Beranda Kabar NU-Care LAZISNU Bantu Pembangunan Masjid Indonesia Pertama dan Pusat Kebudayaan Nusantara di...

NU-Care LAZISNU Bantu Pembangunan Masjid Indonesia Pertama dan Pusat Kebudayaan Nusantara di Belgia

Harakah.idMasjid Indonesia pertama di Belgia ini adalah salah satu hasil dari pengumpulan dana yang dikoordinir NU-Care LAZISNU selama beberapa bulan terakhir. Tak hanya masjid, lokasi tersebut kelak juga akan diproyeksikan menjadi pusat kebudayaan Nusantara di Belgia.

Pengurus Pusat (PP) NU Care-LAZISNU bersama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belgia memberikan bantuan dan dukungan penuh untuk pembelian bangunan Pusat Kebudayaan Nusantara di Belgia. Selain akan menjadi masjid Indonesia pertama di negara yang terletak di jantung Eropa, bangunan tiga lantai tersebut juga diproyeksikan sebagai sentra kegiatan kultural, sosial-kemasyarakatan, dan pendidikan bagi diaspora muslim Indonesia di Belgia.

Ketua PCINU Belgia, Miftahul Huda, menjelaskan bahwa cita-cita pendirian Pusat Kebudayaan Nusantara sebenarnya telah digagas sejak tahun 2013. Meski demikian, upaya pembelian banguan belum dapat terealisasi dengan segera karena sejumlah kendala seperti izin guna bangunan dan pendanaan. Hingga pada akhir Ramadan 1442 H, tepatnya 11 Mei 2021 M, pengurus PCINU Belgia menjalin kerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk mengoptimalisasi penggalangan dana dari warga Nahdliyyin di seluruh dunia melalui PP NU Care-LAZISNU.

“Pada akhir Ramadan lalu, Nusantara Cultural Center (NCC) dan PCINU Belgia mengajak kerja sama NU Care-LAZISNU untuk kampanye (campaign) pembelian sebuah gedung yang akan dijadikan sebagai Pusat Kebudayaan Nusantara sekaligus masjid Indonesia pertama di sana,” tutur Abdur Rouf, Direktur Eksekutif PP NU Care-LAZISNU, di kantor PP NU Care-LAZISNU, Jakarta Pusat, Kamis (19/08/2021) sore.

Rouf menegaskan bahwa PP NU Care-LAZISNU memberikan dukungan penuh untuk pembelian gedung tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap dakwah Islam moderat yang sejalan dengan nilai-nilai Aswaja yang selama ini dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama. “Kami tidak ragu untuk bekerja sama dan memberikan dukungan penuh pada NCC dan PCINU Belgia karena kami ingin wajah Islam wasatiyah yang rahmatan lil ‘alamin tersebar ke seluruh penjuru Eropa melalui masjid Indonesia pertama di Belgia tersebut,” lanjut Rouf.

Adapun bangunan bakal masjid berlokasi di Joseph Depauwstraat 43, St Pieters Leeuw, Brussels, Ibu Kota Uni Eropa. Bangunan dengan luas tanah dan bangunan 532 meter persegi itu dibeli dengan harga total Rp 9,1 miliar termasuk biaya pajak, notaris, serta renovasi. Pada Senin, 26 Juli 2021, telah dilakukan penandatanganan akta jual-beli antara pihak pembeli dan penjual di depan notaris dan agen di Brussels, Belgia.

Sebagai tindak lanjut penandatanganan jual-beli, pihak NCC telah melakukan kunjungan langsung ke lokasi bangunan pada 7 Agustus 2021, didampingi oleh Ketua PCINU Belgia serta dihadiri pula oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kerajaan Belgia dan Luxembourg.

“Yang membanggakan dan mengharukan adalah, kunjungan tersebut juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belgia dan Luxembourg, Dr. Andri Hadi, dan Wakil Duta Besar, Sulaiman Syarif, M.A.. Kehadiran dua pejabat tertinggi KBRI tentu tidak hanya merepresentasikan dukungan moral dan kelembagaan, namun lebih jauh menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia di Belgia, dari berbagai lapisan, sangat mendambakan memiliki gedung yang berfungsi sebagai masjid Indonesia dan pusat kebudayaan nusantara di Belgia,” jelas Anton Abdul Fatah, koordinator penggalangan dana (fundraising) pembelian bangunan masjid di Belgia.

Anton menambahkan, pembelian bangunan masih memiliki kekurangan dana € 30.000 atau sekitar Rp 500 juta. “Satu hal yang masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama, bahwa kita masih memiliki kekurangan dana 30 ribu euro dalam rangka melunasi pembelian gedung, biaya administrasi, serta perpajakan. Namun berdasarkan hukum perjanjian di Belgia, kami memiliki waktu tiga bulan sejak penandatanganan akta jual beli untuk melunasi kekurangan tersebut. Artinya, kami perlu menyiapkan dana tambahan sekitar 500 juta rupiah paling lambat bulan Oktober 2021,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj, mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam program pembelian bangunan Pusat Kebudayaan Nusantara yang akan menjadi masjid Indonesia pertama di Belgia.

“Kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama di seluruh dunia, mari bersama-sama kita bangkitkan dakwah Islam wasatiyah yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah di Eropa melalui program Wakaf untuk Pembangunan Masjid Indonesia Pertama di Belgia. Untuk itu, mari berikan kontribusi terbaik kita untuk pembelian bangunan tersebut dengan menyalurkan donasi dan wakaf anda melalui rekening NU Care-LAZISNU,” ajak Kiai Said, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

Pewarta: Wahyu Noerhadi

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...