Nasionalisasi Tanah Milik Keluarga Umayyah, Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Berujung Konflik

0
813
Nasionalisasi Tanah Milik Keluarga Umayyah, Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Berujung Konflik

Harakah.idKekhalifahan Ali bin Abi Thalib adalah sekuen dari sekian banyak yang bisa dipelajari dalam sejarah Islam. Meskipun hingga kini terkesan “berdarah”, apa yang terjadi di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sejatinya juga patut diingat sebagai pembelajaran.

Alkisah, kala Rasulullah saw wafat di pangkuan siti Aisyah RA, M. Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad saw (Lentera hati, 2011) menyebut, Ali bersama al-Fadhl (putranya Abbas) dan Usamah bin Zaid, memandikan dan memberi wewangian kepada jasad Rasulullah. Kemudian dikafani. Digalilah liang lahat untuk jasad Rasulullah. Yang menggali ialah Thalhah Zaid bin Sahal. Setelah itu dimakamkan persis di kamar tempat pembaringan beliau, di kamar Aisyah, yang kala itu masih berada di luar area Masjid Nabawi.

Waktu berlalu, hingga wafatnya Utsman bin affan di tangan pemberontak. Episode kehidupan Ali berlanjut ke tahap dimana beliau menjadi Khalifah pengganti Usman bin Affan. Menurut Muhammad Ridha dalam buku Ali bin Abi Thalib (Al-Qowam, 2013), awalnya Ali menolak ditunjuk penduduk Madinah sebagai pengganti Usman. Ali lebih suka menjadi wazir bagi umat Islam. Bahkan Ali mengusulkan dua nama alternatif yaitu Thalhah bin Ubaidillah atau Zubair bin Awwam. Thalhah ini seorang sahabat yang punya julukan “Assyahidul hayyi” atau syahid yang hidup sendiri. Julukan tersebut diberikan Rasulullah saw saat perang Uhud. Sementara Zubair adalah keponakannya Siti Khadijah.

Singkat cerita, Ali bersedia dibaiat sebagai Khalifah keempat. Di era kekhalifahan Ali berniat mengembalikan pemerintahan Islam seperti era Amirul mukminin, Umar bin Khattab. Kemudian semua tanah yang diambil keluarga Umayyah pada masa Usman, dikembalikan lagi menjadi milik negara. Kekhalifahan Ali juga tak ragu mengganti gubernur yang sewenang wenang salah satunya Muawiyah di Syam. “Karena perang saudara, Ali memindahkan ibukota dari Madinah ke Kufah” tulis Dr. M. Abdul karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban islam (Pustaka book, 2007).

Tatkala kekhalifahan Ali memecat beberapa gubernur, Muawiyah makin gencar bermanuver politik. Seperti apa manuver politiknya? dijelaskan Syed Mahmudunasir dalam buku Islam konsepsi dan sejarahnya (Remaja Rosdakarya, 2005) Muawiyah menggunakan masjid untuk berkampanye bahkan menjatuhkan Ali bin abi thalib. Ia memanfaatkan kasus pembunuhan Khalifah Usman. Tak lupa membangkitkan kemarahan pendukungnya dengan memperlihatkan di dalam masjid Damaskus barang-barang peninggalan Utsman bin affan beserta potongan jari istri Khalifah Utsman. Boleh dibilang, Muawiyyah adalah sosok pertama dalam sejarah Islam yang menunggangi masjid untuk kepentingan politiknya.

Manuver Muawiyyah tak dapat dibendung, sehingga terjadilah Perang Shiffin. Saat terpojok, atas usulan Amr bin Ash, Muawiyah menawarkan gencatan senjata dengan mengangkat al-Quran. Usai gencatan senjata atau arbitrase dalam Perang Shiffin, muncul kelompok khawarij, mereka ini awalnya di pihak Ali, lalu mengutuk Ali karena memilih langkah Arbitrase padahal pihaknya telah unggul. 

Khawarij ini bisa disebut kelompok garis keras. Mereka punya pandangan bahwa jihad masuk rukun Islam yang keenam. Mereka mendukung pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap semua lawan mereka dengan alasan bahwa mereka kaum musyrik dan karenanya tidak memiliki hak dan tidak boleh hidup,” Tulis Antony black dalam Pemikiran politik Islam (Serambi, 2006). Di bidang politik, menurut Dr. M. Abdul karim khawarij punya pandangan khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat, baik Arab atau non Arab. Bahkan perempuan boleh jadi pemimpin bila memang mampu dan memenuhi kriteria sebagai kepala negara. Selain khawarij, ada kelompok Syiah dan Murjiah.

Setelah tidak berhasil mengalahkan Ali dalam perang Shiffin, Dalam buku Sejarah umat Islam karangan Buya Hamka, Muawiyyah menuju Mesir, karena negeri itu kaya akan hasil alamnya. Usai mesir dikuasainya, Muawiyyah menyusun kekuatan untuk menaklukan Hijaz, Yaman dan Bashrah. Orang yang sakit hati atas dibunuhnya Khalifah Utsman, ia kumpulkan dan jadi pengikutnya. 

Peran Ali sebagai Khalifah keempat harus berakhir karena seorang Khawarij bernama Abdurrahman ibn Muljam. Sejarah mencatat pada 21 Ramadhan, Ali bin Abi thalib dibunuh saat memasuki masjid untuk menunaikan sholat subuh. Setelah wafatnya Ali, kepemimpinan umat diserahkan kepada Hasan bin Ali. Bila Ali dizalimi oleh khawarij, maka di kemudian hari, dua putranya dikhianati kelompok syiah rafidhah.