Beranda Keislaman Akhlak Mewaspadai Kemunculan Haji-Haji Pengabdi Setan

Mewaspadai Kemunculan Haji-Haji Pengabdi Setan

Harakah.id Kiai Ali Mustafa Yaqub pernah memperkenalkan satu terminologi kontoversial bernama “Haji Pengabdi Setan”. Siapakah mereka?

Dapat dikatakan bahwa pencetus istilah ‘haji pengabdi setan’ adalah (alm) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, di dalam bukunya berjudul Haji Pengabdi Setan. Istilah tersebut disematkan kepada orang-orang yang senantiasa melakukan ibadah Haji berulang-ulang sampai lalai akan kewajiban agama yang lain, terutama kewajiban yang berkaitan dengan sosial seperti menyantuni yatim-piatu dan memberi makan fakir miskin.

Kritikan kiai Ali tersebut merupakan sebuah respon terhadap fenomena masyarakat Indonesia yang gemar berhaji –bahkan ada yang setiap tahun. Sampai beliau mempertanyakan motif mereka yang gemar berhaji berulang-ulang: “apakah haji kita itu mengikuti Nabi Saw? Kapan Nabi memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu agar di mata orang awam kita disebut luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.”

Karena menurut sejarah, Nabi Muhammad Saw melaksanakan ibadah haji hanya sekali seumur hidup. Meskipun ibadah haji telah diperintahkan sejak tahun 8 Hijrah, namun akibat banyak faktor sosial yang merintang sehingga Nabi baru berkesempatan mengerjakannya pada tahun 10 Hijrah. Oleh karena itu, wajar jika kiai Ali selaku ulama pakar Hadis mempertanyakan mereka yang kerap berhaji berkali-kali.

Pengalaman beliau terhadap fakta sejarah tersebut, kemudian dibandingkan dengan fenomena umat Islam, khususnya di Indonesia, menjadikan beliau ‘risih’ dan menilai hal tersebut sebagai sebuah perbedaan yang cukup jauh dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi.

Maka, jika kita berhaji hanya lantaran ingin memuaskan hawa nafsu seperti ingin dipuji, dianggap rajin mengerjakan perintah agama, dsb., maka hal tersebut sudah melenceng dari tuntunan agama itu sendiri, dan haji kita bukan malah menjadi pengabdi ajaran agama, tapi pengabdi setan/ hawa nafsu. Apalagi masih banyak ajaran agama yang lain yang belum dipenuhi, terutama yang berhubungan dengan sesama mahluk.

Maka dari itu, kiai Ali cenderung kepada memprioritaskan ibadah sosial ketimbang melaksanakan haji dengan motif seperti tadi. Karena pada dasarnya, kewajiban haji hanya berlaku sekali seumur hidup. Selebihnya, sudah berubah menjadi sunnah. Sedangkan kewajiban ibadah sosial senantiasa menjadi tanggungan selama memiliki kelebihan harta. Oleh karena itu, tuntutan agama yang bersifat wajib harus lebih didahulukan dan diprioritaskan ketimbang yang bersifat sunnah.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...