Muhammad Abduh, dari Malas Menghafal Sampai Bikin Gerakan Pembaharuan Islam di Mesir

0
112

Harakah.id Muhammad Abduh salah satu tokoh pembaharu Islam dari Mesir. Muhammad Abduh juga seorang pemimpin dan tokoh Islam yang revosioner di masanya.

Muhammad Abduh  salah satu tokoh pembaharu Islam dari Mesir. Muhammad Abduh juga seorang  pemimpin dan tokoh Islam yang revosioner di masanya.

Muhammad Abduh lahir di Mesir  pada tahun 1849 M dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Abdullah bin Hasan yang memiliki hubungan sosial dengan bangsa Turki dan Ibunya berasal dari  dusun dekat Thanta daerah Gharbal.

Sejak kecil  Abduh dididik pendidikan agama dari ayahnya. Umur 19 tahun dikirim ke sekolah masjid Ahmadi di Thantha menghafal al-Quran dan ilmu bahasa Arab.

Tidak puas sistem pendidikan yang ada ia keluar dari sekolah masjid Ahmadi. Bimbingan pamannya bernama Syekh Darwisy membuat Abduh kembali ke sekolah masjid Ahmadi.

Beberapa tahun kemudian Abduh sekolah di sekolah tinggi Azhar. Lagi-lagi di sekolah ini Abduh tidak puas dengan sistem pendidikan yang ada.

Sistem pendidikan tinggi Al-Azhar yang dipandang masih tradisional dan metode menghafal. Sistem pendidikan di Al-Azhar membuat Abduh jenuh dan bosan.

Ketika sekolah di Al-Azhar ini pula Abduh bertemu Jamaluddin Afghani yang bekerja sebagai guru di Azhar. Pertemuan Abduh dengan Afghani membawanya menjadi seorang reformis sejati dan memberi semangat baru dalam memperbaharui umatnya menjadi lebih baik baik.

Sepak terjang Abduh sebagai pembaharu Islam terlihat saat Abduh diangkat menjadi pemimpin redaksi majalah Al-Waqa’i Al-Misriyah bertepatan masa gerakan Arabi.

Saat menjadi pemimpin redaksi majalah Al-Waqa’i Al-Misriyah Abduh  melakukan gerakan pembaharuan dan  perubahan. Cara unik Abduh dalam melakukan pembaharuan  dengan melancarkan kritik terhadap pemerintah setempat melalui artikel-artikel tentang masalah agama, sosial, politik dan kebudayaan. 

Media ini pula yang membuat Abduh dijatuhi hukuman diasingkan ke luar negeri selama 3 tahun 3 bulan tepatnya bulan September 1882 dengan tuduhan terlibat dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Urabi Pasya tahun 1882.

Ia dilarang pulang sebelum memperoleh izin dari pemerintah Mesir. Hukuman itu jatuh pada bulan September 1882. Sebelum tahun itu berakhir, ia meninggalkan Mesir pergi ke negeri Syam mencari tempat perlindungan hukum sampai Ia bisa kembali ke tanah airnya kembali.

Di balik itu semua justru sahabat yang dipercayainya berbalik menentang dan menjatuhkannya. Entah apa alasannya yang membuat Abduh dan Afghani sampai terbuang dari Mesir .

Faktor yang menyebabkan Abduh dan Afghani dibuang dari Mesir oleh Khedevi Taufiq Pasha salah satunya akibat berbagai kejadian baru di Mesir.

Faktor lain yang membuat Abduh diusir dan dibuang dari Mesir, karena pengaruh campur tangan bangsa asing. Ketika berada  di pembuangan tahun 1882-1887 itu Ia bertemu Jamaludin Al-Afgani kemudian pergi ke Paris tahun 1884 selama 10 bulan.

Paris ini pula Ia bersama Afgani mendirikan gerakan Al-Urwat Al-Wuthqa atau rantai yang tidak pernah putus adalah gerakan untuk menyadarkan, memperjuangkan negara Islam.

Untuk mewujudkan cita-cita itu Ia bersama Al-Afghani menerbitkan majalah yang senama dengan gerakan tersebut bernama majalah Al-Urwatul Al-Wustqa di Paris. 

Jurnal Urwutul ini adalah jurnal mingguan politik yang melaporkan dan memberi gambaran keadaan politik dan perjuangan muslim di negara-negara Islam untuk melepaskan diri dari dominasi negara-negara Barat.

Majalah ini memang luar biasa pengaruhnya di dunia Islam, mendapat reaksi beragam dari kalangan masyarakat Islam saat itu dan akibatnya majalah ini tak berumur lama akibat dilarang terbit oleh pemerinta Inggris, India dan Mesir.

Berhentinya majalah Al-Urwah Al-Wuthqa membuat Abduh dan Afgani menghentikan segala kegiatan politiknya dan membuat mereka berdua Abduh dan Afghani berpisah. Abduh melanjutkan perjalanannya ke Beirut tahun 1884, sedangkan Afgani ke Rusia.

Pasca berhentinya majalah Al-Urwah Al-Wuthqa Abduh mengembara menjelajah jazirah Arab di negeri-negeri Islam. Abduh yang terbuang ke luar negeri memberi hikmah baginya, karena dengan kejadian ini, ia bisa melakukan gerakan pembaharuan di negeri orang dengan pembaharuan pendidikan, pengajaran di sejumlah negeri di tanah Arab, salah satunya mengajar di Madrasah Sultaniyah akhir tahun 1885.

Di sekolah ini Abduh melakukan pelbagai pembaharuan mulai melakukan perubahan adminitrasi, sistem pendidikan dengan menambah pengajaran tentang fiqh, sejarah dan ketuhanan hingga tahun 1888.

Di sekolah ini Ia mengajar mantiq, balaqah, dan sejarah Islam. Di kota ini Ia juga banyak menulis kitab-kitab dalam bahasa Arab dan beberapa buku terjemahan. Abduh juga menyelesaikan buku Risalah Al-Tauhid yang ditulisnya semasa ia mengajar di sekolah Sultaniyah.

Pada masa tahun berikutnya tahun 1899 tepatnya tanggal  3 Juni Abduh diangkat menjadi mufti. Mufti, sebuah jabatan yang dianggap paling tinggi kemudian jabatan ini ia jabat sampai ia  meninggal dunia tahun 1905. Jabatan Mufti ini pula menjadi tempat untuk merealisasikan cita- citanya selama ini.

Muhammad Abduh tidak saja menjabat sebagai mufti, melainkan juga sebagai hakim di kota Benha, beberapa kota di luar Kairo dan selanjutnya menjabat sebagai penasehat pada Mahkamah Tinggi di Kairo. Ia diangkat sebagai Mufti 3 Juni 1899 menggantikan Syekh Hasunnah An-Nawawi.

Pada masa itu, Abduh terus berusaha melakukan gerakan pembaharuan salah satunya memperbaiki pandangan masyarakat tentang mufti. Mufti ketika itu dipandang sebagai pejabat resmi hanya untuk keperluan pemerintah Mesir dan penasehat hukum kepentingan negara semata. Saat itu, Abduh tidak hanya bekerja fokus pada masalah negara, melainkan juga memperhatikan kepentingan masyarakat yang tak luput dari perhatiannya seperti pelayanan publik pada masyarakat yang membutuhkannya.

Ketika itu Abduh bekerja  dengan menegakkan kebenaran, keadilan dan memasukkan undang undang agama dalam bekerja sebagai mufti salah satunya mengeluarkan fatwa-fatwa yang kontroversial saat seperti: menghalalkan daging yang disembelih orang Yahudi dan Kristen, halalnya bagi orang Islam menyimpan uang di kantor pos dan sejumlah fatwa lainnya.

Gerakan pembaharuan yang dilakukannya ketika Abduh menjabat sebagai mufti ini seringkali mendapat kritikan dari sebagian masyarakat kala itu, namun tidak membuatnya patah semangat. Sisi lain dari fatwa- fatwa yang dikeluarkan Abduh ketika menjadi Mufti menunjukkan Abduh dalam mengambil keputusan tidak terikat pada pendapat ulama tertentu dan tidak terikat kepada pendapat atau pengaruh suatu mazhab.

Pembaharuan yang dilakukan Abduh saat menjabat sebagai hakim hingga mufti tersebut tak lepas dari sikap Abduh dalam berijtihad. Ijtihad Abduh dalam mengambil suatu keputusan langsung pada sumber hukum Islam: Al-Quran dan Sunnah.

Dengan kata lain Abduh  tidak terikat pada mazhab tertentu  hingga kemudian Muhammad Rasyid Ridha menyebut Abduh sebagai Mujtahid Al-Qadhi yaitu mujtahid mandiri dalam arti Abduh dalam mengambil keputusan secara mandiri langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar suatu pertimbangan sebelum memutuskan suatu persoalan tanpa terikat oleh keputusan ulama tertentu.

Pada tahun 1892, ia mendirikan organisasi sosial bernama Perserikatan amal kebajikan yang bertujuan menyantuni fakir miskin dan anak-anak yang tidak mampu. Pada masa itu secara perlahan tapi pasti Abduh mencapai puncak karir. Puncak karir Abduh diraih setelah terjun ke dunia pendidikan mengajar di Al-Azhar.

Ketika berada di Al-Azhar melihat sistem pendidikan Mesir tradisional dan kuno membuat pendidikan makin tidak sehat dan dualisme pendidikan. Pendidikan di Al-Azhar terjadi dualisme  yakni tipe pendidikan umum dan pendidikan agama. Kondisi pendidikan yang demikian bagi Abduh membuat kualitas pendidikan makin tidak baik.

Sadar akan kemunduran yang dialami Mesir mendorong Muhammad Abduh mengadakan pembaharuan di berbagai bidang salah satunya pembaharuan bidang pendidikan.

Pembaharuan pendidikan yang pertama kali dilakukan Muhammad Abduh memperbaiki kualitas pendidikan yakni dengan merumuskan tujuan pendidikan dengan menekankan pada pendidikan akal.

Pendidikan akal ini ditujukannya sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berpikir bagi Abduh agar kejumudan berpikir yang telah merata di kalangan umat Islam dapat diterobos.

Selain pendidikan akal Ia juga mementingkan pendidikan spiritual dengan tujuan melahirkan generasi yang mampu berpikir, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan jiwa bersih.

Pendidikan akal, moral yang dikembang Abduh dengan harapan mampu menemukan ilmu pengetahuan, mengimbangi kebudayaan Barat yang telah lama maju.

Pemikiran pendidikan Muhammad Abduh diapplikasikan dalam seperangkat kurikulum pendidikan sejak tingkat dasar sampai tingkat atas adalah pada tingkat dasar pelajaran yang diajarkan mencakup membaca, menulis, berhitung, pelajaran agama, dan sejarah. 

Pada tingkat menengah pelajaran yang diajarkan meliputi Mantiq,akidah, fiqh, akhlak, pelajaran Islam, sedang mata pelajaran yang diajarkan tingkat atas mencakup tafsir, hadis, bahasa Arab dengan segala cabangnya, akhlak, ushul fiqh, sejarah Islam, retorika dan dasar-dasar berdiskusi serta ilmu kalam.

Kurikulum pendidikan yang dikembangkan Abduh tidak saja  memasukkan ilmu-ilmu Barat seperti: ilmu pasti, ilmu bahasa, ilmu sosial dan sebagainya ke dalam kurikulum.

Muhammad Abduh juga menciptakan sistem pendidikan baru. Sistem pendidikan baru tersebut dilakukan dengan mempelajari bersama-sama dengan ilmu-ilmu agama dan ilmu umum sebagaimana terlihat  dalam kurikulum ciptaan Abduh.

Pemikiran pendidikan Muhammad Abduh dalam kurikulum pendidikan dari tingkat dasar, menengah dan atas. Muhammad Abduh  menekankan pada penanamkan pengertian, contoh teladan serta semangat dengan mencoba menghilangkan dualisme dalam pendidikan yang ada saat itu. 

Muhammad Abduh juga menerapkan metode diskusi dalam sistem pengajaran dalam setiap proses belajar mengajar untuk memberikan pengertian setiap mata pelajaran.

Sistem pendidikan sebelumnya para pendidik dalam mengajar lebih menerapkan metode hafalan menurut Abduh metode hafalan demikian akan merusak daya nalar.

Pembaharuan pendidikan demikian itu diterapkan di lembaga tinggi Al-Azhar tidak hanya sistem pengajaran, kurikulum, pelayanan kesehatan bagi mahasiswa sampai asrama mahasiswa.

Pembaharuan yang dilakukan Abduh luar biasa bagi kemajuan Al-Azhar. Jumlah mahasiswa terus meningkat hingga Al-Azhar menjadi pusat pendidikan di dunia. 

Artikel ini pernah terbit di madrasahdigital.co