Beranda Editorial Merdeka Dari Energi Fosil, Makna Kemerdekaan yang Belum Diwujudkan

Merdeka Dari Energi Fosil, Makna Kemerdekaan yang Belum [dan Susah] Diwujudkan

Harakah.idMerdeka dari energi fosil adalah bentuk kesekian dari model perjuangan melanjutkan buah kemerdekaan dari para leluhur. Tapi kapan ia akan terwujud? Dari data yang muncul hari ini, tampaknya memang susah. Perayaan kemerdekaan setiap tahunnya selalu beriringan dengan suramnya wajah kemerdekaan kita dari energi fosil.

Setiap tahun, bangsa Indonesia mensyukuri hari kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan kolonial. Namun, mungkinkan Indonesia merdeka dari energi fosil?

Baca Juga: “Teologi Biru”: Arah Baru Keberagamaan Umat Islam Sesudah Wabah Corona

Saat ini – apalagi dalam situasi pandemi – masyarakat global menyerukan transisi energi dari fosil menuju energi terbarukan yang ramah lingkungan. Kita sama-sama tahu, energi yang kita nikmati tiap hari masih didominasi energi fosil, penggunaan energi fosil, terutama batubara untuk pembangkit listrik, selain mencemari lingkungan juga telah merampas kemerdekaan rakyat atas haknya yang diserobot oleh investor dan penguasa dengan merebut tanah, menggunduli hutan, mencemari air dan udara serta timbulnya konflik horizontal. Itu semua wujud nyata atas dampak buruk keberadaan tambang dan PLTU batubara

Padahal, sejak 2017 Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris 2015, yang berkomitmen mencegah kenaikan suhu bumi kurang dari 2 derajat celsius dan pada 2030 Indonesia juga berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca setidaknya 29 persen. Bahkan, dalam waktu dekat, pada 2025, bauran energi terbarukan di Indonesia harus mencapai sedikitnya 23 persen. Ironisnya, saat ini porsi energi terbarukan masih kurang dari 10 persen.

Baca Juga: Bagaimanakah Membuktikan Ajaran Islam yang Ramah Lingkungan?

Data pemerintah sebenarnya juga sudah menyebutkan kalau Indonesia punya potensi energi terbarukan tenaga hidro sebanyak 75.000 megawatt (MW), panas bumi 25.400 MW, tenaga bayu 60.600 MW, bioenergi 32.600 MW, dan tenaga surya 207.800 MW. Belum lagi potensi lainnya, seperti gelombang atau arus laut, bahkan sampah yang bisa diolah menjadi energi listrik.

Lalu pertanyaannya, sebagai negara yang berlimpah sumber energi terbarukan, mungkinkah Indonesia merdeka dan lepas diri dari belenggu fosil, merdeka dari energi fosil, sehingga bebas dari pencemaran dan tak perlu lagi usir-usir rakyatnya sendiri? Jawabanya, ya embuuuh! Eh, mungkin saja sih, wong sekadar kemungkinan toh, lagi pula ini kan urusannya oligarkh dan penguasa bukan urusan saya… Mereka yang bikin aturan, mereka juga toh yang nabrak.

Merdeka!

Baca Juga: Kalau Jelas-Jelas Corona Berkaitan dengan Isu Lingkungan, Sudikah Para Ustadz Menyudahi Ceramah Konspirasinya?

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...