Beranda Editorial Menyoal Alasan Taliban yang Menutup Pendidikan Perempuan Karena Dianggap Bertentangan dengan Islam

Menyoal Alasan Taliban yang Menutup Pendidikan Perempuan Karena Dianggap Bertentangan dengan Islam

Harakah.id Pernyataan bahwa pendidikan perempuan adalah bertentangan dengan nilai-nilai Islam adalah pernyataan yang bermasalah.

Alasan Taliban yang Menutup Pendidikan Perempuan. Sejak awal berkuasa, Taliban telah merancang agar kaum perempuan kehilangan peran strategisnya dalam kehidupan masyarakat Afganistan. Ini yang dapat disimpulkan dalam serangkaian kebijakan yang dikeluarkan sejak mereka kembali menguasai negeri tersebut pada Agustus 2021 lalu.

Pemerintah Taliban mengangkat Nida Mohamad Nadim sebagai Menteri yang bertugas memegang urusan pendidikan tinggi. Ia merupakan pemimpin Taliban yang memiliki gelar Syaikhul Qura’an Wal Hadis. Gelar yang juga dimiliki oleh Haibatullah Akhunzadah, Pemimpin Tertinggi Taliban saat ini. Nadim menyatakan bahwa pendidikan perempuan bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan Afghanistan. Nida merupakan orang yang punya pengalaman memusuhi sistem pembelajaran yang menurutnya berasal dari Barat.

Afganistan telah mengembangkan sistem pendidikan yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan sejak awal abad ke-20 ketika Afganistan masih berbentuk monarkhi. Sampai tahun 70-an, berbagai perguruan tinggi telah dibuka yang mengajar para mahasiswa tanpa memandang gender. Perang saudara pada tahun 80-an, dilanjutkan pemerintahan Taliban pada tahun 90-an hingga 2000-an, pendidikan tinggi bagi perempuan mengalami kemunduran. Pasca masuknya Amerika dan sekutu, dan tumbangnya Rezim Taliban, perguruan tinggi kembali dibuka untuk perempuan. Namun, setelah dua dekade keterbukaan, Taliban kembali berkuasa dan membuat aturan yang menghentikan pendidikan tinggi bagi perempuan.

Pernyataan bahwa pendidikan perempuan adalah bertentangan dengan nilai-nilai Islam adalah pernyataan yang bermasalah. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa bodohnya si pembuat pernyataan akan ajaran Islam yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan pendidikan, termasuk bagi kaum perempuan.

Teks-teks Islam jelas menyebutkan pendidikan perempuan adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Kewajiban ini berlaku bagi orang tua dan pemerintah. Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah pernyataan yang terkenal thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin. Mengenyam pendidikan bukan saja hak, sebagaimana dipahami saat ini, tetapi merupakan kewajiban agama bagi setiap Muslim. Laki-laki maupun perempuan. Menyatakan bahwa pendidikan perempuan bertentangan dengan nilai-nilai Islam adalah pernyataan yang mengada-ada.

Jika pernyataan itu muncul dari seorang yang bergelar Syaikhul Qur’an wal Hadis, maka sudah selayaknya gelar itu dicopot dari yang bersangkutan. Jika orang tersebut benar-benar memiliki pengetahuan dalam ulumul Hadis, niscaya dia akan terbelalak bahwa dalam sejarah Islam adalah ratusan ahli hadis perempuan yang namanya diabadidakan dalam kitab-kitab biografi perawi hadis. Orang yang belajar ilmu hadis hingga dia menjadi perawi yang riwayatnya diterima mencerminkan dia telah mempelajari ilmu pengetahuan pada level yang tinggi. Bukan sekadar pendidikan dasar yang hanya mempelajari cara membaca Al-Quran atau ibadah harian. Perawi hadis adalah bentuk kesarjanaan yang membutuhkan keilmuan yang rumit dan berada di tingkat advance.

Paham “Pendidikan perempuan bertentangan dengan nilai-nilai Islam” adalah paham yang sesat dan menyesatkan. Bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Paham tersebut dapat menghantarkan umat Islam, khususnya kaum perempuan terjerumus dalam jurang kebodohan dan ketidakadilan. Bangsa yang menolak kaum perempuannya berdaya, hanya akan membuat bangsa tersebut terbelakang, mundur, dan bodoh. Karena, setengah populasi sebuah bangsa adalah perempuan. Ketika kaum perempuan bodoh, niscaya mereka tidak akan dapat memperjuangkan keadilan untuk dirinya sendiri, lebih-lebih untuk bangsanya. Lebih-lebih untuk Islam.

Demikian ulasan “Menyoal Alasan Taliban yang Menutup Pendidikan Perempuan Karena Dianggap Bertentangan dengan Islam”. Semoga gerakan semacam ini tidak berkembang di Indonesia.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...