Beranda Keislaman Hadis Mimpi Bertemu Nabi Menurut Hadis Shahih, Begini Cara Verifikasinya

Mimpi Bertemu Nabi Menurut Hadis Shahih, Begini Cara Verifikasinya

Harakah.idCerita orang mimpi bertemu Nabi viral. Inilah penjelasan mimpi bertemu nabi menurut hadis shahih. Begini cara verifikasinya.

Mimpi bertemu Nabi sedang ramai dibicarakan oleh masyarakat. Gara-garanya, ada seorang tokoh dari kelompok politik tertentu yang berbicara di hadapan pendukungnya bahwa dirinya pernah bermimpi bertemu Nabi dan menyebutkan bahwa pemimpin kelompoknya dirindukan oleh Rasulullah SAW. Statemen yang disampaikan dalam prosesi pemakaman anggota kelompok tersebut yang tewas karena tembakan polisi viral di media sosial. Media pemberitaan tidak kalah mengekspos video tersebut.

Belakangan berkembang pemberitaan bahwa ada kelompok lain yang melaporkan statemen tersebut kepada pihak kepolisian karena menganggapnya sebagai bentuk penistaan agama yang menyebabkan kegaduhan serta ujaran kebencian.

Para aktivis demokrasi mengkritik langkah kelompok pelapor tersebut. Menurut yang disebut terakhir, mimpi tidak bisa dikriminalisasi. Aneh sekali jika hanya karena mimpi, seseorang dilaporkan ke kepolisian.

Terlepas dari polemik di publik terkait mimpi bertemu Nabi, berikut adalah ulasan tentang hadis mimpi bertemu Nabi. Tak bisa diingkari bahwa ide awal tentang kemungkinan seseorang bisa bertemu Nabi melalui mimpi dalam keyakinan sebagian Muslim adalah hadis-hadis Nabi SAW. Tradisi bertemu Nabi dalam mimpi lebih banyak diulas dalam pengalaman spiritual para sufi. Bertemu Nabi dalam mimpi menurut tradisi kesufian merupakan bentuk kebanggaan dan kemuliaan.

Sejak era tabi’in, mimpi bertemu Nabi telah menjadi cerita yang disebarkan kemana-mana. Hal ini sebagaimana terekam dalam kitab Shahih Al-Bukhari. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadis tentang mimpi bertemu Nabi SAW. Dalam riwayat ini terdapat pula dialog perawi hadis tentang pengalaman pribadi mimpi bertemu Nabi SAW dan komentar perawi lainnya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنا عَبْدَانُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي اليَقَظَةِ، وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي» قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: قَالَ ابْنُ سِيرِينَ: «إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ» , (خ)

Abdan meriwayatkan kepada kami, dari Abdullah, dari Yunus, dari Al-Zuhri, dari Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah berkata bahwa dia telah mendengar Nabi SAW bersabda, “Barang siapa melihatku dalam tidur, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Setan tidak akan bisa menyerupaiku.” Abu Abdillah Al-Bukhari berkata, “Ibnu Sirin berkata, ‘Ketika ia sudah melihat Nabi SAW dalam gambarannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat ini, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa dirinya dapat hadir dalam mimpi umatnya. Fenomena itu akan berlanjut dengan melihat Nabi SAW secara nyata di luar mimpi. Setan tidak dapat meniru rupa Nabi SAW.

Nabi Muhammad SAW menyebut dirinya dapat bertemu umatnya dalam mimpi. Tetapi, Nabi SAW juga menyebut bahwa setan kemungkinan bisa mengaku-ngaku sebagai dirinya. Karena itu, Nabi SAW seakan menegaskan bahwa setan tidak akan bisa meniru rupa Nabi SAW. Persoalannya adalah apakah ketika seseorang bermimpi bertemu Nabi SAW, ia benar-benar bertemu dengan Nabi SAW dalam rupa Nabi sendiri atau sebenarnya orang yang ditemuinya dalam mimpi hanya mengaku-ngaku sebagai Nabi SAW?

Pertanyaan ini krusial untuk memastikan akan umat tidak tersesat gara-gara bertemu dengan sosok yang mengaku sebagai Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Ibnu Sirin –sebagaimana disebut oleh Al-Bukhari, mensyaratkan seseorang harus mengetahui gambaran Nabi SAW terlebih dahulu sehingga bisa mengetahui ciri-ciri Nabi SAW. Tidak serta-merta jika seseorang bermimpi bertemu dengan Nabi SAW ia selalu bisa dibenarkan.

Pendapat Ibnu Sirin yang ahli tafsir mimpi ini sesuai dengan riwayat lain dalam Musnad Ahmad. Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، أَنَّهِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي» قَالَ عَاصِمٌ: قَالَ أَبِي: فَحَدَّثَنِيهِ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَأَخْبَرْتُهُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُهُ، قَالَ: «رَأَيْتَهُ؟» قُلْتُ: إِي، وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُهُ، قَالَ: فَذَكَرْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، قَالَ: إِنِّي وَاللَّهِ قَدْ ذَكَرْتُهُ، وَنَعَتُّهُ فِي مِشْيَتِهِ، قَالَ: فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: «إِنَّهُ كَانَ يُشْبِهُهُ» (حم(

Affan meriwayatkan dari Abdul Wahid dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa melihatku dalam tidur, maka ia benar-benar melihatku. Setan tidak akan bisa menyerupai aku.” Ashim berkata, “Ayahku berkata, ‘Ibnu Abbas meriwayatkan kepadaku, lalu aku menceritakan bahwa aku telah melihat Nabi dalam mimpi.’ Ibnu Abbas bertanya, ‘Benarkah kamu melihatnya?’ Saya menjawab, ‘Iya, demi Allah.’ Ayahku kemudian menjelaskan sifat-sifatnya seperti Al-Hasan bin Ali.’ Ayahku berkata, ‘Sungguh, demi Allah, saya menyebutkan ciri-cirinya dan ciri-ciri saat berjalan.’ Ayahku berkata, ‘Ibnu Abbas berkata, ‘Sungguh, Al-Hasan memang mirip dengan Nabi SAW.’” (HR. Ahmad).

Dalam riwayatkan ini dapat diketahui gambaran sikap sahabat saat mendengar ada orang yang mimpi bertemu Nabi SAW. Ibnu Abbas –sepupu sekaligus sahabat Nabi yang utama, tidak terburu-buru meng-iya-kan perkataan orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi SAW. Ia melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Seperti apa ciri-ciri sosok yang dilihatnya. Ketika Kulaib –orang yang mengaku bermimpi bertemu Nabi menjelaskan ciri-cirinya mirip seperti Al-Hasan bin Ali. Ia juga menjelaskan cara berjalannya. Ibnu Abbas baru mempercayai pengakuan Kulaib atas mimpi bertemu Nabi yang dialaminya.

Sampai di sini, sikap para ulama sahabat dan tabiin dapat diambil teladan. Bermimpi bertemu Nabi SAW harus dibarengi dengan pengetahuan tentang ciri-ciri fisik Nabi SAW. Karena itu, seseorang harus pernah membaca dan mempelajari kitab-kitab Syama’il Muhammadiyah yang menceritakan sifat-sifat fisik Nabi SAW. Jika tidak pernah mempelajarinya, lalu dia mengaku pernah bertemu Nabi, maka pengakuannya perlu diragukan. Setelah bermimpi, seseorang juga idealnya mengecek ciri-ciri orang yang dilihatnya dengan membandingkannya dengan ciri-ciri yang terdapat dalam kitab-kitab yang menjelaskan ciri fisik Nabi SAW.

Demikian penjelasan singkat tentang bermimpi bertemu Nabi SAW. Poin terakhir, pernah mempelajari sifat-sifat Nabi SAW sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab yang dapat dipertanggungjawabkan, adalah sangat penting.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...