Beranda Keislaman Hikmah Merenungkan Spirit Kemanusiaan Universal Islam dalam Ibadah Haji

Merenungkan Spirit Kemanusiaan Universal Islam dalam Ibadah Haji

Harakah.id Di sini, kita melihat wajah keuniversalan ajaran Islam. Ajaran ini telah dipeluk oleh manusia dari berbagai latar belakang kebudayaan yang berbeda.

Prosesi haji dan umrah tidak dapat dipahami hanya dengan melihat pada aspek lahiriah, manfaat-manfaat kesehatan, maupun efek positif dari interaksi sosial yang diperoleh melalui ibadah ini. Lebih jauh, haji dan umrah harus dipahami dalam kerangka filosofis agar dapat dipahami secara utuh dan benar.

Imam Al-Kasani dalam kitab Bad’ai’ Al-Shanai’ menulis bahwa ibadah diberlakukan karena dua alasan, yaitu kewajiban sebagai hamba dan kewajiban mensyukuri nikmat.

Jika puasa dan salat dikerjakan untuk mensyukuri nikmat-nikmat badaniyyah, dan zakat untuk mensyukuri nikmat harta, maka haji adalah penggabungan dari keduanya. Karena, selain melibatkan aspek fisik, haji juga tidak dapat dipisahkan dari biaya yang relatif tinggi.

Nikmat Allah SWT tidak akan pernah dapat dihitung oleh kemampuan matematis manusia. Apalagi untuk mensyukuri satu persatu nikmat tersebut dengan mengerahkan dan mengorbankan seluruh kemampuan fisiknya.

Namun, paling tidak dengan segala kemurahan-Nya, Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia, bagaimana cara mensyukuri dua nikmat esensial di atas, badaniyah dan maliyah, dengan cara yang menyeluruh, benar, dan diridlai-Nya.

Salat, puasa, dan zakat sebagai representasi ungkapan rasa syukur, masih terlalu terbatas untuk dikatakan sebagai puncak dari ekspresi rasa syukur itu. Hal ini, karena dalam ibadah yang telah disebut di atas memiliki fungsi dan proporsi masing-masing. Berbeda dengan haji yang di dalamnya terkumpul sebagian besar tugas dari ibadah-ibadah di atas.

Haji mengajarkan persatuan ras, universalitas ajaran Islam, humanisme spiritual, dan pemaknaan terhadap kereligiusan secara lebih mendalam. Haji adalah ibadah yang mengedepankan kebersamaan antarumat Islam. Sedang, manusia diciptakan tidak pada satu tempat, satu bahasa, dan satu budaya.

Mereka menetap di tempat yang saling berjauhan. Padahal, persatuan merupakan satu hal yang sangat diperlukan dan dipelihara terus menerus. Hanya dengan haji mereka bisa bersatu padu dalam satu tujuan yaitu beribadah kepada Allah.

Pada bulan-bulan haji mereka berbondong-bondong menuju satu tempat, Makkah Al-Mukarramah. Mereka menyatukan tekad dan tujuan yang sama. Fenomena inilah yang tersirat dalam firman Allah,

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS Al-Hajj: 27).

Di sini, kita melihat wajah keuniversalan ajaran Islam. Ajaran ini telah dipeluk oleh manusia dari berbagai latar belakang kebudayaan yang berbeda. Segala macam perbedaan itu melebur jadi satu untuk mewujudkan satu misi, menghambakan diri kepada Allah.

Dalam rangkaian ritual yang dijalankan, setiap orang akan melihat bahwa nilai kemanusiaan (humanisme) sangat dihargai oleh ajaran Allah. Setiap manusia memiliki potensi seperti Ibrahim, Hajar, dan Ismail untuk menjadi manusia berkualitas yang diakui oleh Allah dan oleh seluruh manusia beriman.

Ketika mengangkat derajat Hajar, istri Ibrahim, Allah sama sekali tidak melihat status budak dan kulit hitam Hajar, melainkan lebih menilik kualitas beliau sebagai hamba yang tunduk kepada segala perintah-Nya. Dengan demikian, kita diajarkan untuk menghargai nilai kemanusiaan dan menilainya dari sudut keagamaan.

Kemudian, kita terapkan dan kita contoh perilaku religius mereka. Maka, sebagai pelajaran pertama sebelum kita menunaikan ibadah haji, ada baiknya jika kita tahu terlebih dahulu apa makna-makna yang terselip dalam ritual haji.

Dengan harapan, agar haji yang akan kita laksanakan (insya Allah) dapat menjadi haji yang sempurna kebaikannya (mabrur), diterima (maqbul), dan membawa kebaikan bagi sesama.

Dikutip dengan sedikit penyesuaian dari buku Kearifan Syariat Menguak Rasionalitas Syariat dari Perspektif Filosofis, Medis dan Sosio-Historis karya Forum KALIMASADA Lirboyo.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...