Beranda Keislaman Tafsir Misteri Kata "Qāma" dalam Al-Qur’an, Beda Makna Ketika Disandingkan dengan Kata Lain

Misteri Kata “Qāma” dalam Al-Qur’an, Beda Makna Ketika Disandingkan dengan Kata Lain

Harakah.id Kata Qāma dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna seperti berdiri, melaksanakan, menghadap, diadakan, dan menggantikan.

Al-Qur’an merupakan wahyu dan kitab suci yang memuat panduan hidup dalam dengan bahasa arab. Setiap bahasa selalu memiliki istilah-istilah yang memiliki makna ganda sesuai kalimat yang menyertainya. Kajian yang meneliti relasi antara istilah kata dengan maknanya yang berbeda-beda adalah kajian semantik. Kajian semantik juga merupakan cabang dari ilmu tafsir Al-Qur’an maupun Ulumul Qur’an. Hal tersebut menjadi penting karena Al-Qur’an adalah kitab suci yang turun di jaman dulu dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Sementara itu, bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan sedangkan isi dari Al-Qur’an bersifat mutlak. Maka pemaknaan Al-Qur’an bergantung pada mufasir agar tidak melenceng dari jalurnya.

Kewajiban utama seorang muslim adalah melaksanakan sholat wajib 5 waktu. Al-Qur’an menuliskan memerintahkan sholat tersebut dengan kata Qāma yang berarti berdiri. Ibadah sholat tidak hanya berdiri, tapi juga rukuk dan sujud. Untuk memahami maksud Al- Qur’an mengapa menggunakan kata Qāma dalam memerintahkan sholat diperlukan ilmu semantik yang menjadi cabang kajian bahasa Al-Qur’an.

Dalam kajian semantik, makna sebuah kata dibedakan menjadi dua, yaitu makna dasar dan makna relasional. Makna dasar Qāma adalah قام – يقوم – قيام (qaama-yaquumu-qiyaam) yang  artinya berdiri. Sedangkan makna relasional adalah sesuatu yang menyesuaikan dengan kata yang  ditambahkan pada posisi tertentu, dalam bidang tertentu, dan berada pada relasi tertentu (Toshihiko, hlm. 10 dan 14). Kata Qāma dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna seperti berdiri, melaksanakan, menghadap, diadakan, dan menggantikan.

Makna kata Qāma yang pertama adalah berdiri. Kata tersebut terdapat dalam Q.S. An-Naba’[78]: 38

 يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar.

Berdasar kata sebelumnya yaitu yaum yang artinya hari dan kata setelahnya yaitu shaff yang artinya berbaris maka makna dari يَقُوْمُ dalam ayat tersebut bermakna “berdiri”. Makna tersebut juga diperkuat dengan adanya tafsir ibnu katsir (2002) yang memberikan keterangan demikian. Selanjutnya, makna kedua dari kata Qāma adalah melaksanakan yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah: 44:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْن

Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.

Kata aqimu dalam ayat ini bermakna melaksanakan karena keterangan selanjutnya menyebutkan tindakan rukuk dalam sholat. Meskipun redaksi yang digunakan bermakna dasar berdiri, tapi karena disebutkan gerakan rukuk maka makna dari aqiimu bermakna melaksanakan. Makana Qāma yang ketiga adalah menghadap. Kata tersebut terdapat dalam Q.S. Al-muthaffifin [83]: 6

يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

(yaitu) pada hari (ketika) semua orang menghadap Tuhan seluruh alam.

Sebenarnya kata ini masih identik dengan “berdiri”, namun untuk menjelaskan kata Qāma yang menjadi kata kerja yang dilakukan manusia yaitu “berdiri dengan posisi menghadap”, maka makna yang digunakan dalam ayat ini adalah menghadap. Karna yang ditekankan dalam ayat ini adalah untuk menghadap Alloh SWT. di hari kiamat. Makna Qāma selanjutnya adalah “diadakan”. Kata ini terdapat dalam surat Ibrahim ayat 41

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَاب

Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” Q.S. Ibrahim [14]: 41

Kata yaquumu dalam ayat ini tidak dimaknai dengan “berdiri” meskipun perilaku kala itu adalah berdiri di saat hari perhitungan karena melihat kata setelah dan sebelumnya. Yaquumu dalam ayat ini bermakna “diadakan” karena kata sebelumnya yaitu yauma merupakan dzaraf zaman dan kata setelahnya bermakna “hari penghitungan” sehingga kata yaang paling tepat untuk memaknai yaquumu adalah “diadakan” dengan di rofa’kan. Kata Qāma yang terakhir adalaah bermakna “menggantikan” yang terdapat di Q.S. Al-Maidah [5 ]: 107

فَاِنْ عُثِرَ عَلٰٓى اَنَّهُمَا اسْتَحَقَّآ اِثْمًا فَاٰخَرٰنِ يَقُوْمٰنِ مَقَامَهُمَا مِنَ الَّذِيْنَ اسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْاَوْلَيٰنِ فَيُقْسِمٰنِ بِاللّٰهِ لَشَهَادَتُنَآ اَحَقُّ مِنْ شَهَادَتِهِمَا وَمَا اعْتَدَيْنَآ ۖاِنَّآ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْن

Jika terbukti kedua saksi itu berbuat dosa, maka dua orang yang lain menggantikan kedudukannya, yaitu di antara ahli waris yang berhak dan lebih dekat kepada orang yang mati, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, “Sungguh, kesaksian kami lebih layak diterima daripada kesaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas. Sesungguhnya jika kami berbuat demikian tentu kami termasuk orang-orang zalim.”

Dalam ayat ini, kata yaqumani bermakana menggantikan karena pada lafadz فَاِنْ عُثِرَ عَلٰٓى اَنَّهُمَا اسْتَحَقَّآ اِثْمًا فَاٰخَرٰنِ   yang bermakna “Jika terbukti kedua saksi itu berbuat dosa, maka dua orang yang lain” berkedudukan sebagai subjek. Kemudian kata setelahnya yang menjadi objek adalah مَقَامَهُمَا yang bermakna “kedudukan”. Maka kata kerja yang tepat untuk berada di tengahnya adalah kata “menggantikan”.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa kata kerja yang digunakan untuk memerintah sholat adalah Qāma yang artinya “berdiri”. Al-Qur’an adalah panduan hidup yang berbahasa arab, bahasa selalu memiliki istilah yang memiliki makna ganda. Ilmu yang menkaji makna ganda dalam Al-Qur’an adalah semantik Al-Qur’an. Dalam kajian semantik, kata Qāma dalam Al-Qur’an dikaji dari berbagai sudut pandang salah satunya adalah dengan memperhatikan kata sebelum dan setelahnya. Dalam Al-Qur’an, kata Qāma memiliki beberapa makna yaitu berdiri, melaksanakan, menghadap, diadakan, dan menggantikan. Kata tersebut berbeda makna karena memperhatikan kalimat yang memuat kata tersebut.

Artikel kiriman dari Achmad Muzakki Abdirrozak, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...