“Nasab Bukan Untuk Dibangga-Banggakan!”, Nasab Gus Baha dan Bagaimana Seharusnya Seseorang Menyikapi Silsilah Keturunannya

0
25310
“Nasab Bukan Untuk Dibangga-Banggakan!”, Nasab Gus Baha dan Bagaimana Seharusnya Seseorang Menyikapi Silsilah Keturunannya

Harakah.idNasab Gus Baha seringkali beliau urai dalam setiap kesempatan pengajian yang beliau ampu. Tidak untuk dibanggakan, tapi lebih kepada upaya menunjukkan beban warisan keilmuan yag harus dijaga. Mengingat nasab bagi Gus Baha adalah motivasi untuk terus melanjutkan warisan kebaikan-kebaikan dari leluhur.

Dalam banyak pengajian, Gus Baha selalu menyempatkan diri untuk mengurai silsilah nasab beliau. Hal ini biasanya beliau lakukan, jika si pengundang masih merupakan kerabat yang memiliki keterikatan silsilah nasab dengan beliau. Dan dari banyak penjelasannya tersebut, Gus Baha memang tampak sangat menguasai dan mengerti betul detail-detail percabangan nasab, khususnya nasab beliau sendiri, baik dari jalur sang ayahanda maupun ibundanya.

Gus Baha lahir dari sebuah keluarga ulama ahli al-Quran. Tradisi keulamaan dalam tubuh keluarga dirasakan dan diungkapkan sendiri oleh Gus Baha dalam banyak kesempatan. Ayahandanya, KH. Nursalim, adalah satu ulama al-Quran yang belajar langsung kepada KH. Arwani Amin Kudus dan KH. Abdullah Salam Kajen. Dari jalur ayahandanya, Gus Baha adalah generasi keempat dari ulama-ulama yang memang dikenal sebagai ahli al-Quran. Dari jalur ibunda, nasab Gus Baha masuk dalam lingkaran keluarga Mbah Sambu Lasem. Dari jalur ibundanya juga, silsilah nasab Gus Baha sampai kepada, Kiai Asnawi Sepuh, Mbah Mutamakkin hingga Jaka Tingkir dan Brawijaya V.

Sekali lagi, Gus Baha bisa dibilang adalah satu dari sekian banyak ulama yang menguasai ilmu ansab. Beliau hafal dan mampu menunjukkan hubungan kekerabatannya dengan banyak ulama dan kiai di Indonesia. Dalam sebuah pertemuannya dengan KH. Said Aqil Siraj sewaktu di Damaran Kudus, Kiai Said tampak tertegun kala mengetahui dirinya juga punya hubungan kekerabatan dengan Gus Baha. Sebelumnya Kiai Said hanya tahu kalau beliau merupakan keturunan Kiai Asnawi Sepuh, namun bersama Gus Baha beliau menemukan kejelasan soal titik nasab tersebut.

Bukan hanya sekali Gus Baha mampu menjelaskan hubungan kekerabatannya dengan para kiai. Melalui pemahaman yang mendalam dan kekuatan hafalan yang sangat valid, Gus Baha dengan mudah menemukan jalur kekerabatan tersebut dan tidak butuh waktu lama untuk memposisikan sebagai apa; sepupu, keponakan atau bahkan cucu?

Bagaimana Seorang Harusnya Memperlakukan Nasabnya? Kata Gus Baha, “Gak Usah Bangga!”

Sekarang pertanyaannya, ketika seseorang tahu kalau nasabnya adalah nasab ulama, apa yang harus dia lakukan? Merasa bangga dan besar karena nasabnya, atau justru merasa tertekan? Gus Baha, dalam sebuah obrolan ringan di Ponpes Damaran Kudus menjelaskan duduk perkara pernasaban dan cara bagaimana seseorang memperlakukan garis keturunannya.

Hal pertama yang disampaikan Gus Baha adalah menyebut dan menghitung nasab memang boleh, tapi tidak untuk dibanggakan (tafakhur). Karena menurut Gus Baha, yang paling penting dari mengetauhi nasab adalah menjaga kualitas nasab itu sendiri. Menjaga kualitas nasab tentu lebih penting dan merupakan inti dibanding hanya memajang nama-nama leluhur secara kuantitas dan berbangga diri atasnya.

Maka kata Gus Baha, “karena ketika Allah menghitung soal nasab, itu sebenarnya ngitung soal amal dan akidah. Bukan ngukur tafakhur.” Dengan kata lain, ketika seseorang tahu kalau dirinya keturunan orang soleh, harusnya ada semacam perasaan khawatir, bukan tafakhur. Sebagai keturunan tentunya dia harus menjaga nama baik dan warisan tingkah laku dari leluhurnya. Dia harus menjaga warisan amal dan prinsip akidah dari mbah-mbahnya.

Kalaupun seseorang merasa alim, ya biasa aja. Karena mbah-mbahnya juga sudah alim. Dan memang harus begitu. Menjaga kualitas nasab dalam konteks penguasaan atas ilmu juga lebih penting diupayakan daripada hanya sebatas berbangga diri. Menjadi alim dan baik menjadi syarat menjaga kualitas nasab bagi seseorang yang lahir dari garis nasab orang-orang yang juga alim dan baik.

Tapi tentu menjadi baik dan alim tidak perlu menunggu kejelasan nasab, atau menunggu informasi apakah leluhurnya juga merupakan orang baik dan alim. Motivasi untuk menjadi orang baik dan upaya memperbaiki diri harus tetap dilakukan meskipun tidak ada informasi mengenai leluhur kita. Maka motivasinya juga harus dibalik, menjadi orang baik dan alim terus diupayakan agar anak cucu dan keturunan kita kelak juga mewarisi laku kebaikan-kebaikan dari kita.