan Arab Saudi Modern

Orang yang pertama kali pengenalkan paganisme kepada bangsa Arab dan mengajak menyembah patung adalah Amr bin Luhaiy bin Qam’ah, leluhur suku Khuza’ah. Hal tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi, dari Abu Shalih AS-Saman bahwa dia mendengar Abu Hurairah bercerita:

Aku mendengar Rasulullah Saw. berkata kepada Aktsam bin Jun al-Khuza’i, “Wahai Aktsam, aku melihat Amr bin Luhay bin Qama’ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mirip denganmu daripada dia.”

Aktsam bertanya, “Apakah kemiripanku dengannya berbahaya bagiku wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, engkau adalah mukmin, sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, lalu memasang berhala, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih binatang untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Amr bin Luhaiy pergi dari Makkah menuju Syam untuk menjalankan urusannya. Setibanya di Ma’ab, daerah al-Balqa’ yang ketika itu dihuni oleh kaum Amalek dimana mereka adalah penyembah patung. Kaum Amalek tersebut merupakan keturunan Amlaq atau Amaliq bin Lawidz bin Sam bin Nuh.

Amr bin Luhaiy pun bertanya kepada mereka, “Apa oatung-patung yang kalian sembah itu?” Mereka menjawab, “Patung-patung itu kami sembah guna meminta hujan sehingga kami diberi hujan; kami meminta kemenangan sehingga kami diberi kemenangan.” 

Amr bertanya lagi, “Maukah kalian memberiku satu diantaranya yang bisa kubawa ke negeri Arab untuk mereka sembah?” Maka, mereka memberinya sebuah patung yang dinamai Hubal. Dia pun membawanya ke Makkah dan memasangnya, lalu menyuruh orang-orang menyembah dan mengagungkannya.

Dari sinilah awal kemunculan dan penyebaran paganisme di Jazirah Arab sehingga politeisme menjadi kepercayaan mereka yang sangat populer. Ini juga fase berikutnya yang menentukan sejarah paganisme di Mekkah di tahun-tahun berikutnya. Mereka telah meninggalkan akidah tauhid yang sebelumnya mereka peluk serta mengganti agama Ibrahim dan Ismail dengan kemusyrikan. Mereka pun menjadi seperti umat-umat yang lain, berakhir pada aneka keyakinan dan perbuatan yang sesat.

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Dir’iyah, Ibu Kota Kerajaan Arab Saudi Pertama

Disebutkan pula bahwa tradisi paganisme di atas berkembang secara bertahan pada suku Quraisy. Pada awalnya masih berupa penghormatan terhadap batu-batu Tanah Haram yang selalu mereka bawa apabila mereka berangkat meninggalkan Makkah. Hal tersebut selain sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah suci juga sebagai media untuk memelihara kenangan terhadapnya.

Namun seiring berjalannya waktu, mereka malah menyembah batu-batu tersebut yang mereka anggap sebagai sesuatu yang menakjubkan. Mereka meninggalkan agama Nabi Ibrahim dan melupakan kewajiban mereka. Namun dalam keadaan demikian, di kalangan suku Quraisy masih menyisakan sisa-sisa peninggalan agama hanif.

Sisa-sisa peninggalan tersebut berupa adat istiadat mereka yang masih memperlihatkan jejak-jejak ajaran Nabi Ibrahim. Namun, ajaran tersebut semakin lama terkikis habis dengan mencemari kemurnian agama hanif dengan kemusyrikan. Contohnya adalah pengagungan Ka’bah serta tawaf mengelilinginya, haji, umrah, wukuf di Arafah, dan kurban. Ajaran tersebut masih tetap berjalan sampai nantinya datang agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Namun dalam prakteknya, orang-orang Quraisy mencampuradukkannya dengan kemusyrikan yang membuat ibadah tersebut tidak lagi murni. Seperti yang diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam tahalul orang Kinanah dan Quraisy mengucapkan, “Labbayka allahumma labbayk. Labbayka la syarika illa syarikun huwa lak, tamlikuhu wa ma malak.” (Aku menyambut seruan-Mu, ya Allah. Aku menyambut seruan-Mu, tiada sekutu kecuali sekutu yang Kaumiliki, yang Kaumiliki dan dia miliki pula).

Jadi mereka mengesakan Allah Swt. dalam talbiah, tetapi seraya menyisipkan kemusyrikan mereka bersama-Nya. Bahkan mereka seolah-olah menuduh Allah Swt. mempunyai sekutu yang berhak pula untuk disembah. Mereka secara tidak sadar telah merusak ajaran Nabi Ibrahim dan putranya sebab kebodohan, ketunaaksaraan, dan enggan untuk berfikir.

Demikian pula sejarah bangsa-bangsa dan agama-agama berubah setahap demi setahap, dari sekedar wasilah (perantara) hingga menjadi ghayah (tujuan). Mulai dari sekedar muqaddimah (pendahuluan) hingga menjadi natijah (kesimpulan, hasil). Hal ini memperkuat atas apa yang diyakini oleh para ahli sejarah dalam hal sebab-sebab muncul dan terbentuknya sejarah paganisme di Mekkah pada khususnya dan Bangsa Arab pada umumnya

Baca Juga: Catatan Manuver Politik Saudi: Di Balik Narasi Islam Moderat Arab Saudi

Bagaimana dengan keimanan Abdul Muthalib (kakek Nabi Muhammad Saw.) yang hidup ditengah tradisi pagan tersebut? Keteguhan hatinya terhadap keesaan Allah Swt. tidaklah lenyap seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam berikut:

Suatu ketika Abrahah (Raja Habasyah) merampas duaratus ekor unta milik Abdul Muthalib. Kakek Nabi Saw. tersebut pun segera menghadap Raja Abrahah dan mengungkapkan keperluannya. Dalam pertemuan tersebut, keduanya saling menghormati sampai Raja Abrahah turun dari kursi kebesarannya.

Abdul Muthalib berkata, “Keperluanku ialah agar tuan Raja mengembalikan dua ratus ekor unta yang telah tuan ambil dari saya.”

Mendengar perkataan tersebut, Raja Abrahah tidak senang, iapun berkata, “Apakah engkau berbicara kepadaku tentang dua ratus ekor unta yang telah kurampas dan membiarkan rumah ibadah yang merupakan agamamu dan agama nenek moyangmu? Aku datang untuk menghancurkannya, dan engkau tidak membicarakan hal itu!

Abdul Muthalib pun menjawabnya, “Aku adalah pemilik unta, sedangkan rumah itu juga mempunyai tuan yang akan melindunginya.” Abrahah berkata, “Dia tidak akan bisa melindunginya dariku.”Abdul Muthalib berkata, “Dia akan melindunginya darimu dan dari siapa saja.”

Begitulah leluhur Nabi Muhammad Saw. yang selalu memegang teguh agama hanif sampai datangnya agama Islam. Seiring berjalannya waktu, tradisi paganisme pun hilang dan ajaran tauhid mulai berkembang. Walaupun tidak mudah untuk merubah kondisi demikian, namun lambat laun Makkah menjadi pusat peradaban Islam disamping juga tempat-tempat lain. Jadi begitulah sejarah paganisme di Mekkah, yang kita tahu kemudian berubah kembali menjadi Tauhid setelah kedatangan Nabi Muhammad dan Islam.