fbpx
Beranda Khazanah Muslimah Bercadar di Persimpangan Jalan, Mereka yang Dibatasi Karena Pakaian dan Keyakinannya

Muslimah Bercadar di Persimpangan Jalan, Mereka yang Dibatasi Karena Pakaian dan Keyakinannya

Harakah.id – Muslimah bercadar di persimpangan jalan, antara memegang teguh keyakinannya dan tekanan wacana keagamaan yang diproduksi oleh elit agama. Mereka yang terbatasi hanya karena persoalan pakaian. Pertanyaannya, apakah ideologi kebebasan dan keragaman mengecualikan cadar sehingga penggunanya tidak diberi kesempatan?

- Advertisement -

Beragama di negeri ini cenderung mudah. Sebab Indonesia merupakan negeri yang ber-ketuhanan. Ini jelas tergambar dalam Pancasila yang adalah semboyan bangsa Indonesia. Di mana, “Ketuhanan yang Maha Esa” menjadi sila yang pertama.

Jelas itu memberi sinyal, kalau negeri ini adalah negeri beragama. Meski bukan negara agama, namun Indonesia adalah negara yang beragama.

Undang-undang pun menjamin hak kemerdekaan para manusia beragama untuk menjalankan agama yang diyakininya. Sebagaimana dalam UUD 1945, Bab XI, Pasal 29, Ayat 1-2:

1. Negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa.

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Negara menjamin manusia beragama untuk bisa merdeka menjalankan agamanya. Umat Kristen merdeka beribadah, Hindu merdeka, Budha merdeka, Kong Hu Chu merdeka, dan tentu Islam yang adalah agama mayoritas pastinya juga merdeka. Semua pemeluk agama yang diakui di Indonesia, merdeka menjalankan keyakinan agamanya.

Baca Juga: Membincang Kembali Cadar, Media, dan Identitas Perempuan Muslim

Ber-Islam di negeri ini sangat mudah, sangat mudah.

Di kantor, mau salat? Ada musholla. 

Di sekolah, mau salat? Juga ada musholla. 

Dalam perjalanan, mau salat? Masjid ada di mana-mana. 

Hari jum’at, waktu kerja cenderung pendek, sehingga bisa melaksanakan salat jum’at dengan baik.

Awal Ramadhan diberi libur. Akhir Ramadhan pun juga ada liburnya. Pas, hari raya idul fitri merupakan hari libur nasional. Jadi, ibadah puasa dan hari raya umat muslim bisa jalan dengan baik. 

Selain itu, masih banyak juga kemudahan ber-Islam di negeri ini. So, ber-Islam di negeri ini cenderung mudah, kan?

Ya, ber-Islam mudah, namun berbeda dalam ber-Islam di negeri ini yang cenderung sulit. Di negeri “Bhineka Tunggal Ika” ini, kadang, eh tak hanya kadang, tapi sering juga sih sesama muslim tak bisa atau tak mau saling menghormati perbedaan paham dalam ber-Islam.

Ironisnya, hal ini sering diperparah oleh para pengambil kebijakan dalam beragama, elit-elit agama yang suka mencontohkan sikap ego kebenaran. Di mana, kebijakan yang mereka ambil sering mendiskriminasikan golongan tertentu.

Sadar tak sadar, para pengambil kebijakan dalam beragama menjadi semacam kelompok elit feodal yang meniranisasi sebagian golongan muslim yang punya paham ber-Islam yang agak beda dengan mereka. Saya sebut sikap ini sebagai bentuk “tirani pengamalan” agama oleh mereka yang katakanlah berposisi sebagai elit agama.

Baca Juga: Hukum Pakai Cadar atau Niqab Opsional, Tidak Diperintahkan dan Tidak Dilarang

Dalam “The Oxford Handbook of Sociology of Religion”, dijelaskan pandangan Michel Foucault, “…religous discourse is framed and positioned in and through the human process of power/knowledge.” Artinya: diskursus agama terbingkai dan terposisikan dalam dan melalui proses kekuasaan/pengetahuan manusia.

Sikap elit agama yang kadang mendahulukan ego kebenaran sendiri membingkai dan memposisikan diskursus agama. Sehingga pengamalan agama dalam masyarakat dituntut untuk disesuaikan dengan pola beragama yang mereka yakini. Sikap elit agama yang demikian di satu sisi merugikan kelompok lain. Sehingga tanpa sadar sudah mendiskriminasi golongan atau kelompok yang punya paham berbeda dengan mereka dalam beragama (dalam konteks ini adalah ber-Islam).

Satu contoh kelompok yang sering terdiskriminasi atau menjadi korban “tirani pengamalan” oleh para elit agama (dalam konteksi ini Islam), adalah para muslimah bercadar. Kini, kita menemukan fenomena wanita muslimah bercadar di persimpangan jalan. Contohnya sudah banyak di Indonesia, pelarangan cadar yang pernah dilakukan di UIN Jogja, niat pelarangan cadar oleh Menteri Agama, dan  yang baru-baru ini–masih viral–muslimah bercadar yang disuruh buka cadar saat mau tampil lomba MTQ tingkat provinsi di Sumatera Utara (Sumut).

Kejadiannya: juri atau panitia (kurang jelas dalam video sebab hanya kedengaran suaranya), meminta si muslimah itu untuk membuka cadar, kalau tak mau, maka akan didiskualifikasi. Ya, jelas si muslimah itu tak mau dan lebih memilih didiskualifikasi daripada mengorbankan paham yang diyakininya.

Aturan tak boleh pakai cadar saat tampil MTQ, katanya berdasar dari aturan LPTQ Nasional yang memang tak mengamini peserta yang bercadar. Namun, berdasarkan dari beberapa berita media, semisal dari Suarasumut.id, kalau untuk lomba MTQ di Sumatera Utara, panitia sebenarnya membolehkan peserta bercadar. Namun, saat kejadian itu ada kesalah pahaman aturan MTQ yang dipakai panitia dan dewan dari pusat.

Kalau memang benar aturan LPTQ Nasional tak mengijinkan muslimah bercadar untuk berpartisipasi. Ini amat disayangkan. Banyak anak bangsa yang berbakat, namun bakatnya tak bisa mengharumkan nama bangsa hanya karena ego dari para pengambil kebijakan.

Juraidi, sekretaris LPTQ Nasional, sebagaimana dilansir dari Suaradotcom, menjelaskan, “Ketentuan itu tujuannya baik, yaitu untuk keperluan penilaian yang adil dan lebih obyektif bagi dewan hakim….”

Ya, ya, ya, tujuan baik yang tak menghargai paham orang lain. Padahal, di beberapa daerah yang tak melarang peserta MTQ mengenakan cadar, terbukti kalau cadar mereka tak mengganggu proses penjurian. 

Baca Juga: Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Namun, itulah negeri kita. Nyatanya, banyak dari mereka elit agama atau para pengambil kebijakan agama, kadang, mendahulukan ego kebenaran daripada sikap menghormati perbedaan paham. Contoh yang kurang baik untuk umat.

Dulu, cadar dilarang, sebab katanya radikal. Sekarang, ternyata dilarang juga, sebab mengganggu proses penjurian. Sentimen, bilang aja. Muslimah bercadar di persimpangan jalan, sekali lagi terekam dalam sebuah kasus unik yang menarik untuk diamati.

Kejadian ini, kembali menggambarkan sikap “tirani pengamalan” oleh para elit agama. Di mana, tak bisa atau tak mau menghargai perbedaan dalam ber-Islam. Sikap elit agama, yang sadar tak sadar telah mendiskriminasi golongan tertentu. Membuat mereka yang beda paham dalam ber-Islam sulit mengamalkan paham agama yang diyakininya sebagaimana amanat UUD 1945 Pasal 29, ayat 2.

Sudah seharusnya aturan demikian yang merugikan segolongan orang harus dihilangkan. Kejadian MTQ Sumut dan aturan LPTQ Nasional kembali memberi sinyal kalau muslimah bercadar, lagi-lagi, belum sepenuhnya mendapatkan hak kemerdekaan beragama mereka.

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...