Misteri Sejarah Para Haji Perempuan di Zaman Kolonial Belanda

0
84

Harakah.id Dari catatan mengenai haji yang tersimpan dalam arsip Belanda, ternyata sejak tahun 1900-an jumlah jemaah perempuan dari Hindia-Belanda mencapai angka lebih dari 1.300 jiwa. Dalam waktu 25 tahun, jumlah ini naik drastis menjadi 14.200 orang.

Tahun ini pemerintah Arab Saudi melalui aplikasi e-Haj mengumumkan bahwa jemaah haji reguler untuk Indonesia mendapat 92.825 kuota. Sementara untuk haji khusus, Saudi juga sudah menentukan jumlah kuotanya, sebesar 7.226 jemaah. Kuota petugas tahun ini berjumlah 1.901 orang. Sehingga, total jumlah kuota haji Indonesia adalah 100.051 orang.

Dari 100.051 orang, saya pribadi belum menemukan jumlah laki-laki dan perempuan. Terlepas dari hal itu, Haji merupakan ibadah rukun Islam ke-5 bagi yang mampu. Setiba di Tanah Air, gelar haji akan selalu dinisbatkan. Tidak hanya laki-laki, begitupun perempuan dengan sebutan Hajjah. Pertannyaanya, sejak kapan partisipasi perempuan Indonesia pergi ke Tanah Suci?

Sampai saat ini belum ada yang memastikan siapa perempuan pertama Indonesia pergi ke tanah suci atau dikenal dengan sebutan Ummul Qura, ibu dari segala tempat di muka bumi.

Berangkat dari hal di atas, setidaknya jika berdasarkan catatan M. Shaleh Putuhena dalam Histriografi Haji Indonesia (2012), haji Nusantara telah dimulai awal abad ke-16 oleh para pedagang, diplomat dan kemudian dianggap sebagai angkatan perintis haji Indonesia.

Berbeda halnya dengan Martin Van Bruinessen dalam Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji (1990), menurut Martin, orang-orang Muslim Hindia Belanda pada pertengahan Abad ke-17 berduyun-duyun datang ke tanah suci dan kemungkinan besar perempuan ikut serta dalam perjalanan tersebut.

Selain itu, seorang Sejarawan muda sekaligus peneliti pada Leibniz Zentrum Moderner Orient Berlin, Tika Ramadhini melakukan penelitian berjudul Depiciting the Hajjah: Female Pilgrims from the Dutch East Indies in the Late 19th-Early 20th Century, (2016) memuat informasi penting tentang perjalanan haji perempuan dari Nusantara lewat jalur rempah.

Tika menyebut, pada masa Vereenigde Oost-Insische Copagnie (VOC) catatan tentang haji lebih lengkap seperti yang tertua adalah seorang haji di Banda, Maluku. Tetapi bagaimana dengan jemaah haji perempuan?

Dalam disertasinya yang bersumber dari arsip-arsip kolonial terdapat catatan Mirza Abu Thalib, seorang pemungut pajak India di tahun 1799 bahwa dirinya melihat wanita di Makkah dari negeri Belanda. Menurut Tika, catatan itu mengandung bias dan harus diteliti lebih mendalam.

Saat Pemerintah Hindia-Belanda menerapkan kebijakan Ordonansi Haji pada rentang waktu 1824-1859, kata Tika; meskipun rukun Islam itu diperuntukkan bagi seluruh umat Islam tanpa memandang jenis kelamin, namun ada aturan yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan, antara lain kewajiban perempuan untuk didampingi pasangan atau mahram. Oleh karena itu, sejak dulu, perempuan dari Hindia Belanda berangkat bersama dengan suami atau keluarganya.

Pada akhir abad ke-19, di mana Haji merupakan salah satu bisnis yang diatur langsung pemerintah kolonial. Bagi Tika, informasi tersebut memberi secercah cahaya melacak kehadiran jama’ah perempuan dari Hindia-Belanda.

“Dari catatan mengenai haji yang tersimpan dalam arsip Belanda, ternyata sejak tahun 1900-an jumlah jemaah perempuan dari Hindia-Belanda mencapai angka lebih dari 1.300 jiwa. Dalam waktu 25 tahun, jumlah ini naik drastis menjadi 14.200 orang. Jemaah terbanyak berasal dari Sumatera Barat dan Jawa Barat, seperti diabadikan dalam bentuk foto sebelum tahun 1887 oleh Snouck Hurgronje ialah jemaah haji dari Banten,” tulis Tika.

Menurut Tika, cerita perempuan dalam perjalanan menuju Tanah Suci mudah hilang karena sedikitnya perempuan yang menulis maupun kurangnya sumber yang menyebutkan tentang mereka. Namun, Tika menemukan sebuah majalah Suara Aisyiyah edisi Desember 1932 yang menceritakan perempuan berhaji sepulang dari Tanah Suci.

“Hajjah Fatimah adalah seorang perempuan Indo-Eropa yang mualaf tinggal di Kalianget, Jawa Timur kemudian berangkat haji bersama anaknya sekaligus belajar agama Islam. Ketika pulang, Fatimah menjadi pendakwah dan anaknya menjadi seorang guru agama. Bagi jemaah yang menetap disana, mereka memiliki banyak aktivitas untuk bertahan hidup”, catat Tika.

Tika memberikan Fakta dalam rekaman interogasi (verbaal verklaring) dan arsip foto. Salah satu arsip foto koleksi Perpustakaan Leiden, Belanda menyimpan foto H.O.S Tjokroaminoto sang Imam Besar Sarekat Islam bersama istri di atas kapal duduk bersama rombongan haji lain menuju Mekkah.

Demikian sekilas informasi tentang napak tilas haji perempuan di zaman kolonial.