Beranda Keislaman Tafsir Mufassir Perempuan yang Amat Langka Itu Bernama Aisyah Bintu Syathi'

Mufassir Perempuan yang Amat Langka Itu Bernama Aisyah Bintu Syathi’

Harakah.idDibanding laki-laki, tak banyak perempuan yang fokus dan bergelut dalam dunia tafsir. Aisyah Bintu Syathi’ adalah salah satu mufassir perempuan langka. Beliau punya kontribusi besar dalam dunia tafsir.

Bintusy Syathi’ adalah  seorang wanita yang dinobatkan sebagai pakar ilmu sastra oleh beberapa institusi seperti pemerintah Mesir, pemerintah Kuwait, dan Raja Faishal dan merupakan wanita pertama yang mengenyam pendidikan di Al-Azhar.

Al-Azhar merupakan kiblat dan menara keilmuan Islam, tak berlebihan ungkapan demikian melihat banyaknya pelajar dari seluruh penjuru dunia berdatangan menuntut ilmu di Al-Azhar. Ditambah peranannya dalam membidani kelahiran ulama-ulama dan tokoh-tokoh muslim dalam menyebarkan manhaj Islam yang wasathi atau moderat, samhah atau toleransi.

Al-Azhar merupakan universitas tertua di dunia. Salah satu keistimewaan yang didapati ketika mengenyam pendidikan di Al-Azhar ialah tempat talaqqi pengajian atau biasa disebut Ruwaq Al-Azhar. Berbagai macam ilmu dihadirkan ditempat ini seperti ilmu syariah, ilmu aqidah, dan lainnya. Fungsinya sebagai tempat penyebaran ilmu yang bernafaskan Islami dan kegiatan dakwah lainnya.

Kata Azhari atau Azhariyyah sendiri adalah sebutan bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan di Al-Azhar. Baik duduk di bangku perkuliahan maupun duduk di majelis Masjid Al-Azhar. 

Lahir di lingkungan Azhari, yaitu ayahnya sendiri yang juga menjadi salah satu ulama besar di Al-Azhar bernama Syekh Muhammad Bin Ali Abdurrahman. Dari ayahnya inilah seolah membuktikan bahwa sejak kecil, As-Syathi’ telah ditanamkan nilai-nilai keagamaan, mengingat kehidupannya memang berada dalam lingkungan keluarga Muslim yang taat dan konservatif.

Perjalanan Hidup Asy-Syathi’

Wanita yang memiliki nama asli Aisyah Abdurrahman ini lahir pada tanggal 6 November 1913 M di wilayah sebelah barat Delta Nil, di Dimyath Mesir. Tepatnya di desa bernama Syubra Bakhum yang berada di tepi pantai. Karena inilah Aisyah lebih dikenal dengan Bint Asy-Syathi’ (bahasa Arab: بنت الشاطئ) yang memiliki arti ‘Anak Perempuan dari Pesirir’.

Pada tahun 1918 saat umurnya lima tahun, ia mulai belajar menulis dan membaca di bawah bimbingan Syekh Mursi di Syubra Bakhum, desa ayahnya. Di bawah bimbingan Syekh Mursi inilah, ia mulai menghafal Al-Qur’an. Usai menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan ia kembali ke kampung halamannya, Dimyath. Lalu, dilanjut diajar oleh ayahnya.

Pada masa kecilnya, Bintusy Syathi’ hampir tidak memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Pada tahun 1920, Bintusy Syathi’ menyatakan dengan terus terang keinginannya untuk masuk sekolah formal, akan tetapi ia sangat bersedih karena keinginan tersebut ditolak oleh ayahnya. Menurut ayahnya, tidak layak bagi putri seorang Syekh bersekolah di sekolah sekuler, dalam pandangan ayahnya seorang anak perempuan seharusnya belajar di rumah saja.

Ibunya, merasa iba terhadap anaknya yang tidak mendapat restu dari ayahnya untuk melanjutkan studi, ibunya menyampaikan hal itu kepada kakeknya, Syekh Ibrahim Damhuji. Setelah melakukan komunikasi dengan sang kakek, ayahnya kemudian menyetujui keputusan anaknya untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi dengan syarat-syarat tertentu. 

Pada tahun 1939, ia mendapatkan gelar sarjana dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab dari Universitas Fuad I di Kairo yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Kairo. Pada tahun 1941, barulah ia menyelesaikan program master dalam bidang studi yang sama.

Lalu, ia menikah dengan seorang dosen Universitasnya, Profesor Amin Al-Khouli, yang memiliki organisasi khusus sastra dan intelektual terkenal di Madrasah Al-Amna’i. Hingga dikaruniai 3 anak darinya dan dia melanjutkan karir ilmiahnya hingga menerima gelar doktor pada tahun 1950 dan melakukan sidang disertasi oleh Dekan Sastra Arab Dr. Taha Husein.

Sang Mufassirah dari Mesir

Lebih dari 40 buku tentang ajaran Islam telah ia wariskan, puluhan buku tentang sastra Arab, novel, ratusan makalah penelitian, dan artikel yang tak terhitung jumlahnya di surat kabar harian dan mingguan selama rentang waktu 60 tahun membuatnya menjadi wanita Arab yang sukses di abad ke-20.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah At-Tafsir Al-Bayani li Al-Qur’an Al-Karim. Ia juga dinobatkan sebagai Mufassir wanita pertama di dunia. Dengan gaya penafisrannya yang objektif. Tak dapat diragukan lagi bahwa Bintusy Syathi’ adalah sosok mufassirah yang kontroversial, di mana ia lebih banyak mengarahkan tafsirnya kepada karakteristik-karakteristik sastra. Dapat disimpulkan bahwa Bintusy Syathi’ adalah mufassirah ternama di era kontemporer ini.

Pada hari Selasa, 1 Desember 1998, Bintusy Syathi’ menghembuskan nafas terakhirnya. Ia wafat pada usia 85 tahun, karena serangan jantung. Ia telah meninggal dunia tapi namanya akan selalu dikenang atas perannya sebagai wanita muslimah yang intelektual.

Namanya pun diabadikan di beberapa sekolah dan tempat kuliah di Dunia Arab. Setelah kematiannya, Pemerintah Mesir mengeluarkan perangko sebagai penghargaan untuknya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...