Beranda Keislaman Hadis Nasihat Rasulullah SAW untuk Para Netizen, Komen Yang Baik atau Diam Saja

Nasihat Rasulullah SAW untuk Para Netizen, Komen Yang Baik atau Diam Saja

Harakah.idDi era digital dan zaman millenial ini tidak berkata kasar dan berkomentar tidak menyinggung atau menyakiti adalah berpahala.

Nasihat Rasulullah SAW untuk Para Netizen. Manusia merupakan makhluk sosial yaitu terhubung satu dengan yang lainnya, sulit menemukan manusia yang tidak melakukan interaksi atau kontak sosial, untuk itu diperlukan nya sebuah sarana dan media untuk memudahkan manusia berinteraksi satu sama lain, seperti Bahasa, tulisan, dan sebagainya.

Seiring berjalanan nya zaman, teknologi semakin berkembang dan memudahkan manusia dalam berinteraksi dan kontak sosial hanya bermodalkan sebuah handphone. Berkembangnya zaman berbanding lurus dengan berkembangnya era media sosial, pada era sekarang definisi media sosial dimaknai sebagai aplikasi, akun atau yang berkaitan dengan media online.

Media sosial ini merupakan suatu sarana alternatif sebagai media menuntut ilmu maupun berdakwah virtual, namun sebaliknya di era sekarang segala informasi dapat diakses dengan mudah bahkan anak kecil sekalipun. Oleh karena itu media sosial menjadi wadah yang besar yang berisi banyak hal, dengan berbagai macam karakter manusia dengan latar Pendidikan  yang berbeda beda.

Maka dari itu isu media sosial mengalir dan bermunculan setiap saat, akibatnya banyaknya isu sosial yang sifatnya negative seperti berkata kasar, hate speech, dan juga hoax atau berita bohong, dalam hal ini saya sebagai penulis memanfaatkan peran informatika dalam mengkaji dan menelaah bagaimana cara bijak bersosial media menurut teladan kita Nabi Muhammad SAW.

Berbicara yang baik dan berinteraksi yang bijak dalam bersosial media

Perbuatan baik adalah kunci dalam meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, hampir semua kandungan dan ajaran Agama adalah bagaiman anjuran untuk melakukan kebaikan dan tidak menebar kebencian, tak terkecuali dalam al-Qur’an dan Hadis. Nasihat Rasulullah SAW untuk Para Netizen.

Maka dari itu cara mendakwahkan Islam dengan menebar kebaikan dan menggambarkan bahwa islam adalah Agama yang mencintai kedamaian itu sendiri, walapun Nabi adalah utusan yang dalam kehidupannya sering mengalami peperangan, namun hal tersebut muncul sebab desakan darurat, dan peperangan hanya akan dipilih jika jalan kedamaian sudah tidak bisa dirundingkan, namun hal tersebut bukanlah Islam sifatnya menyerang secara paksa namun terdapat sebab yang melatar belakanginya.

Imam al-Ghazālī mengutip sebuah kisah dari ayat al-Qur’an yang menarik tentang interaksi yang baik bahkan sekalipun terhadap orang yang buruk perilakunya, yaitu dalam QS. Ṭāhā [20]: 44. Ayat tersebut dikutip sebagai isyarat dan sindiran atas sikap seseorang khususnya dalam keagamaan yang sering bersifat terlalu tegas bahkan sampai kasar baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Dalam ayat di atas dijelaskan oleh Imam al-Ghazālī bahwa Nabi Muhammad SAW. Musa dan Nabi Harun sebagai pendakwah Islam dituntut untuk bersifat lemah lembut baik dalam ucapan perkataan maupun perpuatan, padahal orang yang dihadapi pada saat itu adalah raja Fir’aun yang terkenal kasar. Dari hal ini dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa interaksi yang baik merupakan sebuah kunci dalam meraih keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Tentunya Nabi sebagai utusan terakhir sekaligus Nabi Muhammad SAW. terbaik dibandingkan dengan Nabi lainnya tentu mengajarkan tentang sikap yang bijaksana, penuh kearifan, dengan cara bertutur kata yang sopan, lembut, dan tidak menyinggung perasaan.

 Berangkat dari hal tersebut, umat Nabi sudah selayaknya meninggalkan karakter arogan, kasar, terutama dalam masalah agama, sebab hal tersebut tidak pernah dibenarkan dalam al-Qur’an dan tafsirnya, maupun hadis dan syarahnya, oleh sebab itu penting kiranya orang memahami hadis secara tekstual dan kontekstual agar mendapatkan pemahaman yang holistik dan komprehensif, ditambah dengan kontekstualisasi pemahaman hadis yang dikaitkan pada masa yang millenial yang tentunya berbeda jauh dengan masa Nabi, dengan adanya media sosial yang lebih canggih.

Dalam hadis yang umum di masyarakat juga pentingnya berkata yang baik atau diam, dalam kitab Sahih Bukhari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari).

Cara bicara mencerminkan moral seseorang maka dalam bersosialmedia kita sebagai ummat muslim sudah sepatutnya meneladani sifat dan karakter Rasulullah dengan berinteraksi ramah dan sopan kepada siapapun juga tidak menebar kepencian (hate speech), atau memposting suatu hal yang menyinggung, karena media sosial untuk berpendapat dan menerima informasi serta beinteraksi dengan sesama juga menjalin silaturahmi.

Hadis telah disampaikan sudah lama oleh Nabi. sehingga dapat dikaji dan didiskusikan sampai saat ini. Namun sebuah persoalan, bahwa kondisi sosial masyarakat Islam dahulu dan sekarang tentu memiliki banyak perbedaan, semakin berkembang, sedangkan teks Hadis tetap tanpa berubah sedikitpun.

Berangkat dari hal tersebut menjadikan banyak ulama’ yang kemudian mulai mengupayakan kesesuain makna Hadis di zaman dahulu untuk ditarik dan diterapakn di zaman sekarang. Oleh sebab itu kesadaran bahwa pemahaman hadis tentang interaksi dalam media sosial yang baik telah berkembang dari teks ke konteks adalah keniscayaan seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan.

Bahwa kalimat yang baik adalah sedekah sebagaimana dinyatakan Nabi, bukanlah tanpa sebab. Di zaman millenial semua orang dapat berkomunikasi di media sosial dengan sangat leluasa, hal ini tentunya tidak lepas dari etika dan tata krama yang harus dijunjung di dalamnya.

Walaupun setiap individu dapat mengakses media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan whatsapp namun semua itu adalah wadah atau media untuk saling berkomunikasi antar manusia Tentunya dalam mengupload sesuatu di sosial media harus mempertimbangkan makna serta tulisan yang disampaikan, atau jika mengupload video maupun foto tidak menyinggung orang lain, sebab yang demikian itu adalah bagian dari taat kepada Allah swt. dan Rasul-Nya.

Di era digital dan zaman millenial ini tidak berkata kasar dan berkomentar tidak menyinggung atau menyakiti adalah berpahala. Berbeda dengan zaman dahulu dimana sekarang sudah ada rekam jejak digital. Jika pada zaman dahulu Nabi adalah seseorang yang bertutur kata baik maupun buruk hanya akan didengarkan dan maksimal diceritakan dari mulut ke mulut, pada era sekarang kita harus lebih berhati-hati lagi terhadap apa yang akan kita ucapkan pada seseorang sebab sekali menyampaikan perkataan buruk akan terekam dan sulit dihapuskan dari media social. Bahkan menjadi boomerang bagi diri kita sendiri.

Sebaliknya jika kita mengakses atau mengupload perkataan yang baik dan bijak atau menebar kebaikan serta sharing ilmu dan memotivasi yang lain agar bisa berbuat baik, maka itu akan menjadi pahala jariah dan pahala sedekah yang terus mengalir karena memotivasi orang lain untuk berbuat baik, sebaliknya jika kita berkata kasar dan memposting suatu hal yang buruk maka postingan tersebut menjadi dosa yang terus ada selama postingan itu dihapus sampai akar akar nya.

Menyikapi hate speech dan juga pencemaran nama buruk, untuk itu Indonesia memberlakukan Pasal 27 Ayat 3 tentang Undang-Undang Informasi serta transaksi elektronik yang biasa disingkat dengan ITE. Walaupun pengkajian pasal tersebut masih terus didiskusikan oleh Kominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) sebab pasal dan isinya yang masih terlalu umum dalam penerapannya, sehingga banyak dari sebab diberlakukannya pasal tersebut kemudian terdapat pihak yang terjerat pasal karena mengkritik di media sosial lewat postingan tulisan atau semacamnya.

Oleh sebab itu pasal ini walau terbilang kontroversial dan masih dalam tahap proses namun berangkat dari adanya upaya etika berinteraksi yang baik di media sosial, pihak Pemerintah Indonesia telah maju satu langkah untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bijaksana terhadap kebebasan informasi di dunia maya dan mengikuti teladan sopan santun dan bertutur kata yang baik sesuai teladan nabi kita Muhammad SAW.

Media sosial membuat kita dimudahkan dalam urusan sehari hari, bersekolah, berdagang hingga mencari informasi, kebebasan mengakses dan berekspresi membuat media sosial menjadi wadah atau media yang bisa menjadi pedang bermata dua bagi ummat muslim, banyak pantangan yang harus dihadapi agar tidak menyakiti sesama dan membuat penyakit hati untuk diri kita sendiri, tentunya kita sebagai umat Islam yaitu ummat Nabi Muhammad SAW perlu meneladani sifatnya yaitu dengan menjadikan social media sebagai sarana menebar kebaikan.

Demikian ulasan tentang “Nasihat Rasulullah SAW untuk Para Netizen, Komen Yang Baik atau Diam Saja”. Semoga bermanfaat.

Artikel kiriman Muhammad Aulia Ul Rahman, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...