Beranda Gerakan Menyimak Debat Sesama Kaum Salafi Indonesia Tentang Bikin Yayasan Dakwah Bid’ah atau...

Menyimak Debat Sesama Kaum Salafi Indonesia Tentang Bikin Yayasan Dakwah Bid’ah atau Tidak

Harakah.idSalah satu bid’ah Salafi di Indonesia adalah mendirikan yayasan, jam’iyyah, atau muassasah. Sebelum sampai pada penjelasan ini, penting diketahui bahwa persoalan yayasan sebenarnya sudah menjadi isu kontroversial sejak dakwah salafi berkembang di Indonesia. Lebih tepatnya pada waktu Ja’far menuduh Abu Nida dan teman-temannya sebagai Sururi.

Kehadiran Salafi di Indonesia sering kali memicu polemik, karena cara mereka beragama yang ingin memurnikan Islam tidak jarang disertai dengan pem-bid’ah-an terhadap kelompok-kelompok Muslim lain. Meski begitu, mereka sendiri juga tidak segan mem-bid’ah-kan jaringan Salafi lainnya yang sama-sama ingin memurnikan Islam dari bid’ah.

Lalu, bid’ah apa yang dilakukan oleh Salafi sehingga menuai kritik dari sesama salafi? 

Yang jelas bukan tahlilan atau maulid nabi sebagaimana umumnya Salafi mengkritik kelompok-kelompok Muslim lain di Indonesia. 

Salah satu bid’ah Salafi di Indonesia adalah mendirikan yayasan, jam’iyyah, atau muassasah. Sebelum sampai pada penjelasan ini, penting diketahui bahwa persoalan yayasan sebenarnya sudah menjadi isu kontroversial sejak dakwah salafi berkembang di Indonesia. Lebih tepatnya pada waktu Ja’far menuduh Abu Nida dan teman-temannya sebagai Sururi.

Ja’far memperkuat argumen tuduhannya, salah satunya, dengan mempermasalahkan keterkaitan erat (terutama dari sisi sumber dana) antara yayasan Abu Nida dengan yayasan Ihya at-Turots dari Kuwait. Salah satu pimpinan Ihya’ at-Turots, Abdur Rahman Abdul Khaliq, memiliki langkah yang sama dengan Muhammad Ibn Surur. Ia mengkritik fatwa ulama-ulama Saudi yang dipimpin Bin Baz, yang melegitimasi kebijakan Arab Saudi meminta bantuan Amerika untuk melawan Saddam Hussein (Noorhaidi, 2006). 

Setelah pengikut Ja’far terpecah ke dalam banyak jaringan (tentang jaringan Salafi bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya), persoalan yayasan masih menjadi isu serius di kalangan Salafi. Sebagian mantan pengikut Ja’far seperti jaringan Salafi Luqman Baabduh masih mempermasalahkan keterkaitan yayasan Abu Nida dengan Ihya’ at-Turots. Ini bisa disimak dalam tulisan-tulisan yang diunggah dalam situs salafy.or.id, seperti dua tulisan berjudul “Bahaya Jaringan JI dari Kuwait dan At Turots” dan dua tulisan terjemahan berjudul “Soal Jawab Ttg Abdurahman Abdul Khaliq & At Turots”. 

Namun, sebagian mantan pengikut Ja’far lain bukan hanya mempermasalahkan keterkaitan yayasan dengan yayasan apa. Lebih dari itu, mereka mempersoalkan keberadaan yayasan itu sendiri seperti halnya yang dilakukan Salafi dari jaringan Abu Turob

Jaringan Abu Turob merupakan salah satu jaringan Salafi Puris di Indonesia yang tidak memiliki yayasan. Salah satu alasannya adalah karena yayasan itu bid’ah. Persoalan ini bisa disimak langsung dalam tulisan-tulisan di situs https://ashhabulhadits.wordpress.com. Abu Turob sendiri menulis satu artikel khusus berjudul, “Syubuhat Yayasan untuk Dakwah dan Bantahannya”. 

Dalam artikel tersebut, Abu Turob menegaskan bahwa yayasan sebagai sarana dakwah itu tidak ada di zaman nabi dan para salaf. Oleh karena itu, yayasan adalah bid’ah. Ia memperkuat argumen ini dengan mengutip pendapat gurunya dari Yaman, Yahya al-Hajuri, dan hadis Rasulullah tentang tertolaknya perkara baru yang tidak ada di masa Rasulullah. 

Tidak hanya menegaskan ke-bid’ah-an yayasan, Abu Turob juga menjelaskan perkara-perkara lain dalam yayasan yang dipandang bertentangan dengan syari’at, seperti (a) tasyabbuh atau menyerupai orang Barat, (b) tunduk di bawah undang-undang buatan orang, (c) adanya sistem pemilu walaupun lokal atau kecil-kecilan, (d) meminta-minta bukan karena terpaksa, (e) bermudah-mudahan dalam berhubungan dengan bank ribawi, (f) kesibukan yayasan sering mengalahkan ibadah dan sunnah, dan masih banyak lainnya.

Setelah menjelaskan semua persoalan itu, Abu Turob kemudian melanjutkan pembahasannya dengan mengkritik orang-orang yang menghalalkan yayasan. Namun, ia tidak menyebut dengan jelas siapa yang dikritiknya. Arah kritikannya baru bisa dibaca dengan jelas dalam kedua bukunya yang disebar melalui Channel Telegramnya. Kedua buku itu berjudul “Mengurai Benang Kusut, Atas Ulah SiLuman Badut” yang ditujukan untuk Luqman Baabduh dan “Duri Duren Buat Dzul Qarnaen” yang ditujukan untuk Dzulqarnain. 

Kritik dalam kedua buku ini terbilang detail sekali karena menguliti satu persatu pernyataan Luqman Baabduh dan Dzulqarnain. Sebagai contoh adalah kritikannya terhadap pernyataan Baabduh yang menolak yayasan adalah produk yahudi, sehingga yang mendirikannya bisa disebut dengan tasyabbuh kepada mereka. 

Setelah memaparkan lebih dahulu pernyataan Baabduh, Abu Turob kemudian menyanggahnya dengan mengutip kitab Al-Mausu’ah Al-Muyassaroh juz 1 hal. 500. Menurutnya, dalam kitab ini sudah cukup jelas diterangkan bahwa yayasan adalah produk yahudi, yang digunakan untuk menyebarkan paham beracunnya Al-Maasuuniyyah di Turki. Cara Yahudi ini kemudian diadopsi oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Singkatnya, mendirikan yayasan bisa dikatakan ber-tasyabbuh kepada yahudi.

Kritik Abu Turob secara tidak langsung juga diperkuat oleh temannya Abu ‘Abdirrahman Shiddiq al-Bugisiy. Al-Bugisy menerjemahkan fatwa Rabi bin Hadi al-Madkhali yang kemudian diberi judul “Runtuhnya Pondasi Sesembahan Hizbiyyun Yayasan”. Beberapa poin penting dalam fatwa tersebut tidak lain adalah penegasan bahwa yayasan adalah bid’ah dan merupakan produk yahudi dan Nasrani. 

Berbeda dengan al-Bugisy yang hanya menerjemahkan, Abul Fida’ Hanif bin Abdillah Ar-Riyawi mengutip pendapat Rabi’ al-Madkhali sebagai landasan untuk mengkritik Baabduh secara langsung. Ini bisa dibaca dengan jelas dalam tulisannya “DONAT BANTAT: Buat Luqman Ba’abduh Badut Keparat”. Salah satu kritik tajamnya tidak lain adalah bahwa yayasan dalam jaringan Baabduh adalah bid’ah. 

Menarik dicatat, sama-sama menjadikan Rabi’ al-Madkhali sebagai acuan utama, namun keduanya berbeda pandangan. Al-Madkhali merupakan salah satu rujukan utama jaringan Luqman Baabduh. Ia bahkan membela habis-habisan ketika Rabi’ al-Madkhali diserang oleh Firanda Andirja, salah satu ustad Salafi kenamaan dalam jaringan Abu Nida, dengan menulis delapan tulisan kritik berjudul “Menepis Tipu Daya Firanda, Membela Ulama Sunah”. 

Meski begitu, dibalik rujukan masifnya terhadap Rabi’ al-Madkhali, Baabduh ternyata tetap berbeda pandangan. Setidaknya, ini tergambar dalam kritik jaringan Abu Turob pada Baabduh. Dalam kritik tersebut, Abu Turob dan teman-temannya menukil pandangan Rabi’ bahwa yayasan adalah bid’ah, sementara dalam jaringan Baabduh terdapat cukup banyak yayasan seperti Yayasan Ma’had As-Sunnah Ngawi, Yayasan Darul Hadis Lombok, Yayasan  Miratsul Anbiya Palu, Yayasan Dhiya’us Sunnah Cirebon, dan masih banyak lainnya. 

Kasus demikian juga tidak jauh berbeda dengan kritikan Abu Turob terhadap Dzulqarnain. Dalam bukunya “Duri Duren…”, Abu Turob mengutip banyak sekali pandangan Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i untuk melemahkan pendapat Dzulqarnain. Alasannya, Dzulqarnain dianggap selalu bertendensi dengan ungkapan-ungkapan Syaikh Muqbil yang dia anggap ada celah untuk dijadikan hujjah (h. 6). 

Secara umum hampir tidak ada perbedaan signifikan antara isi kritikan Abu Turob terhadap Dzulqarnan dan Baabduh, demikian juga pada jaringan Abu Nida. Meski belum didapati tulisan khusus yang mengkritik yayasan Abu Nida, dua buku kritik yang ditulis oleh Abu Turob sedikit banyak telah menyinggungnya penyimpangan-penyimpangan yayasan dalam jaringan Abu Nida.

Selain yayasan, sebenarnya masih banyak persoalan-persoalan lain yang membuat sesama salafi saling mengkritik seperti halnya persoalan taklid atau fanatisme. Namun yang jelas, saling mem-bid’ah-kan sesama Salafi memberi pemahaman penting bahwa Islam murni sebagaimana dimaksud oleh Salafi masih belum begitu jelas batasan-batasannya. Para ahli seperti Quintan Wiktorowicz (2006) dan para pen-syarah-nya, termasuk di Indonesia, sering membahasakan persoalan ini dengan “mereka berbeda dalam hal cara mempraktikkan”. 

Perbedaan ini tentunya menjadi salah satu hambatan tersendiri untuk mencapai atau mewujudkan Islam murni sebagaimana dipraktikkan oleh Rasulullah, para sahabat dan tabi’in. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Chris Chaplin (2014), kendati bahasannya berbeda dengan apa yang dibahas di tulisan ini. Ia mengatakan, kegigihan Salafi untuk mewujudkan masyarakat muslim Indonesia yang murni atau ideal pada dasarnya hanya sebuah keinginan yang terus menerus disuarakan atau diupayakan, namun tidak pernah tercapai sepenuhnya. 

Pendapat ini sangat relevan dengan kasus saling mem-bid’ah-kan sesama Salafi. Alih-alih Salafi menolak dan mem-bid’ah-kan kelompok lain, mereka justru terjebak atau di-bid’ah-kan oleh Salafi sendiri. 

Setidaknya, gambaran ini sudah cukup jelas berdasarkan pandangan dan kritikan dari Abu Turob dan teman-temannya. Sengaja saya hanya menjelaskan kritikan jaringan Abu Turob, karena hingga sekarang belum menemukan artikel-artikel atau buku khusus yang ditulis oleh jaringan salafi lain untuk menyanggah ulang kritikan Abu Turob.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...