Beranda Headline Naskah Nusantara dan Retakan Historiografi yang Perlu Ditambal

Naskah Nusantara dan Retakan Historiografi yang Perlu Ditambal [2]

Memperjelas Aktor, Pangkalan dan Alur Kisah Islamisasi di Nusantara [bagian II]

Review Buku “Islamisasi Nusantara: Dari Era Khalifah Usman bin Affan hingga Wali Songo [Studi Tentang Asal-Usul Intelektual Islam Nusantara]” (Tangerang Selatan: Pustaka Afid, 2018) karya Ahmad Baso.

 

Pergerakan Aktor Islamisasi Nusantara Keturunan Rasulullah

Naskah pertama yang digunakan Baso untuk melakukan pemetaan awal adalah naskah Hikayat Raja-Raja Pasai. Naskah ini konon sudah ditulis tahun 1390. Hikayat Pasai memiliki peran sentral karena keberadaan Pasan sendiri menandakan apa yang disebut Baso sebagai periode tadwin kedua. Di periode Pasai, data-data masa lalu dihimpun dan diberikan pendasaran logis serta rasionalnya. Dengan kata lain, kalau mau berbicara soal Islamisasi Nusantara sebagai obyek kajian ilmiah, periode Pasai adalah titik berangkatnya.

Naskah Hikayat Pasai dimulai dengan menunjukkan karakteristik proses Islamisasi yang terjadi di Nusantara. naskah Hikayat Pasai tahun 1797 memulai dengan sebuah intro;

Ini hikayat ceritera peri menyatakan raja pertama masuk agama Islam bernama negeri Pasai, maka adapun diceriterahkan oleh orang yang empunya ceritera ini negeri yang di Bawah Angin ini Pasai-lah yang pertama membawa iman akan Allah dan Rasulullah.

Kalimat “membawa iman”, menurut Baso, adalah simbol bagi proses Islamisasi yang kreatif, bukan pasif. Ia tidak menggunakan “menerima iman”, tapi “membawa”. Hal yang sama juga ditemukan dalam naskah-naskah Bali-Lombok yang juga terbiasa menggunakan kalimat “hambawa Iman”.

Untuk menunjukkan kedekatan Rasulullah SAW dengan Nusantara, Baso mengutip Hikayat Pasai halaman f. 52v-52r naskah 1797. Teks ini berbicara mengenai ramalan dan wasiat Nabi untuk mengislamkan negeri di bawah angin;

… Demikian sabda bagindah: bahwa ada sepeninggalku wafat itu ada sebuah negeri di Bawah Angin, Samudra namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kamu suruh sebuah kapan membawa perkakas alat kerajaan dan kamu bawah ia orang dalam negeri itu masuk agama Islam serta mengucap kalimat syahadat…

Dalam literatur hadis tentu tidak akan pernah kita temukan hadis sahih tentang wasiat dan ramalan Rasulullah SAW tersebut. Namun secara historis hal tersebut menjadi rasional karena wasiat Nabi diletakkan sebagai pasemon dan teks simbol terkait gambaran kedekatan Rasulullah dengan kenusantaraan.

Dalam naskah yang lain, Ceritera Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, ditemukan model penyuguhan yang sama. Di dalamnya dikisahkan bahwa Rasulullah SAW berwasiat dan meramal proses Islamisasi di Negeri Bawah Angin. Lagi-lagi, hal tersebut ditujukan untuk menggambarkan kedekatan historis antara Arab dan Jawi yang memang terbentuk jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara lewat jalur pelayaran.

Siapa aktor yang mengeksekusi wasiat dan ramalan Rasulullah tersebut? Naskah Babad Sasak menjelaskan rincian tugas islamisasi yang diemban oleh Khulafaur Rasyidun. Khalifah Abu Bakar ditugaskan Rasulullah mengislamkan wilayah Barat. Khalifah Umar ditugaskan Rasulullah mengislamkan wilayah Utara. Khalifah Usman ditugaskan Rasulullah mengislamkan wilayah Selatan. Dan Khalifah Ali ditugaskan untuk mengislamkan wilayah Timur, termasuk Nusantara.

Wus Atumindak maring so ring Angin, sama kinen, dening Rasulullah, hanyelamin sakabehe [136a]… Abubakar mara hing Maghrib, Umar hing bar lor dumnya. Sahabat Usman hing kedul nyelami, Bagenda Ali hing Masrik ta punika. Samya ken nyelam kabeh…

Dari sini, Babad Sasak memperjelas aktor-aktor yang akan terlibat penuh dalam proses Islamisasi di Nusantara, yaitu keturunan-keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Untuk memperkuat asumsi ini, naskah Marong Mahawangsa menambahkan penjelasan bahwa proses awal Islamisasi dimulai dari jaringan Mekkah-Madinah yang memang diisi oleh waliyullah keturunan Rasulullah langsung.

Menurut Baso, ada dua jaringan yang terbentuk di Mekkah, yang menggerakkan proses Islamisasi; jaringan keulamaan dan jaringan tarekat-kewalian. Yang pertama melalui lingkaran pengajian kitab-kitab keislaman Aswaja di Masjidil Haram, sedangkan yang kedua melalui jaringan sanad kewalian Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani.

Pertanyaan selanjutnya, dari mana dan ke mana aktor-aktor keturunan Sayyidina Ali tersebut bergerak hingga sampai di Nusantara? Untuk menjawab ini, Baso merujuk kepada Babad Cirebon yang secara tersurat menjelaskan bahwa keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Duriyating Rasulullah, kang bakal mencar ngajawi… mencar maling pulo-pulo… mencar ing pulo ngejawa, ing Jawa sabrang.” Namun keturunan Sayyidina Ali tersebut tentu tidak tiba-tiba langsung masuk Nusantara. Setelah dipaksa pindah dari Mekkah dan Madinah, keturunan Sayyidina Ali kemudian berpindah ke beberapa wilayah. Salah satu faktor yang membuat mereka sering berpindah sebelum pada akhirnya bermukim di Yaman adalah faktor politik.

Baso menggambarkan rute perpindahan tersebut dengan rinci. Mekkah-Madinah ke Irak. Dari Irak, keturunan Sayyidina Ali berpencar ke Asia Tengah, India dan Yaman. Di Yaman, kelak muncul keturunan Sayyidina Ali bernama Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir yang menurunkan keturunan bernama Ba’lawi. Dari marga Ba’lawi lahir Syeikh Muhammad Shahib Mirbath di abad 12, Syeikh Abdul Malik di abad 13 dan Syeikh Jumadil Kubro di abad 14. Dari Syeikh Jumadil Kubro, Wali Songo kemudian muncul di abad 15.

Secara umum, pupuh 3-9 Babad Cirebon mengisahkan bahwa ada enam gelombang masuknya keturunan Sayyidina Ali tersebut ke Nusantara . Gelombang pertama diisi oleh keturunan Ali Zainal Abidin yang masuk lewat Champa dan Sumatera. Gelombang kedua diisi oleh keturunan Syeikh Junaid al-Baghdadi yang masuk melalui Champa, Pasai dan Pulo Pinang. Gelombang ketiga diisi oleh Muhammad Akbar yang masuk lewat Pulo Opih. Gelombang keempat diisi oleh keturunan Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani yang masuk lewat Pulo Sirang, Pulo Malati, Ceylon ke Pulo Malaka. Gelombang kelima diisi oleh keturunan Syeikh Jumadil Kubro yang masuk lewat Pasai. Gelombang keenam diisi oleh Bagus Saleh lalu Syeikh Ibrahim yang masuk lewat Kamboja.

Data enam gelombang masuknya keturunan Sayyidina Ali ke Nusantara yang dicantumkan Babad Cirebon tersebut secara tidak langsung menjelaskan informasi dari arsip Dinasi Song yang mengisahkan keberadaan orang-orang Tashi yang memang memiliki pangkalan dan pemukiman di pesisir Nusantara sejak abad 7 M. Siapa orang Tashi tersebut? Ahmad Baso menyediakan bab khusus mengenai hal itu dan keterlibatan orang Quraisy dan Ahlul Bait sejak era Khalifah Usman bin Affan.

 

Orang Tashi dan Jaringan Proses Islamisasi dari abad 8 sampai 14 M

Kedekatan Arab dan Nusantara memang sudah terbentuk sejak Rasulullah SAW masih hidup. Namun kapan persisnya Islamisasi Nusantara terlaksana? Baso menjawab sejak masa Khalifah Usman bin Affan. Bukan tanpa alasan Baso menyimpulkan demikian. Dia mengutip beberapa rujukan, antara lain kitab Nukhbah al-Dahri karya Muhammad al-Dimasyqi.

Selain itu, laporan Cina menyebutkan kedatangan utusan Khalifah Usman ke Istana Cina. Mereka menyebutnya “Tashi” dan menjelaskan kalau itu adalah nama sukunya. Dengan kata lain, “Tashi” bermakna Quraisy, bukan Persia, Turki atau Tajik. Tashi adalah cara orang Cina menyebut salah satu nama suku paling tua dan berpengaruh di Arab yaitu Quraisy.

Menurut Baso, orang-orang Quraisy inilah yang memegang peranan dan menjadi aktor utama Islamisasi. Hal itu dibuktikan oleh fakta bahwa perairan Cina dan India sejak lama dilayari kapal-kapal umat Islam yang diisi oleh orang Quraisy. Berbekal nama suku tersebut, orang Quraisy secara tidak langsung pun memiliki pengaruh politik dalam agenda perebutan aset-aset ekonomi strategis di masa itu.

Berdasarkan bukti epigrafis dan kesaksian dalam Babad Cirebon, komunitas Alawi dan keturunan Sayyidina Ali tersebut memang sudah menyebar di kawasan Asia Tenggara pada abad 10-11 Masehi. Hal ini membuktikan bahwa orang-orang Tashi secara umum dan Bani Hasyim secara khusus memang tengah menguasai jalur perdagangan dan mudah mengontrol rute pelayaran. Pangkalan utama yang menjadi basecamp Bani Hasyim tersebut melaksanakan Islamisasi adalah India, atau lebih tepatnya di Mangiri.

Menurut Baso, gelombang pertama Arab Quraisy dan keturunan Rasulullah yang membuka tanah di India sudah dimulai sejak abad 8 M. Mereka kabur dari Madinah tahu 152 H/769 M untuk menghindari persekusi Dinasti Abbasiyah. Munculnya koloni-koloni Muslim awal di India ini terjadi sebelum ekspansi politik dan militer penguasa Muslim dari Asia Tengah, Persia dan Turki di abad 12.

Selain Mangiri dan Gujarat, Baso menyebutkan beberapa pangkalan koloni lainnya yang dijadikan tempat bermukim Bani Hasyim, baik yang terdapat wilayah-wilayah luar Nusantara sebagai titik tolak awal Islamisasi, maupun di dalam wilayah Nusantara itu sendiri sebagai bukti dimulainya proses Islamisasi. Tentu saja tidak seluruhnya disandarkan pada data dan informasi yang diberikan naskah-naskah Nusantara. Baso mengemas dan mengurutkan alur kejadian Islamisasi lengkap beserta aktor dan pangkalannya dengan mengombinasikan naskah-naskah tersebut dan beberapa hasil penelitian sejarah, baik yang ditulis sarjana Barat maupun intelektual Muslim.

Dalam dua bab terakhir bukunya, Baso menjelaskan penyebaran aktor-aktor Islamisasi di Nusantaradari abad 8 hingga 13 M. Ia juga menjelaskan seputar kontribusi Sayyid Abdul Malik hingga Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar dalam peranannya membentuk jaringan Islamisasi dari Benggala, Campa, Jawa dan Bugis di abad 14 M.[]

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...