Nepotisme dalam Perspektif Al-Qur’an, Berlawanan dengan Prinsip Keadilan

0
131

Harakah.idPraktik nepotisme tidak diperbolehkan menurut Al-Qur’an apabila tindakan tersebut sebagai bentuk ketidak-adilan, baik terhadap dirinya, keluarganya dan juga kerabatnya.

Nepotisme telah menjadi suatu budaya dalam setiap proses pengambilan keputusan oleh pihak birokrasi, baik pada tingkat elit pemerintahan maupun pada swasta. Budaya tersebut sudah tidak asing terutama bagi kalangan pembuat kebijakan. Perkara Nepotisme yang banyak menimpa para pejabat, baik dari kalangan eksekutif, yudikatif maupun legislatif menunjukkan tidak hanya mandulnya Undang-undang Nomor 28 tahun 19992, tetapi juga semakin tidak tertibnya nilai-nilai kehidupan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Terminologi Nepotisme

Term nepotisme terambil dari akar kata nepos dan otis, yang berarti cucu laki-laki, keturunan atau saudara sepupu. Kata-kata ini kemudian mengalami perluasan arti yaitu: Pertama, perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat. Kedua, kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri terutama dalam jabatan, atau pangkat dalam lingkungan pemerintah.

Ketiga, tindakan memilih kaum kerabat atau sanak saudara sendiri adalah untuk memegang jabatan pemerintahan (urusan publik). Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara nyata melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Hubungan kedekatan emosional sangat mempengaruhi jalannya sebuah proses perekrutan, penentuan calon anggota, mendapatkan proyek dan sebagainya.

Sedangkan definisi nepotisme dalam tatanan hukum positif Indonesia adalah, Setiap perbuatan Penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Sedangkan dalam Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial Seligman dan Johnson, keterangan mengenai nepotisme terdapat dalam entri “Spoils System” (sistem yang rusak). Dalam entri tersebut, Leonard D. White menjelaskan bahwa nepotisme adalah sistem penunjukan sanak saudara ke jabatan publik. Sistem pengangkatan berdasarkan nepotisme tergolong ke dalam sistem yang rusak karena menyalahi prinsip merit-system (sistem pengangkatan berdasarkan pendidikan, keahlian, pengalaman, dan prestasi).

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Nepotisme

Untuk menelaah konsep nepotisme dalam perspektif Al-Qur’an terlebih dahulu dijelaskan tentang term saraqah (pencurian), risywah (suap), khiyanat (pengkhianatan), al-ghasysy (penipuan). Sebab, term-term tersebut berkaitan dengan aspek moralitas dan kemanusiaan yang sarat dengan nilai-nilai etika dan perilaku hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadits, melalui keduanya para ulama menggali dan mengembangkan berbagai teori untuk kepentingan umat Islam.

Penjelasan Umum Ayat-ayat Nepotisme

Nepotisme sebagaimana telah dijelaskan hakekatnya adalah mendahulukan dan membuka peluang bagi kerabat atau teman-teman dekat untuk mendapatkan fasilitas dan kedudukan pada posisi-posisi yang berkaitan dengan birokrasi pemerintahan, tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku, sehingga menutup peluang bagi orang lain.

Praktik nepotisme tidak dapat dikaitkan kepada pihak swasta yang memberikan kedudukan kepada anak dan keluarganya. Istilah ini hanya digunakan kepada birokrasi pemerintahan. Nepotisme dapat muncul karena berbagai alasan, antara lain berkaitan dengan nilai-nilai budaya masyarakat yang begitu kuat menuntut anggota kerabat yang sukses untuk membantu kerabat lain yang membutuhkan pertolongan.

Dalam Islam, tidak diperbolehkan bagi seorang yang mempunyai jabatan kekuasaan memberikan kedudukan yang bersifat publik kepada keluarganya sendiri, bahkan orang yang terdekat dengannya meskipun bukan keluarganya, tanpa melihat kemampuannya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an QS. an-Nisa’ ayat 135 sebagai berikut;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

 “ Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benarbenar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Imam al-Qurthubi menjelaskan redaksi ayat (jadilah penegak-penegak keadilan), merupakan redaksi yang sangat kuat terkait perintah untuk berlaku adil dapat dikemukakan dengan menyatakan: (berlaku adillah). Lebih tegas dari terjemah ayat ini adalah (jadilah orang-orang yang adil) dan lebih tegas dari terjemah ayat ini adalah (jadilah penegak-penegak keadilan), dan puncaknya adalah redaksi ayat di atas (jadilah penegak-penegak keadilan yang sempurna lagi sebenar-benarnya).

Pada lafadz   شُهَدَآءَ لِلَّهِ    syuhada’  (menjadi saksi-saksi karena Allah) mengisyaratkan bahwa persaksian yang ditunaikan itu hendaklah karena Allah, bukan untuk tujuan-tujuan duniawi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ilahiyah. Dijelaskannya terlebih dahulu perintah penegakan keadilan atas kesaksian karena Allah adalah disebabkan tidak sedikit orang yang hanya bisa memerintahkan yang ma’ruf,  tetapi ketika tiba gilirannya untuk melaksanakan ma’ruf  yang diperintahkannya itu, dia lalai. Ayat ini memerintahkan mereka, bahkan semua orang untuk melaksanakan keadilan atas dirinya baru menjadi saksi yang mendukung atau memberatkan orang lain.

Pada saat yang sama penegakan keadilan serta kesaksian dapat menjadi dasar untuk menolak mudharat. Bila demikian halnya, maka menjadi wajar penegakan keadilan disebut terlebih dahulu karena menolak kemudharatan atas diri sendiri, melalui penegakan keadilan tentunya lebih diutamakan daripada menolak mudharat atas orang lain.

Menurut Imam Ibnu Katsir bahwa kata-kata   خَبِيرًا   dalam ayat tersebut adalah yang tidak tersembunyi bagi-Nya hal-hal yang sangat dalam dan yang disembunyikan, serta tidak terjadi sesuatu pun dalam kerajaan-Nya di bumi maupun di alam raya kecuali di ketahui-Nya, tidak bergerak satu dzarrah atau diam, tidak bergejolak jiwa, tidak juga tenang, kecuali ada beritanya di sisi-Nya.

Ayat tersebut turun berkenaan dengan adanya sengketa antara seorang faqir dengan seorang kaya, tetapi Rasulullah saw langsung menegaskan bahwa orang yang faqir itu tidak bersalah, kemudian turunlah perintah Allah untuk menegakkan keadilan antara kedua orang yang bersengketa tersebut. Berdasarkan ayat tersebut, keadilan haruslah ditegakkan tanpa melihat kaya dan miskin. Oleh karena itu, keadilan mengandung unsur objektivitas yang harus dijunjung tinggi.

Berdasarkan ulasan mengenai konsep nepotisme dalam perspektif Al-Qur’an dapat disimpulan beberapa hal sebagai berikut:

Nepotisme berdampak buruk pada timbulnya suatu konflik loyalitas dalam organisasi, terutama bila salah seorang keluarga ditempatkan dalam posisi yang tidak sesuai dengan kemampuannya, sedangkan terdapat keluarga lain yang mampu, maka hal seperti ini harus dihindari dan dilarang oleh Islam.

Praktik nepotisme tidak diperbolehkan menurut Al-Qur’an apabila tindakan tersebut sebagai bentuk ketidak adilan, baik terhadap dirinya, keluarganya dan juga kerabatnya. Hal tersebut disebabkan karena tindakan nepotisme tidak menempatkan seseorang secara sesuai dengan kapasitasnya. Demikian “Nepotisme Dalam Prespektif Al-Qur’an” semoga bermanfaat.

Artikel berjudul “Nepotisme dalam Perspektif Al-Qur’an” adalah kiriman dari Muhammad Fauzan Fikri, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta