Beranda Headline Menyoal Kembali Kejanggalan Logika Peristiwa Isra Mi'raj dan Penjelasannya Dalam Fisika Kuantum

Menyoal Kembali Kejanggalan Logika Peristiwa Isra Mi’raj dan Penjelasannya Dalam Fisika Kuantum

Harakah.id Isra Mi’raj adalah peristiwa yang mungkin masih menyimpan misteri. Tapi siapa sangka kalau fisika kuantum dapat memberikan penjelasan logis bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

Terdapat satu kisah yang sangat inspiratif dan maha hebat pada abad ke-7 sekitar 1400 tahun silam, peristiwa itu dinamakan Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Nabi Muhammad tak hanya menembus ruang angkasa disekitar bumi, bahkan mengarungi alam semesta hingga diruang yang tak terbatas. Pertanyaannya, bagaimana menjelaskannya dengan logis? Dan bagaimana fisika kuantum dapat membantunya?

Kisah Isra termaktub di dalam al-qur’an dalam pada surah al-isra ayat 1, yang berbunyi sebagai berikut:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kita berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”

Sementara kisah mi’raj termaktub dalam surah an-Najm ayat 13-18, yang berbunyi sebagai berikut:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)

“Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotulmuntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidrotulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”

Peristiwa Isra Mi’raj tentu saja mengundang banyak pertanyaan dari berbagai kalangan, baik dari kalangan agamawan, kalangan ilmuwan hingga masyarakat awam. Baik itu yang muslim maupun non-muslim. Tersebab perjalanan yang dialami Rasulullah menempuh jarak yang sangat jauh, dalam kurun waktu yang cukup singkat yakni hanya separuh malam. 

Perjalanan isra dan mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah, dalam konteks ilmu pengetahuan disebut sebagai perjalanan antar dimensi. Artinya malaikat jibril mengajak rasulullah keluar dari dimensi ruang dan waktu menuju dimensi yang lebih tinggi. Keluar dari dimensi ruang dan waktu maksudnya ialah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu yang terbatas dalam pola pikir manusia.

Lalu sekiranya kendaran apa yang digunakan sehingga waktu tempuhnya cukup singkat? 

Rasulullah SAW dan malaikat jibril melaksanakan perjalanan tersebut dengan kendaraan yang bernama buraq. Bahasa arab mengartikan buraq sebagai kilat, yakni substansi cahaya. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, menyebutkan bahwa jika buraq melangkahkan kaki, tampak sejauh mata memandang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa buraq mempunyai kemampuan untuk bergerak yang mendekati atau bahkan sama dengan kecepatan cahaya, yaitu berkisar 300.000km/detik. Kemudian dari sini timbul pertanyaan baru, yakni: apakah tubuh Rasulullah SAW mampu menghadapi kecepatan itu?

Agus Mustofa di dalam bukunya yang berjudul Terpesona di Sidratul Muntaha menjawab dengan memberikan skenario rekonstruksi dengan menggunakan Teori Annihilasi. Teori tersebut dikenal dalam fisika kuantum, teori ini menyatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Sehingga apabila materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut akan lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.

Agar Rasulullah SAW dapat mengikuti kecepatan malaikat jibril dan buraq, maka badan wadah rasulullah diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Hal tersebut terjadi ketika dilakukannya pembedahan oleh malaikat jibril dengan nmenyucikan qalbu nya rasulullah dengan air zam-zam. Hal tersebut bermaksud untuk mengimbangkan agar kualitas badan rasulullah sama dengan malaikat jibril dan juga buraq. Mengingat bahwa malaikat jibril dan juga buraq adalah makhluk berbadan cahaya. Setelah ketiganya memiliki kualitas badan yang sama, maka Allah memperjalankan ketiganya menuju masjidil aqsa dengan kecepatan 300.000km/detik. Sehingga jarak antara mekah dengan palestina yang berkisar 1200 km dapat ditempuh dalam waktu hanya 0,005 detik.

Dalam fisika kuantum dikenal suatu teori bahwa apabila seseorang melakukan perjalanan dengan kecepatan menyamai atau bahkan melebihi kecepatan cahaya, maka secara teoritis  ia akan masuk ke dalam dimensi ruang waktu yang lain. Sebab kecepatan superluminal tersebut, batasan dimensi ruang dan waktu terlampaui atau bisa dikatakan dimensi ruang waktu saling melipat (space time folding), sehingga beliau akan melihat dimensi-dimensi waktu lampau bahkan mungkin waktu yang akan datang. Hal itulah yang menyebabkan Rasulullah dapat melihat penampakan-penampakan ketika perjalanan isra mi’raj yang menyamai kecepatan cahaya itu. Pun demikian, Rasulullah melakukannya dengan kesadaran penuh. Adanya relativitas waktu antara dunia manusia dengan dunia malaikat, menyebabkan Rasulullah merasakan sepenuhnya perjalanan tersebut.

Berdasarkan pemaparan-pemaparan diatas, maka hikmah yang dapat diambil ialah bahwa peristiwa yang luar biasa seperti isra mi’raj hanya terjadi tersebab kehendak dan kekuasaan Allah SWT, kisah ini pun merupakan informasi gaib yang wajib untuk diyakini, dan juga peristiwa ini untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...