Beranda Keislaman Hadis Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.idMuhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan bangunan ilmu hadis, nyatanya adalah tradisi yang total dan bermozaik.

Untuk apa buku Muhaddis Garis Lucu ditulis?

Satu tantangan yang tak kunjung reda dari alam akademia orientalistik adalah bahwa hadis tidak akan kunjung bisa diyakini otentisitasnya selama belum ada naskah fisik yang menunjukkan bahwa aktivitas periwayatan terjadi pada rentang masa pasca Nabi Muhammad wafat sampai dibukukannya kitab-kitab hadis. Para peneliti yang tumbuh dalam iklim berpikir orientalisme Barat lantas menyodorkan satu keping jalan keluar; menolak argumentasi berbasis sanad dan mengajukan [redaksi] hadis sebagai dokumen sejarah.

Di sinilah ambiguitas muncul. Di satu sisi, para peneliti yang memperkenalkan historiografi kritis tersebut meletakkan hadis sebagai sumber primer, sebagai dokumen sejarah. Namun di sisi yang lain, ada gejala penghakiman dan sebuah sikap yang meletakkan teks sebagai benda bisu, yang kemudian berlanjut pada lahirnya cara pandang yang seolah-seolah mengganggap bahwa para ulama klasik perawi hadis tidak cukup berintegritas hanya karena menyediakan wujud argumentasi soal otentisitas hadis yang tidak sesuai dengan definisi argumentasi yang rasional, empirik dan absah menurut mereka. Alih-alih diberi kesempatan untuk menampilkan dirinya sebagai sebuah lokus tradisi yang hidup dan berdenyut, kebenaran historis yang menyertai lahirnya sebuah teks justru ditindih secara positivistik dengan dalih historisitas itu sendiri.

Positivisme sejarah lalu mendorong mereka melakukan mutilasi tradisi masa lalu; mengabaikan tradisi lisan, sekaligus menempatkan tradisi tulis sebagai definisi kebenaran sejarah hadis itu sendiri. Padahal, fakta bahwa transmisi periwayatan juga menitipkan peran pada tradisi lisan dan memori kolektif, adalah fakta historis yang – meskipun tidak semuanya bisa diakses dalam wujud karya hari ini – merupakan argumentasi untuk memastikan bahwa hadis-hadis itu benar-benar datang dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Buku Muhaddis Garis Lucu ini memotret bagaimana tradisi tulis, tradisi lisan dan memori kolektif berkerja secara totalitas membentuk tradisi periwayatan hadis di masa lalu; utamanya di masa-masa rentang abad yang dianggap kosong dan hitam menjelang kodifikasi. Tanpa harus berlagak hendak mengkritisi pandangan sarjana revisionis yang lagi trend, buku ini secara tidak langsung hendak terlibat dalam perbincangan ruwet itu.

Lho, kok serius?! Ah, lupa. Padahal ini kan buku Muhaddis Garis Lucu, bukan Garis Serius! Pesan segera di sini!

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...