Beranda Keislaman Ibadah Menyoal Pernikahan Dini, Menimbang-Nimbang Maslahat dan Mudarat Menikah Di Usia Belia

Menyoal Pernikahan Dini, Menimbang-Nimbang Maslahat dan Mudarat Menikah Di Usia Belia

Harakah.idPernikahan dini adalah fakta dan realitas yang sampai saat ini masih kita temukan di tengah-tengah masyarakat kita. Meskipun sudah diatur oleh negara, namun tetap saja hal itu masih terselenggara secara massif.

Rasa cinta dan kasih sayang dalam diri manusia merupakan anugerah dari Allah SWT kepada umat manusia. Islam mempunyai solusi terbaik bagi manusia dalam memadu cinta kasih sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu dengan ikatan pernikahan. Melalui jalinan pernikahan, pasangan suami istri akan melewati berbagai pengalaman hidup mengenai hak dan tanggung jawabnya masing-masing dalam suatu hubungan rumah tangga yang penuh kebahagiaaan dan lebih sempurna. Telah tertera bahwa batasan usia untuk menikah yaitu pria minimal berusia 19 tahun dan wanita minimal berusia 19 tahun pada UU Perkawinan Pasal 7 (1). Namun, tak jarang pernikahan dini dan di bawah umur terjadi di kalangan masyarakat indonesia yang tidak menjadi hal yang asing lagi. 

Selama kurang lebih 1,5 tahun ini, adanya Covid-19 menyebabkan terjadinya peningkatan terhadap angka pernikahan di usia dini. Jawa Barat menjadi salah satu provinsi penyumbang angka pernikahan dini dan perkawinan di bawah umur tertinggi, berdasarkan data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional tahun 2020.

Hal ini menarik perhatian Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UIN Jakarta untuk menyelenggarakan webinar bertema bertajuk “Pengaruh Covid-19 terhadap Pernikahan Anak Usia Dini” melalui zoom.  Dosen Sosiologi UIN Jakarta, Dr. Ida Rosyidah, M.A., menjelaskan bahwa keputusan untuk menikah dini di indonesia kemungkinan besar disebabkan oleh faktor ekonomi, budaya, kebijakan negara dan pemahaman agama. Banyak orang tua yang menganggap beban hidupnya sangat berat, sehingga dapat mengorbankan anaknya untuk menikah agar beban ekonomi berkurang.

Dengan berbagai alasan tersebut, beberapa remaja Indonesia memutuskan untuk menikah di usia yang masih tergolong muda. Faktanya, mayoritas masyarakat yang memilih untuk melakukan pernikahan dini berpendapat bahwa mereka melakukannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi, tidak semua yang Rasul lakukan dapat dianggap benar jika kita yang melakukan dan amalkan apalagi dalam hal perkawinan. Bahkan, tidak jarang apa yang ditetapkan Rasulullah diubah oleh pakar agama sesudah Beliau. Hal itu dikarenakan penyesuaian terhadap perubahan sifat, pemikiran serta banyak faktor lain oleh perkembangan jaman demi meraih kemaslahatan yang lebih besar ataupun menghindari mudharat.

Melihat banyaknya praktik pernikahan usia dini di Indonesia, mantan Menteri Agama Prof. Muhammad Quraish Shihab seorang ahli tafsir dan cendekiawan ikut berpendapat. Ia menjelaskan bahwa Al-Quran maupun sunnah Nabi SAW tidak menetapkan usia tertentu untuk menikah. Dalam pernikahan, Al-Quran dan sunnah telah mentapkan tujuan pasangan suami istri. Seorang suami dan istri diberi tuntunan terkait hak dan tanggung jawabnya dalam suatu ikatan pernikahan, demi hidup dengan kebahagiaan yang lebih sempurna. Tujuan ini tentu tidak akan terwujud apabila sang suami maupun istri belum mencapai tingkat mental, emosional, dan spiritual yang merupakan faktor penting untuk mendukung tujuan tersebut.

Praktik pernikahan usia dini juga dimakruhkan oleh beberapa ulama. Contohnya, pernikahan anak perempuan yang belum cukup umur, maka ia memiliki tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga, padahal secara fisik dan psikologis ia belum siap, meskipun sudah melewati masa haid. Maka dari itu, pernikahan anak perempuan yang belum cukup umur dinilai tidak maslahat bahkan dapat menyebabkan kerusakan masyarakat. Sebab, fungsi sebuah keluarga bukan hanya reproduksi dan ekonomi, tapi lebih dari itu diantaranya adalah fungsi untuk bersosialisasi dan pendidikan.

Mahasiswa yang masih menjalani pendidikan di perkuliahan juga contoh lain dari mereka yang masih mengemban suatu kewajiban, yaitu menuntut ilmu. Hukum menikah masih sunnah bagi seorang mahasiswa, tidak wajib baginya untuk menikah selama dia dapat menjaga kesucian diri dan akhlaknya dengan baik. Dengan demikian, ia harus memprioritaskan yang wajib dahulu daripada yang masih sunnah. Yang berarti ia harus mendahulukan kuliah daripada menikah. Jika memutuskan untuk tetap menikah, maka ia harus siap menjalani dua hukum tersebut yaitu, menuntut ilmu dan menikah, secara bersamaan dengan baik juga tidak mengabaikan salah satu peran, dan dengan ini ia harus memenuhi kesiapan menikah secara fisik, ilmu dan harta

Sekali lagi, tidak ada ketetapan batasan umur tertentu dalam islam bagi usia perkawinan, akan tetapi negara kita yang memiliki kebijakan tersebut. Di setiap negara muslim, ketetapan hukum yang berlaku juga berbeda. Tidak menutup kemungkinan perubahan akan terjadi di dalam suatu negara akibat perkembangan masa. Dalam setiap agama pernikah dianjurkan untuk meneruskan keturunan hidup dan keberlangsungan hidup manusia. Dengan ini, dalam bahasan usia perkawinan butuh peninjauan ulang terhadap hukum yang terkait, serta syarat-syarat juga perlu ditinjau kembali agar para istri dapat terhindar dari mudharat dan kegagalan pernikahan. Wallahu A’lam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...