Beranda Keislaman Muamalah Menyikapi Tuduhan Bid’ah Perayaan Maulid Secara Filosofis dan Komprehensif

Menyikapi Tuduhan Bid’ah Perayaan Maulid Secara Filosofis dan Komprehensif

Harakah.idBiasanya akan ada debat tak berkesudahan antar kelompok agama pada momen seperti ini dalam masyarakat. Baik itu dalam ruang diskusi, ceramah, maupun mimbar Masjid dalam khutbah Jum’at.

Pada tanggal 8 Oktober 2022, seluruh umat Islam dunia merasakan perasaan gembira karena bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal tahun Hijriah, yang pada tanggal tersebut adalah hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Kemeriahan tersebut telah dirasakan sejak malam. Berbagai macam perayaan dalam bentuk zikir, dalail, shalawat, dan pujian untuk Nabi Muhammad SAW dibacakan untuk mengingat dan meluahkan rasa rindu serta bahagianya umat muslim, karena kehadiran Nabi Muhammad SAW membawakan petunjuk kepada manusia menjadi umat yang berperadaban, mengenal tauhid, dan ajaran yang penuh akan rahmat dan kedamaian.

Namun, fenomena ini cenderung problematis, jika sudah masuk ke ranah pembahasan keagamaan. Biasanya akan ada debat tak berkesudahan antar kelompok agama pada momen seperti ini dalam masyarakat. Baik itu dalam ruang diskusi, ceramah, maupun mimbar Masjid dalam khutbah Jum’at. Permasalahan utama dalam hal ini adalah hukum penggelaran perayaan itu sendiri, dipandang dari aspek kebolehan dan ketidakbolehan.

Pihak kelompok agama yang menyebut dirinya Aswaja (ahl sunnah wal jama’ah) menempatkan dirinya pada sisi bahwa penyelenggaraan ini adalah sebuah hal yang baik untuk dilakukan, dan bagi yang tidak melakukan atau menentang, akan disinyalir keluar dari barisan (ahl sunnah wal jamaah). Oposisi dari kelompok tadi adalah pihak yang menyebut dirinya sebagai bagian salafi (memahami agama yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah berdasarkan pemahaman para salafus shalih), kelompok ini termasuk ke dalam klasifikasi gerakan purifikasi (pemurnian agama Islam) agar tidak terkontaminasi hal-hal yang dianggap di luar ajaran agama Islam.

Perdebatan sengit tentu terjadi dengan membawa dalil masing-masing untuk mendukung pendapat dan pendirian masing-masing, debat seperti ini tidak akan bertemu pada titik sepakat, karena masing-masing pihak memandang sesuatu objek yang diperdebatkan dengan kacamata kotradiktif satu sama lain. Mdisalnya, main discourse dari perdebatan tersebut dimulai dan berkisar pada hadis “kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin finnar” yang dibawakan sebagai justifikasi terhadap perayaan maulid adalah sesat. Hal tersebut didasari pada pandangan jika perayaan maulid dianggap bagian dari ibadah. Kemudian hal tersebut disambut oleh pihak satunya dengan merunutkan klasifikasi bid’ah yang terbagi kepada dhalalah dan hasanah, yang berarti, bid’ah hasanah ini tidaklah haram dilakukan, melainkan sebaliknya.

Konflik tersebut menunjukkan bahwa kita sebagai masyarakat belum dewasa dalam beragama, sehingga terlalu mudah untuk menjatuhi sesuatu itu baik, buruk secara hitam putih dari pandangan sendiri, dan tidak melihat dari sisi yang menyeluruh. Sebagai penyelesaian terhadap konflik berkepenajangan ini yang eksesnya menimbulkan kericuhan pada momen tertentu serta kesenjangan sosial, sesekali kita perlu melihat hal ini dari sudut pandangan lain, pengamatan dengan menyeluruh dan bijak, pandangan yang menyeluruh dan menggunakan pendekatan filosofis, bukan dari sisi otoritatif (dalil).

Agar hal tersebut tercapai, mari kita memulai dari pandangan bahwa perayaan maulid adalah sesuatu yang baik, dan memandang hal tersebut adalah refleksi dari kecintaan umat kepada baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga kesemarakan dan kebesaran momen ini terus berlanjut sangat lama pada tiap tahunnya. Kita dapat memandang hal tersebut sebagai fakta dari fenomena sosial masyarakat yang sudah mengakar. Perayaan maulid adalah respon masyarakat terhadap pengagungan dan cinta kepada Nabi, sehingga sesuatu yang dilakukan karena cinta, tidak perlu alasan atau dalil kita akan tetap melakukannya, karena seperti itulah bentuk cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.

Jika kita sepakat dengan pandangan tersebut, maka kita tidak keberatan jika menempatkan posisi perayaan tersebut adalah bersifat “profan”, tidak sakral seperti yang tsubut dan Qath’i seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Hal tersebut bisa kita pahami secara bahasa sosial, bahwa maulid adalah “ritual” atau perayaan festival profan, yang tidak terikat dengan sesuatu yang sudah tetap, tertata dan jelas tatalaksananya seperti ritus. Sehingga, di satu pihak, tidak perlu mengharamkan sebuah kebahagiaan, dan tidak perlu mengatakan itu bid’ah, karena bid’ah hanya masuk penghukumannya jika itu berkenaan dengan “ibadah”. Namun perlu diingat, kecintaan, shalawat, dan sedekah, silatuurahmi yang dilakukan selama maulidurrasul adalah sesuatu yang diganjar oleh Allah SAW. Karena kecintaan kepada Nabi, shalawat, dan sedekah adalah sebuah ‘keharusan’ dalam agama Islam.

Apabila pandangan seperti itu sudah disepakati, maka tidak ada yang perlu lagi membawa dalil untuk menjustifikasi bahwa perayaan maulid hukumnya haram bersebab bid’ah, karena kita sepakat bahwa perayaan tadi adalah sebuah fenomena sosial kita yang berlandaskan dari respon terhadap bahagianya atas kelahiran Nabi Muhammad, kecintaan dan kerinduan terhadap Nabi Muhammad SAW. Sehingga juga tidak perlu ada juga, yang menjustifikasi bahwa yang tidak melakukan perayaan serupa adalah sesat, karena masing-masing kita memiliki bentuk respon tersendiri atas kecintaan ini, bahkan dengan kekayaan budaya masyarakat, di berbagai daerah memiliki bentuk yang berbeda dalam merayakan, dengan inti yang sama yaitu menyampaikan cinta dan kerinduannya terhadap baginda Nabi Muhammad SAW.

Pada akhir kata, yang diharapkan oleh adalah kecintaan ini terus berlangsung dan terwarisi tanpa perlu mewariskan konflik dan intrik berkepanjangan, dan sama-sama sepakat dalam mengakui bahwa kita mencintai Nabi Muhammad SAW, karena Allah.

Kita yakin dengan kecintaan kita terhadap baginda Nabi Muhammad SAW yang didukung oleh pelaksanaan terhadap ajaran yang dibawakan beliau, maka insyaallah akan membawakan keberkahan kepada kita semua. Bahkan Allah dan Malaikat pun bershalawat kepada Rasulullah, maka kita sebagai umatnya juga diperintahkan untuk bershalawat, dan tidak ada alasan untuk tidak mencintai sosok mulia ini.

Artikel kiriman dari Muhammad Nuzul Abraar, Dosen Luar Biasa di UIN Ar-Raniry Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...