Beranda Headline Naskah Nusantara dan Retakan Historiografi yang Perlu Ditambal

Naskah Nusantara dan Retakan Historiografi yang Perlu Ditambal [1]

Memperjelas Aktor, Pangkalan dan Alur Kisah Islamisasi di Nusantara

Review Buku “Islamisasi Nusantara: Dari Era Khalifah Usman bin Affan hingga Wali Songo [Studi Tentang Asal-Usul Intelektual Islam Nusantara]” (Tangerang Selatan: Pustaka Afid, 2018) karya Ahmad Baso.

 

Pra-Scriptum

Asumsi utama yang hendak diproblematisir oleh Ahmad Baso dalam buku ini adalah bahwa historiografi Islamisasi Nusantara tidak akan dapat digambarkan secara utuh dan cenderung distorsif ketika data-data informasi dari sumber-sumber Cina, Spanyol, Arab dan Persia tidak dipadukan dengan data informasi yang terdapat dalam naskah-naskah Nusantara. Sebagai aktor sekaligus ruang bagi proses dinamika panjang Islamisasi, Nusantara tentu saja menjadi saksi utama bagaimana parodi tersebut dimainkan. Lalu bagaimana ceritanya, seseorang yang hendak menjelaskan proses tersebut, justru mengabaikan kesaksian-kesaksian yang termuat sebagai informasi dalam naskah-naskah Nusantara itu sendiri?

Menurut Ahmad Baso, perdebatan mengenai proses Islamisasi Nusantara yang melibatkan banyak akademisi dan sejarawan hingga hari ini cenderung stagnan dan tidak mampu menjelaskan banyak hal. Hal itu dikarenakan mereka –khususnya para sarjana Barat–, dengan sengaja atau tidak, mencukupkan diri dengan data-data parsial dari sumber-sumber luar dan sekunder sekaligus menghindari untuk mengakses langsung sumber primer. Tidak ada upaya lanjutan misalnya untuk membandingkan dan mendialogkan informasi dari sumber-sumber tersebut dengan informasi yang ada dalam naskah-naskah di Nusantara. Keterbatasan bahasa sebagai pintu utama mengakses naskah dan kesan stereotip yang sudah terlanjur disematkan kepadanya adalah dua hal yang menjadikan naskah Nusantara cenderung tidak menarik – bahkan over-subyektif – untuk dijadikan rujukan sejarah.

Dengan kata lain, buku ini hendak memperjelas posisi naskah Nusantara dalam meluruskan dan menambal keretakan historiografi mengenai Islamisasi di Nusantara. Naskah-naskah tersebut bukanlah hanya sekedar cerita-cerita fiktif, sebagaimana yang banyak disimpulkan oleh para sejawaran. Ahmad Baso menunjukkan bahwa naskah-naskah tersebut, dengan caranya sendiri, sejatinya tengah berbicara dan menyuguhkan kesaksian yang sangat obyektif nan rinci mengenai proses, aktor dan pangkalan-pangkalan strategis tempat Islamisasi bermula.

Setidaknya ada tujuh naskah yang digunakan oleh Ahmad Baso di dalam buku ini. Seluruhnya diletakkan sebagai data utama yang menawarkan informasi seputar proses Islamisasi di Nusantara, sekaligus data pembanding bagi data informasi yang disajikan dalam sumber-sumber Arab, Cina, Spanyol maupun Persia. Ketujuh naskah tersebut adalah: Babad Banten (KBG 183/PNRI – Pegon), Babad Cirebon (Br 75/PNRI – Pegon/Jawa), Babad Sasak (K. 15/P – Jawa/Bali), Ceritera Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa (LOr 6727/UBL – Jawi), Hikayat Marong Mahawangsa (MS 134/DBP – Jawi), Hikayat Raja Handaq dan Hikayat Raja-Raja Pasai (Or 14350/ BL – Jawi), Hikayat Raja-Raja Pasai (RAS Raffles Malay No. 67 – Jawi) dan Sajarah Melayu (RAS Raffles Malay No. 18 – Jawi).

Buku ini memang tidak menyajikan model penelitian filologis yang rinci sebagaimana layaknya filolog menatap naskah. Namun ketika naskah dan filologi menjadi media dan ventilasi untuk melihat problem yang lebih kompleks yang ada di baliknya, maka Ahmad Baso betul-betul menunjukkan hal itu dengan meletakkan naskah Nusantara sebagai basis informasi sekaligus data historis mengenai proses Islamisasi di Nusantara.

 

Lintasan Perdebatan Soal Islamisasi Nusantara

Hal pertama yang dilakukan Baso untuk menunjukkan retakan dalam historiografi hegemonik-kolonialistik yang selama ini dominan dalam proses penulisan sejarah Islamisasi Nusantara adalah membeberkan seluruh teori dan penelitian yang telah dilakukan terkait Islamisasi Nusantara. Teori-teori tersebut mengalami beberapa fase perkembangan dan perubahan seiring dengan muncul dan dibukanya arsip-arsip sejarah baru. Baso melakukan kritik terhadap seluruh teori yang ada dan mencoba membuktikan bahwa upaya menjelaskan Islamisasi di Nusantara akan gagal kalau tidak merujuk kepada naskah-naskah Nusantara itu sendiri.

Teori pertama yang mungkin sangat familiar di telinga kita dan basah memenuhi literatur-literatur sejarah Nusantara adalah Teori India. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Snouck Hugronje. Dengan mendasarkan teorinya pada kesamaan bentuk batu nisan di Pasai abad 13 dengan batu-batu nisan di India, Snouck dengan cukup menyakinkan menawarkan kesimpulan bahwa Islam di Indonesia berasal dari Gujarat atau India.

Teori India semakin populer ketika R.A. Kern menyebutkan bahwa nisan di Pasai memang diimpor dari Cambay atau Gujarat. B.J.O. Schrieke, C.C. Berg dan Winstedt adalah sejawaran-sejawaran yang juga turut mempopulerkan dan menegaskan bahwa teori India merupakan teori yang paling bisa menjelaskan asal-usul Islam di Nusantara. Dari seluruh sejarawan Barat yang mengapresiasi teori India, G.W.J. Drewes adalah salah satu yang paling fanatik. Dengan menyatakan bahwa belum ada teori baru yang bisa membantah teori India, Drewes memberikan penjelasan bahwa Islamisasi terjadi secara satu arah karena melibatkan aktor-aktor yang pasif dan tidak kreatif dalam merespons kebaharuan.

Cukup lama teori nisan India dipegang sebagai postulat historiografi. Menurut Baso, apa yang diperlihatkan oleh teori nisan India adalah upaya pembekuan dan penghentian sejarah dari sebuah proses aktif-dialogis antara aktor-aktor yang terlibat, menjadi sekedar permainan cocokologi yang melibatkan benda mati seperti batu nisan. Tidak ada penampilan India yang historis, apalagi Nusantara yang historis. Dan ini yang coba ditambal oleh Stuart Robson.

Dengan meneliti tradisi kesusastraan di India dan Nusantara abad 14-15 M, Stuart Robson mempertegas asumsi bahwa Islam di Nusantara berasal dari India. Hal itu disebabkan oleh adanya kesamaan produk kesusastraan antara India dan Nusantara di kisaran abad tersebut. Hal ini, menurut Robson, menunjukkan adanya satu ikatan historis yang sangat kuat, yang dihubungkan oleh jalur pelayaran antara India dan Nusantara.

Keberadaan Teori India secara tidak langsung menisbikan peran Arab sebagai pusat dakwah Islam. Para sejawaran tidak melihat keterlibatan Arab di dalam proses Islamisasi Nusantara. Dengan kata lain, Islam yang terejawantah di Nusantara adalah Islam India, bukan Islam yang datang dari Arab. Namun seluruh bangunan asumsi ini bergeser semenjak muncul beberapa konferensi Islamisasi Nusantara. Setidaknya ada dua konferensi besar yang diselenggarakan di Medan dan Banda Aceh di tahun 1960-an yang memulai satu fase penelurusan lebih serius terkait keterlibatan Arab dalam proses Islamisasi.

Fase ini diikuti kemudian oleh beberapa sejawaran Barat seperti Thomas W. Arnold, G.E. Marrison yang mengkritik keras teori Gujarat dan A.H. Johnson yang mulai melacak peranan aktor-aktor aktif dari kalangan orang Arab di abad 13. Namun seluruh penelurusan tersebut terhenti di abad 13; terhenti di sabda Marcopolo yang secara tidak langsung menjadi frame ortodoksi penulisan sejarah Islamisasi Nusantara. Sebelum abad 13? Wallahu a’lam bis shawab…

Penelurusan peranan Arab terus dilakukan. Data-data sejarah semakin memperlihatkan kejelasan peranan tersebut terutama setelah arsip-arsip sejarah Dinasti Tang dan Dinasi Song (960-1270) dibuka ke publik. Melalui arsip tersebut, Paul Wheatley menunjukkan dan membuktikan keterbilatan bangsa Arab di Asia Tenggara. Muncullah dua kata kunci yang menjadi gerbang penelusuran baru bagi sejarah Islamisasi Nusantara: “Tashi” dan “Mangiri”. Orang-orang “Tashi” yang disebut arsip Dinasti Song diklaim telah bermukim di Nusantara sejak abad 7 M.

Selain Wheatley, S.Q. Fatimi termasuk sejawaran yang turut terlibat aktif dalam menempatkan Arab di sebuah posisi strategis kaitannya dengan Islamisasi Nusantara. Selain itu, ada juga dua intelektual Nusantara yang turut mengamini asumsi tersebut, yaitu: Habib Alwi bin Tahir al-Haddad dan Syeikh Naquib al-Attas. Keduanya berpendapat bahwa kedatangan Islam di Nusantara melibatkan aktor-aktor keturunan langsung Rasulullah SAW. Meskipun begitu, seluruh upaya tersebut hanya sebatas asumsi yang tidak memiliki bukti literal. Siapa Tashi? Di mana Mangiri? Adalah pertanyaan yang tidak terjawab. M.A.P. Meilink-Roelofsz, Andre Wink dan Denys Lombard juga tak menjelaskan lebih jauh siapa aktor Tashi tersebut? Di mana pangkalan dan bagaimana prosesnya.

Orang Arab mana yang membawa Islam ke Nusantara? Ada dua pendapat besar; pertama adalah pedagang. Asumsi yang mengatakan bahwa pedaganglah yang membawa ajaran Islam biasanya didasarkan pada catatan Tome Pires. Catatan tersebut, menurut Baso, mengabaikan peran kunci para waliyullah keturunan Rasulullah langsung. Hal ini yang kemudian dikritik oleh Richard M. Eaton, yang menemukan bukti keberadaan kelompok sufi di Pesisir India di abad 13-17 M. tapi lagi-lagi, penelitian Eaton terkunci di frame historiografi Marcopolo.

Ada beberapa variabel yang akan ditelusuri Baso dalam bukunya; Tashi, Mangiri dan peranan langsung keturunan Rasulullah SAW dalam proses Islamisasi Nusantara. Jadi salah kalau dikatakan Islam Nusantara adalah Islam yang tidak asli dan palsu karena tidak datang dari Arab. Baso akan membuktikan kalau Islam Nusantara original made in Arab yang dibawa langsung dan disebarkan oleh keturunan Rasulullah SAW.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...