Beranda Keislaman Ibadah Najiskah Kotoran Kuda, Sapi, Kambing dan Ayam? Catatan Untuk Akun Dakwah

Najiskah Kotoran Kuda, Sapi, Kambing dan Ayam? Catatan Untuk Akun Dakwah

Harakah.id – Pandangan yang mengatakan bahwa kotoran hewan suci adalah pendapat yang menyelisihi mazhab yang populer di Indonesia, yaitu mazhab Syafi’i.

Sebuah akun dakwah membuat konten tentang hukum kotoran hewan. Menurut kesimpulan dalam postingan akun tersebut, kotoran hewan yang halal dikonsumsi hukumnya suci. Tidak najis.

Akun tersebut mengutip perkataan Imam Ibnul Mundzir dalam kitab Al-Ausath. Akun tersebut menulis,

Najiskah Kotoran Kuda, Sapi, Kambing dan Ayam? Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir –rahimahullah,

أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ أَنَّ سُؤْرَ مَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ طَاهِرٌ يَجُوزُ شُرْبُهُ وَالتَّطَهُّرُ بِهِ

Para ulama sepakat (ijma), tidak ada beda pendapat bahwa KOTORAN hewan yang halal dimakan adalah suci. Boleh diminum dan digunakan untuk bersuci (Al-Ausath, 1/159)

Postingan ini segera dishare oleh berbagai akun lain. Tidak sedikit yang mengkritik kesalahan penerjemahan yang cukup fatal. Kesalahan penerjemahan ini berakibat pada kesimpulan hukum yang diambil.

Kata ‘su’ru’ dalam postingan tersebut diartikan sebagai KOTORAN. Menurut para pengkritiknya, penerjemahan su’ru dengan kotoran adalah kesalahan yang menggelikan. Karena su’ru seharusnya diartikan air bekas minum hewan. Ia bukan kotoran yang hukumnya najis.

Para kritikus itu benar adanya. Su’ru bukan cairan yang keluar dari tubuh hewan. Ia belum sempat masuk ke dalam tubuh hewan, apalagi mengalami pencernaan dan pengolahan. Berbeda dengan air kencing hewan atau kotorannya. Yang telah mengalami proses pencernaan sedemikian rupa.

Dalam kamus bahasa Arab Al-Mu’jam Al-Wasith dikatakan,

(السؤر) بَقِيَّة الشَّيْء

Su’ru adalah sisa sesuatu. (Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/410)

Para ulama bermazhab Syafi’i juga memahami bahwa arti su’ru adalah air di wadah sisa minum hewan. Imam Al-Nawawi dalam kitab Al-Maju’ berkata,

سؤر الْحَيَوَانِ مَهْمُوزٌ وَهُوَ مَا بَقِيَ فِي الْإِنَاءِ بَعْدَ شُرْبِهِ أَوْ أَكْلِهِ وَمُرَادُ الْفُقَهَاءِ بِقَوْلِهِمْ سؤر الْحَيَوَانِ طَاهِرٌ أَوْ نَجِسٌ لُعَابُهُ وَرُطُوبَةُ فَمِهِ وَمَذْهَبُنَا أَنَّ سُؤْرَ الْهِرَّةِ طَاهِرٌ غَيْرُ مَكْرُوهٍ

Su’ru hewan dengan huruf hamzah di tengah, ia adalah air sisa dalam wadah setelah hewan itu meminum atau memakannya. Yang dikehendaki para ahli fikih dengan kata-kata mereka “su’ru hewan itu suci atau najis” adalah liur dan bagian basah mulut hewan. Mazhab kami memilih bahwa su’ru kucing adalah suci. Tidak makruh menggunakannya. (Al-Majmu, 1/172)

Dalam bagian lain dikatakan,

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي الْعَرَقِ وَاللُّعَابِ وَالْمُخَاطِ وَالدَّمْعِ بَيْنَ الْجُنُبِ وَالْحَائِضِ وَالطَّاهِرِ وَالْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ وَالْبَغْلِ وَالْحِمَارِ والفرس والفار وَجَمِيعِ السِّبَاعِ وَالْحَشَرَاتِ بَلْ هِيَ طَاهِرَةٌ مِنْ جَمِيعِهَا وَمِنْ كُلِّ حَيَوَانٍ طَاهِرٍ وَهُوَ مَا سِوَى الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَفَرْعِ أَحَدِهِمَا وَلَا كَرَاهَةَ في شئ مِنْ ذَلِكَ عِنْدَنَا وَكَذَا لَا كَرَاهَةَ فِي سؤر شئ مِنْهَا وَهُوَ بَقِيَّةُ مَا شَرِبَتْ مِنْهُ

Ketahuilah bahwa tak ada beda dalam masalah keringat, liur, ingus, dan air mata antara orang junub, haid, suci, muslim, kafir, baghal, keledai, kuda, tikus, hewan buas dan hasyarat. Ia suci, baik yang keluar dari semua yang disebut atau hewan yang hewan yang suci.

Hewan suci adalah selain anjing dan babi atau keturunan salah satunya. Tidak makruh sesuatu pun dari yang sudah disebut menurut mazhab kami. Begitu pula tidak makruh menggunakan su’ru hewan yang sudah disebut. Su’ru adalah sisa minuman hewan yang sudah disebut. (Al-Majmu’, 2/559)

Jadi, sangat jelas bahwa maksud su’ru adalah air bekas atau sisa minuman hewan yang halal dikonsumsi. Bukan kotoran hewan. Sangat berbeda antara air bekas minuman dengan kotoran hewan.

Sampai di sini juga jelas bahwa pemilik akun dakwah tersebut adalah pengikut mazhab kotoran hewan tidak najis. Tetapi ia gegabah. Mengutip sumber lalu menggunakan pemahamannya untuk memaksa kutipannya mendukung keinginannya. Ini tentu bermasalah. Karena ia tidak objektif dan cenderung memaksakan kehendaknya.

Pandangan Mazhab Syafi’i

Sampai di sini juga jelas bahwa pemilik akun dakwah tersebut adalah pengikut mazhab kotoran hewan tidak najis. Tetapi ia gegabah. Mengutip sumber lalu menggunakan pemahamannya untuk memaksa kutipan mendukung keinginannya. Ini tentu bermasalah.

Selain itu, pandangan yang mengatakan bahwa kotoran hewan suci adalah pendapat yang menyelisihi mazhab yang populer di Indonesia, yaitu mazhab Syafi’i.

Dalam mazhab Syafi’i, kotoran hewan sekalipun hewan tersebut halal dikonsumsi, hukumnya adalah najis. Imam Al-Syirazi dalam Al-Muhaddzab mengatakan,

وَأَمَّا سِرْجِينُ الْبَهَائِمِ وَذَرْقُ الطُّيُورِ فَهُوَ كَالْغَائِطِ فِي النَّجَاسَةِ

Adapun kotoran hewan ternak dan kotoran burung, itu hukumnya seperti kotoran manusia dalam kenajisannya (Al-Majmu, 2/550).


[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...