Beranda Gerakan Nada Dakwah Nasida Ria; Dari Kiblat Fesyen, Bias Gender Hingga Kritik Atas...

Nada Dakwah Nasida Ria; Dari Kiblat Fesyen, Bias Gender Hingga Kritik Atas Industrialisme

Harakah.id Nasida Ria bukan hanya sekedar grup kasidah. Lebih jauh dari itu, Nasida Ria adalah kebudayaan itu sendiri

Nasida Ria adalah salah satu grup kasidah modern dari Semarang yang didirikan oleh H. Muhammad Zein pada tahun 1975. Grup kasidah ini dipunggawai oleh 9 personel yang seluruhnya perempuan; Mudrikah Zein, Muthaharah, Rien Jamain, Umi Khalifah, Musyarrofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah dan Nur Ain. Kesembilan personel tersebut merupakan murid-murid H. M. Zein yang juga dikenal sebagai seorang guru qira’at.

Meskipun berangkat dari ketertarikannya pada dunia seni musik, H. M. Zein mendirikan Nasidaria bukan hanya untuk maksud tersebut, tapi juga sebagai sarana dakwah keislaman. Misi inilah yang kemudian menjadi satu faktor mengapa Nasidaria kemudian mengambil mazhab kasidah sebagai genre musiknya.

Alat musik pertama yang digunakan Nasida Ria adalah rebana, sebelum akhirnya alat-alat musik penunjang lainnya seperti gitar, orgen, tamborin dan biola juga digunakan dalam mengaransemen lagu. Melalui alat-alat musik tersebut, Nasidaria melintasi batas kultural suara alat musik itu sendiri dan menciptakan struktur musikalitas yang khas. Komposisi nada yang kemudian lahir menjadi lebih berwarna dan hibrid. Maka tidak heran kemudian jika Nasida Ria diklaim sebagai pionir lahirnya genre musik kasidah modern di Indonesia.

Sampai saat ini, setidaknya sudah 30-an volume album yang dikeluarkan oleh Nasidaria sejak album perdananya “alabadil makabul” yang rilis di tahun 1978. Kurang lebih 300 lagu yang sudah diciptakan sejak awal kemunculannya. Angka-angka di atas menunjukkan bahwa produktivitas Nasida Ria dalam kancah permusikan di Indonesia merupakan sesuatu yang tak lagi patut dipertanyakan. Di masa-masa keemasannya, Nasida Ria banyak mendapatkan penghargaan dan melakukan tour konser pertunjukkan hingga luar negeri. Bagi sebuah grup kasidah, hal ini tentu dianggap sebagai prestasi yang sangat mentereng.

nucare-qurban

Dari Rebana ke Gitar, Dari Gambus Arab ke Kasidah Nusantara

Gen musik Nasida Ria sebenarnya punya pertalian darah musik dengan Gambus. Mulanya Gambus adalah genre music yang bertumpu pada suara rebana dan alat music tabuh lainnya, yang dibawa pedagang Arab-Yaman yang datang ke Indonesia. Gambus kemudian mencapai ketenarannya setelah dibawakan Syeikh Albar; salah seorang musisi kelahiran 1908 di Surabaya. Semenjak itu, sampai sekitar tahun 1960-an, Gambus menjadi salah satu genre musik yang paling disukai di tanah air.

Popularitas gambus memberikan dampak bagi dunia permusikan di Indonesia. Nanti, di akhir tahun 1970-an, setelah diadopsi oleh kelompok-kelompok kasidah, Gambus mengalami fase transformasi dan menjadi embrio bagi lahirnya genre musik Dangdut. Dalam proses kelahiran mode musik baru ini, Nasida Ria adalah salah satu yang turut membidaninya. Penggunaan alat musik, bahasa lagu hingga pesan yang terkandung dalam syair adalah beberapa hal dari Nasidaria yang kelak akan menciptakan satu liturgi musik baru di Indonesia.

Proses transformasi dan peralihan tersebut akan terlihat kalau kita mengamati album-album awal yang dirilis Nasida Ria. Di album-album awal, lagu Nasida Ria masih kental dengan Gambus dan latar Arab. Selain musiknya, bahasa syair yang digunakan juga masih berbahasa Arab. Tapi pasca album ketiga, nuansa musik Nasidaria mengalami perubahan yang cukup substansial. Perubahan ini setidaknya disebabkan oleh dua faktor: pertama, Nasida Ria mulai menggunakan alat musik yang lebih beragam dan lintas kultur. Kedua, karena faktor pasar pendengar, Nasida Ria mengubah strategi literasi seninya ke arah yang lebih kosmopolit, yang lebih memasyarakat dan bernuansa kenusantaraan.

Faktor pertama dimulai dari sebuah cerita pertemuan Nasida Ria dengan Imam Suparto Tjakrajoeda, salah seorang penggemar berat mereka sekaligus walikota Semarang pada waktu itu. Karena kecintannnya pada lagu-lagu kasidah Nasidaria, Imam Suparto kemudian menyumbangkan sebuah alat musik “organ”. Dari sinilah kemudian Nasida Ria memiliki akses yang lebih mudah untuk mewarnai lantunan kasidah mereka, bukan hanya dengan alat musik ala-gambus, tapi alat musik modern seperti biola dan gitar.

Faktor kedua dimulai dari anjuran Kiai Ahmad Bukhari Masruri, salah seorang kiai dan pimpinan Nahdlatul Ulama’ (NU) Jawa Tengah, agar lagu-lagu Nasida Ria dibungkus dengan bahasa Indonesia saja. Hal ini dilakukan agar pesan-pesan yang terkandung dalam lagu-lagu tersebut sampai dengan mudah di hati masyarakat awam. Karena di tiga album sebelumnya, Nasidaria mengemas musik-musiknya dengan menggunakan bahasa Arab. Kiai Ahmad Bukhari Masruri pun tidak tinggal diam. Selain memberikan anjuran dan saran, beliau juga bersumbangsih menciptakan lagu-lagu untuk Nasida Ria dengan nama samaran Abu Ali Haidar.    

Semenjak itu, Nasidaria menjadi Nasidaria seperti yang kita kenal hari ini. Musiknya tak asing di telinga, lagu-lagunya mudah diikuti dan dipahami, berikut pesan-pesan dakwah dalam lagu—lagunya tampak begitu jelas tersampaikan.

Dari Kiblat Fesyen Sampai Meruntuhkan Bias Gender

Selama ini kita selalu menyakini bahwa gerakan feminisme selamanya harus memaksa perempuan keluar dari identitas dan entitas privatnya. Nyatanya tidak begitu. Dalam temuan studi feminisme poskolonial, tesisnya justru terbalik; bahwa perempuan tidak harus keluar dari ruang privat mereka untuk membuktikan identitasnya sebagai perempuan. Resistensi dan kritik juga bisa mereka lakukan dalam keterbatasan ruang privat yang mereka miliki. Atau dengan kata lain, untuk beraksi, perempuan tidak harus merobohkan kultur sosial yang ada. Dan nyatanya, sejarah memperlihatkan kalau metode semacam ini justru lebih efektif, sebagaimana yang juga diperlihatkan oleh Nasidaria.

Kita bisa melihat efektifitas gender Nasida Ria dari dua tolak ukur.

Pertama dalam konteks menajemen internal dan pengelolaan skema bisnisnya. Diakui atau tidak, Nasidaria adalah bisnis. Ia menghidupi banyak orang, bukan hanya personel inti, tapi juga manajemen dan orang-orang yang terlibat di setiap pelaksaan pentas, pembuatan album hingga acara lainnya. Di sini jelas sekali kalau Nasida Ria tengah menghidupi dan menjadi sumber rejeki banyak orang. Citra pekerja dan penghasil uang yang selama ini lekat dengan laki-laki, yang karenanya ia kemudian dianggap sebagai simbol kuasa, menjadi lebih cair dengan kenyataan bahwa perempuan-perempuan Nasida Ria-lah yang justru menjadi sumber penghidupan bagi semua laki-laki di tim manajemennya.

Kedua, keberhasilan Nasidaria memperlunak relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan juga bisa dilihat dari konteks kebudayaan. Munculnya Nasida Ria ke ruang publik dan lagu-lagunya yang sarat kritik, secara tidak langsung meredefinisi makna kuasa dan superioritas. Sebagai pusat sorotan, kiblat budaya dan aktor wacana aktif, Nasidaria justru mengawal satu proyek kebudayaan yang selama ini, secara administratif, selalu dipercayakan di pundak laki-laki. Feminisme Nasida Ria adalah feminisme kebudayaan. Ia tidak berkontradiksi dengan tradisi, tapi justru memanfatkannya sebagai meriam untuk meletuskan aspirasi.

Maka di tahun 70-an hingga 80-an, gaya berkerudung personel Nasidaria menjadi standar acuan berkerudung muslimah di Indonesia kala itu. Ia menjadi ukuran style, kiblat fesyen dan memberikan makna baru bagi identitas muslimah di Indonesia. Ibu-ibu di kampung-kampung dan di desa-desa merengek kepada suaminya agar diberikan kerudung Nasida Ria. Ada ruh, semangat dan visi baru yang muncul berkat persona Nasidaria, yang mendorong subyek-subyek muslimah di Indonesia untuk lebih aktif bersuara dan mengoptimalkan perannya. Dalam lagu “Masyitoh Indonesia” dan “Emansipasi”, pesan ini nampak jelas sekali.

Style dan fesyen Nasida Ria juga meruntuhkan anggapan bahwa untuk bisa didengar dan diakui, perempuan tidak harus menampilkan citra molek dan seksi. Ia tidak harus berdandan menor, menggunakan pakaian ketat dan menembar aura sensualitas. Nasida Ria menunjukkan kalau makna eksistensial perempuan justru harus keluar dari dirinya sendiri, bukan dengan memenuhi bayangan-bayangan semu subyek laki-laki tentang perempuan. Dalam konteks yang kedua, alih-alih memperlunak relasi kuasa, citra sensualitas justru akan semakin memperteguh relasi tersebut.

Lagu-Lagu Sarat Kritik atas Logika Kapitalisme dan Industrialisme

Menariknya, meski tampil sebagai sebuah kelompok kasidah keislaman, Nasida Ria ternyata juga aktif melakukan kritik terhadap problem ekonomi-politik yang terjadi. Tidak hanya di level nasional, melalui lagu “Bom Nuklir”, “Sengketa Teluk”, “Damailah Palestina”, “Perdamaian” dan “Dunia dalam Berita” Nasida Ria juga aktif mengamati dan merespons persoalan-persoalan global.

Dari saking aktifnya Nasida Ria merespons permasalahan ekonomi, sosial dan politik, tampaknya kita bisa membuat kaleidoskop masalah-masalah nasional dari lagu-lagu Nasida Ria. Mereka misalnya, merilis lagu “Rupiah”, “Oh Indonesiaku”, “Jakarta-Jakarta”, “Konglomerat”, “Reformasi”, “Nusantara Bersatu” dan puluhan lagu lainnya, yang menggambarkan situasi dan kondisi Indonesia di masa itu. rekaman kejadian dan persoalan dalam lagu-lagu Nasida Ria, sejauh yang saya amati, tampaknya juga masih relevan kok dengan permasalahan Indonesia hari ini.

Dengan kata lain, sebagai sebuah grup musik kasidah, Nasida Ria punya visi-misi kebudayaan yang jelas. Lagu-lagunya tidak sembarang ditulis. Ada wawasan kebangsaan dan pemahaman kondisi yang jitu di balik seluruh rilisan lagu Nasida Ria. Tidak hanya itu. Lagu-lagu Nasida Ria dengan titis bisa menyentuh pokok persoalan yang lebih holistik dan asbtrak. Lagu-lagunya terlibat dalam persinggungan wacana kapitalisme, industrialisme hingga eurosentrisme. Yang lebih dahsyat lagi, Nasida Ria punya titik pijak dan keberpihakan yang jelas. Mereka memposisikan diri sebagai subalternitas. Lagu “Perkampungan”, “Seni Tradisional”, “Desaku”, “Antara Kota dan Desa” dan puluhan lagu lainnya merekam situasi spesifik tentang subalternitas dan tentang ke mana kita harus kembali.

Di bawah ini adalah satu contoh lagu Nasida Ria yang menunjukkan hal itu. Judulnya “Tahun 2000”

Tahun 2000 tahun harapan,
yang penuh tantangan dan mencemaskan
wahai pemuda dan para remaja,
ayo siapkan dirimu
siapkan dirimu, siap ilmu siap iman
siaap..

Tahun 2000 kerja serba mesin,
berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin,
makan dan minum dilayani mesin

sungguh mengagumkan tahun 2000
namun demikian penuh tantangan

penduduk makin banyak,
sawah ladang menyempit
mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin,
pengangguran merajalela

sawah ditanami gedung dan gudang,
hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas
akibat pencemaran

wahai pemuda remaja
sambutlah tahun 2000 penuh semangat
dengan bekal ketrampilan,
serta ilmu dan iman
bekal ilmu dan iman

(Nasida Ria: Tahun 2000, 1989 [cetak miring dari HF])

Lirik lagu ini menjelaskan secara implisit dampak dan akibat dari modernisasi yang mengusung asas kapitalisme dalam wujud bertebarannya pabrik-pabrik dan gedung perkantoran di Indonesia. Lirik lagu yang saya cetak miring menunjukkan sebuah sikap yang hendak dikantongi guna menghadapi sebuah masa yang akan membawa perubahan besar-besaran.

Tahun 2000 kerja serba mesin. Berjalan berlari menggunakan mesin. Manusia tidur berkawan mesin. Makan dan minum dilayani mesin,” merupakan dampak yang: (1) menandakan perubahan posisi manusia pekerja dengan mesin-mesin pekerja yang semakin canggih; (2) perkembangan tekhnologi yang begitu dahsyat menjadikan ilmu pengetahuan teraplikasi jauh di luar dugaan. Dunia komunikasi menjadi tanpa batas. Segala macam kebutuhan manusia terkait jaringan dan link secara praktis tersedia dalam kotak mesin yang bernama gadget. Secara tidak langsung, Nasida Ria telah meramalkan bagaimana kehidupan sosial yang akan terjadi ketika manusia mengalami apa yang kita sebut sekarang dengan “autisisme tekhnologi”. Manusia mulai menisbikan keberadaan manusia lain di sekitarnya dengan terpaku candu pada mesin yang dimilikinya.

Penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit, mencari nafkah makin sulit. Tenaga manusia banyak diganti mesin, pengangguran merajalela.” Dengan pertumbuhan industri yang begitu pesat, tahun 2000 yang dikenal dengan tahun milenium mengiming-imingi pemiliki tanah untuk menjual tanahnya dengan harga menggiurkan. Sawah mulai dijual. Produksi padi dan beras dengan otomatis mengalami penurunan di tengah gelombang jumlah penduduk yang semakin banyak. Dari segi papan, mereka terpaksa keluar dari tanah kelahirannya dan mencari lahan-lahan kecil nan gratis untuk ditinggali.

Sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman, langit suram udara panas akibat pencemaran.” Modernisasi dan kapitalisme secara sadis mengeksploitasi kemiskinan bangsa Indonesia dengan menawarkan jasa penanaman modal berupa investasi-investasi berbajukan pabrik dan tambang. Orang-orang asli daerah yang memiliki lahan luas warisan nenek moyangnya, karena tidak memiliki dana untuk mengelola tanah tersebut, dibisiki segepok uang dengan jumlah besar agar menjual tanahnya tersebut.        

Tanah tersebut lalu menjadi pabrik dan gudang. Di sisi lain, tanah-tanah luas lainnya dijadikan deretan rumah dan apartemen yang megah untuk didiami orang-orang yang memiliki uang. Penduduk asli ke mana? Menjauh mencari lahan yang lebih sederhana, bekerja di pabrik yang dibangun di atas tanah mereka dengan gaji yang tidak seberapa. Ketika pabrik-pabrik menggunakan mesin, para buruh diberhentikan dan mati kelaparan.

Akibatnya, kata Nasida Ria, bukan hanya dalam hal nasib yang akan dialami manusianya sendiri. Alam, sebagai faktor terbesar terselenggaranya kehidupan pun terancam rusak. Pabrik-pabrik dengan tujuan pragmatis hanya untuk mendapatkan laba, tidak peduli dengan limbah-limbah yang mengalir dan mengudara, masuk dalam tiap rongga kehidupan penduduk Indonesia. Dalam lirik lainnya yang berjudul “Jakarta-Jakarta”, Nasida Ria lebih mempertajam kritiknya dengan menyuguhkan cerita anak desa yang awalnya terperangah dengan keindahan Jakarta, akhirnya menyesal dan ingin pulang setelah benar-benar merasakan udara kehidupan Jakarta.

Tapi yang menjadi ciamik adalah, msekipun banyak meramalkan dampak-dampak yang akan terjadi, Nasida Ria seakan tahu bahwa hal itu tidak dapat dihindari dan ditolak. Oleh karena itu, Nasidaria dalam sebagian diksi liriknya ini masih menyisipkan optimisme terhadap tahun 2000 meskipun dengan berjibunnya dampak yang akan dilahirkannya. Misalnya dengan kata-kata: Tahun 2000 tahun harapan, sungguh mengagumkan tahun 2000 dan wahai para pemuda remaja sambutlah tahun 2000 penuh semangat.

Tentu dengan masih mengedepankan rasa was-was, Nasidaria dengan kata-kata semisal: penuh tantangan dan mencemaskan mewanti-wanti segenap masyarakat Indonesia, khususnya kaum mudanya untuk tidak terlalu terlena dengan kemewahan yang akan terjadi di tahun 2000. Lalu pertanyaannya, solusi apa yang ditawarkan oleh Nasida Ria? Membekali diri dengan ketrampilan, ilmu dan iman. Dengan memasukkan iman, secara tidak langsung Nasidaria telah merobohkan dominasi wacana kapitalisme dan modernisme yang serba rasional.

Sebagaimana yang telah dibahas di awal, wacana selalu menentukan cara memandang dan cara berpikir individu-individu yang terkurung di dalamnya. Dalam tradisi barat, wacana rasionalitas merupakan salah satu wacana modern yang menurut foucault menggantikan wacana “sehat” di masa klasik dan wacana “monogami” di masa victorian. Lawannya adalah irrasional, sepadan dengan kusta dan poligami.  Bagaimana akibatnya? Ya sebagai wacana yang tersubordinat, hal-hal yang berbau irrasional ditolak dan dilempar jelatakan. Ia dibungkam, ditundukkan, didisiplinkan sebagaimana yang terjadi dalam NU.

Iman, dalam Islam merupakan strategi untuk mempercayai yang tidak rasional. Tidak rasional dalam arti tidak dapat dijangkau dan dijelaskan oleh akal manusia yang terbatas. Tuhan, Malaikat, barokah, jimat, ilmu kanuragan merupakan hal-hal yang sangat ingin dihancurkan oleh wacana barat. Yang dalam hal ini pesantren sebagai lembaga yang melesarikan bahkan hidup dalam kosmologi semacam itu. 

Bagaimana bisa kemudian Nasidaria menawarkan konsep “iman” untuk sebuah kehidupan akal dan otak? Ini yang kemudian kita pahami sebagai changing the subject. Bolehlah kapitalisme berserta seluruh antek-anteknya masuk ke Indonesia, tapi dengan tradisi yang kuat (pesantren), saya, kata Nasida Ria, akan tetap mempertahankan apa yang baik menurut pertimbangan iman saya. Dalam proses ini, pesantren menjadi unsur paling vital sebagai agen perlawanan wacana.  

Akhirul kalam, Nasida Ria memang sebuah grup kasidah. Namun dalam konteks kebudayaan, Nasida Ria mewakili satu suara dan wacana khusus kaitannya dengan problem keindonesiaan yang tengah terjadi. Lagu-lagu Nasida Ria adalah rekaman kehidupan, sekaligus pertarungan, yang pernah dialami Indonesia.

REKOMENDASI

Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Harakah.id - Ibn Haitsam mungkin adalah salah seorang ilmuan dan filosof Muslim yang jarang sekali dibicarakan. Popularitasnya kalah dengan ilmuan dan...

Kisah Perempuan dalam Jaringan Pendukung ISIS di Indonesia

Harakah.id - Perempuan memiliki peran jauh lebih penting dalam proses pembentukan klaster kelompok radikal. Kisah para perempuan berikut akan menunjukkan hal...

Dalam Pertempuran Melawan Virus, Dunia dan Kemanusiaan Tak Lagi [Hanya] Membutuhkan Kepemimpinan

Harakah.id - Virus, yang kemudian dikenal dengan nama Corona, sudah menyebar setahun dan menjangkiti jutaan manusia. Sebuah artikel dari Yuval Noah...

Peran Habib Rizieq dalam Lahirnya Sentimen Anti-Arab di Indonesia

Harakah.id - Habib Rizieq berikut Front Pembela Islam harus dilihat bukan hanya sebagai organisasi yang soliter, tapi juga percikan dari...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Para Ulama dan Habaib yang Berseberangan dengan Habib Rizieq

Harakah.id - Gerakan Habib Rizieq dan FPI-nya mendapat sorotan sejak lama. Para pemimpin Muslim di Indonesia tercatat pernah berseberangan dengannya. Inilah...