Beranda Khazanah Nama Ruhani Menurut Buya Arrazy Hasyim, Ternyata Kitab Ini Referensinya

Nama Ruhani Menurut Buya Arrazy Hasyim, Ternyata Kitab Ini Referensinya

Harakah.id Sebagian orang bertanyata tentang konsep “Nama ruhani” yang dipopulerkan di internet oleh Buya Arrazy Hasyim. Seperti apa penjelasan Buya Arrazy terkait ini?

Beberapa netizen membahas tentang konsep “Nama ruhani”. Tanpa menyebut nama ustadz yang mempopulerkannya, dengan nada keberatan, mereka mempertanyakan referensi atau siapa ulama yang membuat konsep tersebut dan menjadi referensi si ustadz. Sebagian netizen terpelajar ada yang mencoba lebih jauh; dengan menolak konsep nama ruhani, terutama penggunaan nama ruhani itu sebagai sebutan di akhirat kelak. Pendekatan skriptural digunakan untuk memperkuat gagasan ini.

Menurut saya, memang ini masalah unik. Al-Ajiib wal ghariib, kata guru saya. Setelah bertanya ke teman, browshing di internet, searching di Maktabah Syamilah ala kadarnya, saya menemukan beberapa penjelasan. Yang dimaksud ustadz muda itu, agaknya adalah Buya Arrazy Hasyim. Dugaan ini muncul karena dalam pencarian google atau youtube, beliau lah yang tampak mempopulerkan tema “Nama ruhani”. Keberatan itu agaknya wajar karena ini istilah yang sangat asing.

Setelah mencari, akhirnya dapat informasi tambahan tentang rujukan Buya Arrazy Hasyim terkati masalah ini. Dalam video yang diposting oleh channel al-Badr, Buya Arrazy menyebutkan dua kitab; al-Ghunyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Rasa’il Ibnu Sab’in.

Sebelum menjelaskan tentang referensinya, Buya Arrazy membuka dengan mengutip ayat Qs. Al-Isra: 85 tentang sedikitnya pengetahuan tentang hakikat ruh yang diperoleh manusia. Qs. Al-Isra: 85 mengatakan: Yas’alunaka ‘anir ruh. Qul al-ruhu min amri rabbi wa ma utitum min al-‘ilm illa qalila.

Buya Arrazy menjelaskan bahwa dalam pemahaman umum, ayat ini dipahami bahwa semua orang hanya memiliki informasi serba sedikit tentang hakikat ruh ini. Tetapi, Buya Arrazy memiliki penjelasan yang berbeda. Merujuk kepada konteks, menurut beliau, ayat itu turun dalam suasana dialog antara Rasulullah SAW dengan komunitas Ahli Kitab.

Redaksi wa ma utitum min al-ilm illa qalila merupakan pernyataan yang ditujukan kepada diskusan dari kalangan Ahli Kitab. Bukan kepada Nabi, atau seluruh umat manusia. Nabi Muhammad SAW tidak masuk dalam cakupan kata ganti (an)tum dalam ayat tersebut. Bila dipahami, berarti Nabi SAW sejatinya memiliki pengetahuan yang melimpah soal hakikat ruh. Begitu pula para pewarisnya dari kalangan para wali dengan tingkatan tertentu. Di antara para pewaris itu dan tergolong wali tertentu itu adalah Imam al-Mahdi yang akan keluar di akhir zaman nanti.

Setelah itu, Buya Arrazy menjelaskan bahwa salah satu pertanyaan yang muncul tentang ruh ini adalah terkait “Nama ruhani.” Konsep ini unik dan bikin hati tergelitik. Membangkitkan rasa penasaran. Terutama di kalangan netizen yang terpelajar. Pertanyaan tentang nama ruhani salah satunya adalah terkait adakah ulama terdahulu yang membahasnya? Dalam kitab apa mereka mengungkapkannya?

Dalam penuturannya, Buya Arrazy menjelaskan bahwa setidaknya beliau menemukan dalam dua referensi.

Pertama, kitab al-Ghunyah Li Thalib Thariq al-Haqq karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani. “Kitab al-Gunyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani, bagian akhir bercerita tentang murid atau salik yang menempuh jalan menuju makrifat billah. Lalu diterima oleh Allah. Allah ambil dia. Dijemput Allah. Dia wushul. Bermakrifat. Lalu Allah memberinya asma’ wa al-alqab. Allah akan memberikan dia nama asma’ dan alqab. Banyak nama, banyak gelar. La ya’lamuha illa Allah. Yang allah titipkan pada nabi dan para wali ghauts. Jika seorang murid telah hidup di sisi Allah, dia menemukan nama itu.” Demikian pernyataan Buya Arrazy sejauh yang bisa saya tangkap.

Setelah merenungi kata kunci yang penting, saya mulai membuka Maktabah Syamilah. Dalam pencarian menggunakan Maktabah Syamilah, ditemukan redaksi semacam ini dalam Fashlun fi al-Iradah wa al-murid wa al-murad:

ويلقب بألقاب يتميز بها بين أحباب الله تعالى، فيدخل في خواص الله، ويسمى بأسماء لا يعلمها إلا الله،

Allah memberi gelar dengan gelar-gelar yang menjadikannya istimewa di antara para kekasih Allah ta’ala. Karenanya, dia masuk dalam golongan orang khusus di sisi Allah (khawwashillah). Dia juga diberi nama-nama yang hanya Allah yang mengetahuinya. (al-Ghunyah, 2/270)

Memang benar, seperti disebut oleh Buya Arrazy bahwa ini adalah pembahasan tentang adab murid dan murad (orang yang dipilih oleh Allah).  Ketika dia sudah menapaki tangga ruhani dan menjadi orang yang dikasihi Allah, ahbab Allah, Allah akan memberinya gelar dan nama yang membuatnya berbeda dan istimewa di antara sesama kekasih Allah. Nama dan gelar itu sangat banyak sehingga hanya Allah saja yang tahu.

Kedua, kitab Rasa’il ibn Sab’in. Ibnu Sab’in berkata kepada puteranya, “Hari ini Allah memberimu nama bagimu “Abdun Nur” wahai waladi. Jangan lupakan nama itu. Nama walayah. Hubungan kita dengan Allah, adalah hubungan kekasih. Walayah.” Demikian jelas Buya Arrazy.

Saya kesulitan menemukan teksnya. Karena kitabnya masih format pdf lama. Berjumlah 400 halaman. Nyari lima menit tidak dapat.

Menurut Buya Arrazy, minimal dua imam ini yang pernah menyinggung tentang nama ruhani. Jadi, jika ditanya apakah ada ulama terdahulu yang membahas ini? Jawabannya adalah “Ada”.  

Demikian ulasan singkat tentang penjelasan Buya Arrazy Hasyim tentang referensi nama ruhani. Jika tertarik, anda dapat melanjutkan mengkaji penjelasan Syekh Abdul Qadir al-Jilani tentang masalah ini.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...