Beranda Gerakan Nahdlatul Ulama dan Upaya Perdamaian di Afghanistan, Dari NU Cabang Afghanistan Sampai...

Nahdlatul Ulama dan Upaya Perdamaian di Afghanistan, Dari NU Cabang Afghanistan Sampai Kampanye Tasamuh di Tanah Khurasan

Harakah.id NU dan Afghanistan selama ini menjalin hubungan diplomasi yang cukup erat dalam rangka mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Apa saja upayanya?

Pada tahun 2007, pemerintah Indonesia bersama Nahdlatul Ulama terlibat dalam operasi pembebasan sandera asal Korea yang ditangkap Taliban di Afghanistan. Di saat yang sama, Mullah Omar, seorang pemimpin tertinggi Taliban, mengirim surat kepada As’ad Said Ali terkait permohonan untuk menjadi mediator dalam dialog-dialog dan inisatif perdamaian di Afghanistan. Dalam suratnya, Mullah Omar mempercayakan NU dan pemerintah Indonesia untuk menyuaraka aspirasi masyarakat Afghanistan sebagai kelompok yang terdzalimi dan terjajah selama ini. Dalam suratnya juga, Mullah Omar bermaksud untuk menjalin persaudaraan dengan komunitas Islam di Indonesia.

Sebagai keberlanjutan agenda ini, pemerintah Indonesia lantas meminta NU untuk menjalin komunikasi lebih lanjut dengan para pemimpin di Afghanistan. Kiai Sahal Mahfudz, rais ‘aam NU waktu itu, menyetujui permintaan tersebut dengan satu syarat; NU harus diberi kepercayaan penuh untuk menjalankan strateginya berdasarkan prinsip Islam rahmatan lil alamin yang mengedepankan lima nilai penting yang selama ini juga dipegang NU; tasamuh, tawasuth, tawazun, I’tidal dan musyawarah.

Langkah pertama kemudian dilaksanakan bertepatan dengan HARLAH NU 85 pada Juni 2011. Bersama BIN dan kementerian luar negeri, NU kemudian menginisiasi sebuah acara dialog berjudul “Consultation Forum for Peace in Afghanistan” pada 18 Juli 2011 di Jakartra. Forum tersebut dihadiri oleh 20 pemimpin dan tokoh pentng Afghanistan. Antara lain: Burhanuddin Rabbani, Mohammad Muhaqqiq, Wahedullah Sabawoon, Ghulam Farooq Wardak, Fazal Ghani Kakar, Maulawi Hayatollah Talib dan tokoh-tokoh lainnya.

NU sebagai panitia acara ini sukses merumuskan satu jalan keluar keluar pertama dalam proses perdamaian di Afghanistan. Bukan hanya berhasil dalam melancarkan hubungan antara Afghanistan dengan NU dan pemerintah Indonesia, acara tersebut juga berhasil memperbaiki komunikasi di antara petinggi, tokoh dan sosok penting Afghanistan.

Sebagai sebuah traktat kesepakatan, forum berhasil mengeluarkan tiga poin penting kesepakatan; 1) menyepakati bahwa inti agama Islam adalah rahmatan lil alamin dan bertumpu pada prinsip tasamuh, tawazun, tawasuth, dan i’tidal; (2) setuju untuk mengakhiri konflik di Afghanistan; (3) mengakui bahwa untuk membangun resolusi perdamaian, peran fasilitator (khususnya dari pihak eksternal) sangat diperlukan sehingga harus diterima oleh seluruh komponen bangsa

Menurut Irvan Aladip dan Dwi, dalam artikel Faith-Based Transnational Actors and Peacebuilding: An Analysis of the Role Of Nahdlatul Ulama in Afghanistan’s Peace Process”, pernyataan bersama tersebut merupakan realisasi dari apa yang Rüland katakana sebagai transformasi konflik. Yakni satu perubahan yang terjadi di tingkat pribadi peserta forum. Sifat partisipatif dari dialog tersebut memungkinkan semua peserta untuk terlibat dan menguraikan pemikiran serta pemahaman mereka tentang budaya dan akar struktural konflik, yang selanjutnya membuka kemungkinan diskusi dan perdebatan tentang ide-ide tentang solusi alternatif untuk resolusi konflik.

Lanjut Irvan Aldip, dalam konteks ini, NU sebagai aktor transnasional berbasis agama memainkan peranan penting dalam memfasilitasi dialog dan menengahi ketegangan yang terjadi di antara para peserta. Dan terbukti bahwa dialog tersebut merupakan langkah pertama dan penting dalam upaya perdamaian Afghanistan setidaknya karena dua alasan; Pertama, seperti yang disebutkan sebelumnya, dialog memungkinkan untuk terjadinya pertukaran informasi dan gagasan seputar upaya alternatif untuk mewujudkan perdamaian. Kedua, lebih signifikan lagi, dialog tersebut menjadi media bagi transformasi relasional di antara para tokoh, yang berfungsi untuk mengikis segala bentuk kecurigaan sekaligus membangun kepercayaan di antara mereka.

Pasca forum tersebut, NU secara berseri melanjutkan agenda mediasi di forum-forum lainnya. Tema-tema yang dibahas pun menyentuh beberapa doktrin yang selama ini dianggap menjadi titik picu perpecahan dan konflik di Afghanistan. Salah satu yang banyak dibicarakan kemudian adalah konsepsi soal jihad dan syahid.

Satu momentum historis yang mungkin mengubah jalan cerita konflik Afghanistan terjadi tahun 2015. Pada tanggal 5 Mei, sejumlah pemimpin faksi Afghanistan, termasuk yang terafiliasi dengan Taliban, setuju untuk membentuk Nahdlatul Ulama cabang Afghanistan (NUA). NUA resmi didirikan pada Juni 2014. Dalam rentang waktu dua tahun, NUA berhasil mengembangkan diri dan mendirikan cabang-cabangnya di 22 provinsi di Afghanistan. Setidaknya 6000 pemuka agama bergabung dan menjadi anggota NUA kala itu. Keberhasilan ini dianggap sebuah capaian dalam proses inisiasi perdamaian di Afghanistan sekaligus bukti bahwa nilai tasamuh yang dikembangkan NU dalam diplomasi dan strategi mediasinya bisa diterima masyarakat Afghanistan.

Hubungan ini lantas diperkuat kembali dengan didirikannya Indonesia Islamic Center di Kabul. Didukung oleh kementerian luar negeri, gagasan NU membangun IIC Kabul lantas terwujud di atas tanah seluas 10.000 meter persegi. Ia adalah pusat keagamaan yang difungsikan sebagai perpustakaan, rumah singgah, sekaligus klinik guna merawat mereka yang terluka akibat konflik.

Upaya NU dan pemerintah Indonesia memediasi perdamaian di Afganistan terus berlanjut di tahun-tahun setelahnya. NU, dengan tetap berpatokan pada lima prinisip dan nilainya, termasuk tasamuh, menyebarkan ideologi perdamaian dan moderatisme di kalangan faksi-faksi dan pemimpin Afghanistan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...