Beranda Keislaman Tafsir Misteri Nama Nabi Muhammad dalam Injil, Antara Penafsiran Muslim dan Keberatan Kristiani

Misteri Nama Nabi Muhammad dalam Injil, Antara Penafsiran Muslim dan Keberatan Kristiani

Harakah.idAda pula ahli tafsir yang menyatakan bahwa nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam kitab terdahulu.

Dalam artikel sebelumnya, terkait penafsiran terhadap Qs. Al-A’raf: 157, disebutkan bahwa maksud penyebutan Nabi Muhammad SAW adalah penyebutan sifat-sifat beliau. Bukan nama beliau. Ini merupakan pendapat sebagian ahli tafsir. Tetapi, sebagaimana diketahui, bahwa ada pula ahli tafsir yang menyatakan bahwa nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam kitab terdahulu.

Penafsiran kedua ini didukung oleh sebuah ayat Al-Quran dalam surat Shaff: 6. Dalam ayat ini, Allah SWT berfirman, “(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).” Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Tafsir Tahlili yang diterbitkan Kementerian Agama dalam situs quran.kemenag.go.id menulis sebagai berikut: “Allah memerintahkan Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum Muslimin dan Ahli Kitab, kisah keingkaran kaum Isa ketika ia mengatakan kepada kaumnya bahwa ia adalah rasul Allah yang diutus kepada mereka. Ia juga membenarkan kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa, demikian pula kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ia menyeru kaumnya agar beriman pula kepada rasul yang datang kemudian yang bernama Ahmad (Muhammad saw).”

Keterangan ini menegaskan bahwa nama Nabi Muhammad SAW sudah disebutkan oleh nabi sebelumnya. Karena yang menyebutkan adalah Nabi Isa, jadi kemungkinan besar, pernyataan itu termuat dalam kitab suci yang diturunkan kepada beliau.

Berangkat dari teks ayat ini, para penafsir Al-Quran mulai mengeksplorasi teks-teks Injil untuk membuktikan kebenaran pernyataan Al-Quran tersebut. Dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama disebutkan beberapa bagian Injil yang dinilai mengacu pada Nabi Muhammad SAW. Seperti Kitab Kejadian 21: 13, Kitab Kejadian 21: 18, Kitab Kejadian 17: 20, Kitab Habakuk 3: 3, Kitab Ulangan 18: 17-22 (quran.kemenag.go.id). Ada pula yang merujuk kepada  Injil Yohanes 14-16 tentang sosok yang disebut “parakletos” dalam bahasa Yunani yang berarti “Penghibur”.

Penafsiran para sarjana Muslim ini ditolak oleh penganut Kristen dengan sejumlah sanggahan yang intinya adalah bahwa penafsiran para sarjana Muslim terkait ayat-ayat dalam Injil adalah keliru. Yang dimaksud oleh ayat-ayat Injil sebagai seseorang yang akan datang membawa wahyu Tuhan bukan Muhammad SAW. Mereka mengatakan bahwa kata “parakletos” sosok yang disebut sebagai Muhammad SAW sejatinya adalah Roh Kudus yang merupakan salah satu oknum dari Tri Tunggal.

Perdebatan ini sejatinya tidak mengarah kepada pembahasan tentang eksistensi nama Muhammad SAW dalam Injil. Perdebatan ini lebih umum menyasar kepada ada tidaknya ‘isyarat ilahi’ kepada Muhammad SAW dalam Injil. Dan pijakan yang digunakan adalah Injil yang berbahasa Yunani, atau yang telah diarabkan. Berbeda dengan Ahmad Deedad, seorang debator asal Afrika Selatan, yang mencoba melacak nama Muhammad dalam Injil berbahasa Ibrani.  Menurutnya, dalam Kitab Kidung Agung yang masih berbahasa Ibrani dikatakan: “Hikko mamittakim we kullo Muhammadim zehdoodeh wa zehraee baena Jarusalem.” Arti pernyataan ini adalah “Teramat manis tutur sapanya, ia adalah Muhammad, inilah kekasihku dan sahabatku. O puteri-puteri Yarusalem.” (Indra Latif Syaepu, Nama Muhammad Dalam Al-Qur’an Dan Injil, Jurnal Spiritualis, vol. 4, no. 1, Maret 2018).

Para mufassir klasik belum sampai pada titik yang dicapai oleh Ahmad Deedad di atas. Dan belum ditemukan sarjana Muslim yang melanjutkan eksplorasi ini lebih jauh.

Pada umumnya, Ahmad dalam Qs. Shaff: 6 diartikan sebagai manusia paling terpuji. Selain berarti sebuah nama pribadi seperti kita kenal sekarang. Menurut Imam Ibnu Asyur dalam kitab Al-Tahrir Wa al-Tanwir, kata “ahmad” harus diartikan dengan semua kemungkinan makna kata tersebut. Tetapi, pengertian “Ahmad” sebagai sifat lebih didukung oleh Ibnu Asyur dibanding pendapat yang menyatakan bahwa “Ahmad” hanya sekadar nama. Kata “Ahmad” menurut Ibnu Asyur merujuk kepada karakteristik paling menonjol dari nabi akhir zaman setelah Isa. Kata “Ahmad” adalah kata super relatif (ism tafdhil) yang menunjukkan bahwa sang nabi akhir zaman memiliki seluruh sifat keutamaan. Imam Ibnu Asyur mengatakan,

وَهَذِهِ الْكَلِمَةُ الْجَامِعَةُ الَّتِي أَوْحَى اللَّهُ بِهَا إِلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَرَادَ اللَّهُ بِهَا أَنْ تَكُونَ شِعَارًا لِجِمَاعِ صِفَاتِ الرَّسُولِ الْمَوْعُود بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، صِيغَتْ بِأَقْصَى صِيغَةٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ إِجْمَالًا بِحَسَبِ مَا تَسْمَحُ اللُّغَةُ بِجَمْعِهِ مِنْ مَعَانِيَ. وَوُكِلَ تَفْصِيلُهَا إِلَى مَا يَظْهَرُ مِنْ شَمَائِلِهِ قَبْلَ بِعْثَتِهِ وَبَعْدِهَا لِيَتَوَسَّمَهَا الْمُتَوَسِّمُونَ وَيَتَدَبَّرَ مَطَاوِيهَا الرَّاسِخُونَ عِنْدَ الْمُشَاهَدَةِ وَالتَّجْرِبَةِ.

Ucapan yang komprehensif yang diwahyukan Allah kepada Isa (dalam Qs. Shaff: 6) dikehendaki oleh Allah agar menjadi simbol yang mengisyaratkan seluruh sifat-sifat luhur Nabi yang dijanjikan SAW. Ucapan itu diungkapkan dengan bentuk super relative agar dapat menunjuk kepada sifat luhur secara umum sesuai dengan apa yang dapat diterima dalam penggunaan bahasa. Rincian ungkapan itu diserahkan kepada sifat-sifat yang ditampakkan oleh Nabi tersebut sebelum diutus dan setelah diangkat menjadi nabi, agar orang-orang cerdas dapat menangkapnya dan dapat merenunginya ketika menyaksikan langsung dan mengujinya secara langsung. (Al-Tahrir wa Al-Tanwir, jilid 28, hlm. 185).

Intinya, Imam Ibnu Asyur ingin menggeser perdebatan tentang “Namanya Ahmad” sebagai “Nama pribadi” kepada “karakteristik dan sifat-sifat”. Dengan demikian, untuk sementara dapat dihindari proses eksplorasi yang penuh polemik apakah ada nama “Ahmad” atau tidak dalam Injil. Hal ini mengingatkan kita kepada pendapat Ibnu Asyur lainnya, terutama ketika menafsirkan Qs. Al-A’raf: 157; dimana yang dimaksud dengan “Tertulis dalam Injil dan Taurat” adalah sifat-sifat dan karakteristiknya. Bukan namanya.  

Demikian ulasan singkat tentang misteri nama Nabi Muhammad dalam Injil. Misteri Nama Nabi Muhammad dalam Injil, Antara Penafsiran Muslim dan Keberatan Kristiani. Sampai saat ini, baik umat Islam maupun Kristen masih terus memperdebatkan isu ini. Kita masih bisa menyaksikan pendapat masing-masing dalam situs-situs internet yang terbuka. Bagi mereka yang baru mempelajari isu ini, sebagai sesama manusia yang merindukan kebenaran, hendaknya perdebatan itu tidak mengurangi rasa saling menghargai pendapat dan keyakinan masing-masing. Bisa dengan menggeser wilayah perdebatan dari polemis kepada ilmiah. Dari debat kusir kepada debat akademis. Ini akan lebih bermartabat, menarik dan menambah pengetahuan baru.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...