fbpx
Beranda Keislaman Hadis Meski Tidak Dianjurkan Karena Berpotensi Mengubah, Begini Cara Para Ulama Meringkas Periwayatan...

Meski Tidak Dianjurkan Karena Berpotensi Mengubah, Begini Cara Para Ulama Meringkas Periwayatan Sebuah Hadis

Harakah.idMeriwayatkan hadis meniscayakan sejumlah aturan yang ketat. Karena itu praktek meringkas sangat tidak dianjurkan karena berpotensi menambah dan mengurangi substansi hadis. Namun sebagian ulama masih melakukannya dengan beberapa syarat dan cara khusus.

Periwayatan hadis dikenal sebagai periwayatan berita yang paling ketat. Hal itu diatur langsung oleh Nabi dalam sabdanya yang sangat populer,

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

“Siapa yang berbohong atas namaku, silakan menempati kursinya di neraka!”

Dalam sabdanya yang lain, Nabi juga memberikan anjuran agar sebisa mungkin tidak meriwayatkan sabdanya kecuali secara tekstual, literal, apa adanya, sesuai dengan yang pernah ia dengar.

نضر الله امرءا سمع مقالتي فوعاها ثم أداها كما سمع

“Allah akan menjamin kesejahteraan seseorang yang mendengar ucapanku, lalu menjaganya, dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya.”

Dalam hadis tersebut dapat dipahami bahwa kode etik periwayatan hadis adalah menyampaikan secara apadanya, tidak menambah maupun mengurangi riwayat, meskipun hanya sedikit. Itulah yang kemudian menjadi perhatian besar para ulama hadis, khususnya ulama yang memiliki perhatian lebih terhadap ilmu riwayat hadis.

Namun, pada praktiknya, tidak banyak orang yang mampu meriwayatkan hadis dengan sangat baik secara utuh seratu persen tidak ada perubahan sama sekali. Kebanyakan riwayat memiliki perbedaan, antar satu sama lain, meskipun hanya satu kata saja. Para ulama hadis hanya memberikan sedikit toleransi kepada periwayat yang menyampaikan hadis berbeda dari aslinya, meskipun hanya sedikit. Baik itu dalam bentuk penambahan (ziyadah) satu atau dua kata untuk memperjelas maksud hadis, atau dalam bentuk ringkasan (ikhtisar).

Sebagian ulama hadis ada yang melarang secara mutlak periwayatan hadis secara ringkas. Pendapat seperti ini didasarkan kepada prinsip preventif, menghindari terjadi perubahan atau panggantian makna dari yang semestinya.

Sebagian ulama yang lain memberikan toleransi periwayatan hadis secara ringkas untuk para periwayat yang memiliki kompetensi tinggi. Para periwayat yang mendapatkan keringanan itu biasanya telah teruji dengan baik.  Mereka terlebih dahulu harus terbukti mampu meriwayatkan banyak beberapa hadis secara utuh, baru kemudian dapat dispensasi meriwayatkannya secara ringkas. Ini dilakukan untuk menjamin bahwa ia meriwayatkan secara ringkas itu bukan karena keragu-raguan, kelupaan, atau kekeliruan.

Meski demikian, ada pula ulama hadis yang membolehkan periwayatan hadis secara ringkas, tanpa syarat, dan bukan sebagai dispensasi.

Mayoritas ulama hadis modern kemudian mencari jalan tengah dari perbedaan pendapat tersebut. Mereka tidak memutlakkan larangan ataupun kebolehan periwayatan hadis secara ringkas. Mereka menilai bahwa hukum periwayatan hadis secara ringkas adalah tergantung kondisi dan situasi, alias tafshil.

  1. Bagi periwayat yang tidak memiliki kompetensi dalam periwayatan, baik itu kompetensi menerima hadis, kompetensi menjaga hadis, dan kompetensi menyampaikan hadis, maka dilarang keras meriwayatkan hadis secara ringkas. Ini demi menjaga orisinalitas hadis, agar tidak berubah substansinya.
  2. Bagi priwayat hadis yang memiliki kompetensi sangat bagus dalam periwayatan hadis, boleh meriwayatkan hadis secara ringkas. Ia harus menguasai redaksi dan makna hadis dengan baik. Tentunya, ia harus memiliki integritas tinggi sebagai periwayat. Dengan demikian, saat meriwayatkan hadis secara ringkas ia dapat memastikan tidak ada pesan moral, esensi atau substansi (khithab tasyri’) yang terlewatkan.

Hal terpenting ketika seorang periwayat tidak menyampaikan hadis secara literal, melainkan hanya secara maknawi, adalah disertai dengan pengakuan. Biasanya, seorang periwayat akan mengatakan, aw kama qala an-Nabi (atau seperti itulah Nabi bersabda), atau wal-lafzhu li Fulan (redaksi yang disebut di sini adalah versi si Polan). Ini menunjukkan adanya perbedaan redaksi dalam riwayat, namun maknanya tetap sama.

Begitulah cara para periwayat hadis menjaga dan melestarikan sabda dan tradisi kenabian. Ia tidak hanya menjaga pesan dan substansinya (khithab) saja, melainkan juga berusaha semaksimal mungkin menjaga redaksinya. Dengan demikian, terjagalah orisinalitas hukum, adab, etika, dan tradisi kenabian itu hingga kini. Wallahu a’lam.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...