Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

0
370
Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.idMuslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang tidak suka dengan kelompok keberagamaan yang banyak melakukan kebidahan.

Para ulama terdahulu tidak pernah memperkenalkan istilah Muslim tapi Musyrik. Kaum Khawarij hanya mengenal Muslim-Kafir. Muktazilah mengenalkan ajaran Muslim-Fasik-Kafir.

Belakangan, ada kelompok yang memperkenalkan ajaran Muslim tapi Musyrik. Dalam sejarah umat Islam, istilah atau stigma Muslim tapi Musyrik baru dikenal pada masa belakangan. Apakah ini ajaran baru?

Kelompok baru tersebut rupanya punya pemahaman, tabarrukan pada orang saleh sama dengan menyembahnya. Menyembah orang saleh adalah termasuk kesyirikan. Jadi, jika seorang Muslim melakukan tabarruk pada orang saleh, dia termasuk Muslim tetapi Musyrik.

Istilah tersebut bermasalah karena beberapa alasan. Pertama, istilah tersebut adalah istilah baru. Al-Quran dan Al-Sunnah tidak pernah menggabungkan kedua kata tersebut untuk menyebut satu pihak yang sama. Begitu pula para ulama salaf al-salih. Jika istilah tersebut digunakan dalam agama, berarti itu adalah istilah baru.

Kedua, menyebut Muslim sebagai Musyrik sama dengan mengkafirkan mereka. Menyebut Musyrik dengan Muslim berarti menganggap si Musyrik telah masuk Islam. Anggapan semacam itu tidak diperbolehkan. Mengkafirkan Muslim sudah jelas dilarang. Sedangkan menganggap Musyrik sebagai Muslim sama dengan mengingkari kekafirannya. Mengingkari kekafiran adalah kafir.

Ketiga, tabarruk pada orang saleh bukan berarti menyembahnya. Jika dianggap menyembah, maka niscaya Rasulullah saw. tidak akan mengizinkan para sahabatnya bertabarruk kepada beliau. Faktanya, dalam banyak riwayat sahih disebutkan bahwa para sahabat bertabarruk kepada beliau. Setelah mencukur rambutnya, beliau membagi-bagikannya kepada para sahabatnya. Jika tabarruk dianggap menyembah kepada yang ditabarruki, niscaya Rasulullah saw. akan melarangnya. Karena Rasulullah saw. tidak melarang justru melakukan, berarti tabarruk adalah syariat.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : لَمَّا رَمَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجَمْرَةَ وَنَحَرَ نُسُكَهُ وَحَلَقَ نَاوَلَ الحَالِقُ شِقَّهُ الأَيْمَنَ فَحَلَقَهُ، ثُمَّ دَعَا أَبَا طَلْحَةَ الأَنْصَارِيَّ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ ، ثُمَّ نَاوَلَهُ الشِقَّ الأَيْسَرَ، فَقَالَ: اِحْلِقْ فَحَلَقَهُ ، فَأَعْطَاهُ أَبَا طَلْحَةَ، فَقَالَ: اِقْسِمْهُ بَيْنَ النَّاسِ

Dari Anas bin Malik yang berkata, ”Manakala Rasulullah saw. telah melaksanakan lempar jumrah, menyembelih korbannya, dan mencukur rambutnya, si pencukur memulai dengan mencukur sebagian rambut Rasul yang sebelah kanan, kemudian Rasulullah saw. memanggil Abu Thalhah al-Anshari, dan Rasululllah saw. beri rambut itu kepadanya, kemudian si pencukur memegang bahagian yang kiri, Rasul berkata, ”Cukurlah.” Si pencukur pun mencukur (rambut Rasul yang bagian kiri), Rasulullah saw. memberikan rambut itu kepada Abu Talhah, kemudian beliau berkata: ”Bagi-bagikanlah kepada orang-orang”. (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Sampai di sini, jelas lah bahwa Muslim tetapi Musyrik adalah istilah baru yang penuh kerancuan. Istilah yang bertujuan mengkafirkan umat Islam yang menjalankan syariat tabarruk.