Beranda Khazanah Nyamuk, Gus Baha' dan Cara Keren Memahami Konsep Mukjizat

Nyamuk, Gus Baha’ dan Cara Keren Memahami Konsep Mukjizat

Harakah.id Tidak sulit sebenarnya memahami konsep mukjizat. Kata Gus Baha, cukup dari nyamuk kita bisa paham betul apa itu mukjizat. Inilah nyamuk, Gus Baha’, dan perlunya cara keren memahami konsep mukjizat.

Gus Baha’ memang Kiai yang memikat. Caranya menyampaikan agama sangat memukau. Selain karena kedalaman ilmu yang ditempa secara original di bawah kedigdayaan ilmu dan kearifan Islam Nusantara, Gus Baha’ juga mampu menampilkan agama dalam wajahnya yang paling sederhana. Tak banyak orang yang mampu menurunkan sekaligus mengentalkan sisi-sisi agama yang sangat abstrak, kecuali mereka yang betul-betul memiliki kedekatan dengan masyarakat di seluruh level pengetahuannya yang beragam.

Dalam beberapa pengajian yang beliau ampu, Gus Baha’ seringkali menyentuh pembahasan soal mukjizat al-Qur’an dan salah kaprahnya akidah kita dalam memahami kebesaran Tuhan. Saya pribadi mendapati setidaknya dua kali Gus Baha’ membahas dengan detail dua permasalahan tersebut; sebuah kuliah umum di Baitul Qur’an dan pengajian umum pitulasan di Kudus. Menurutnya, sampai hari ini masih banyak yang salah dalam memaknai mukjizat al-Qur’an sekaligus salah kaprah dalam meletakkan konsep kebesaran Tuhan.

Sebagian besar orang memahami kalau mukjizat itu adalah sesuatu yang “khariqun lil ‘adah” sesuatu yang mampu menaklukkan, yang berada di luar jangkauan nalar manusia dan hukum kebiasaan. Nabi Muhammad Saw. mengeluarkan air dari sela-sela jarinya, Nabi Ibrahim As. tidak meleleh ketika dibakar, Nabi Musa As. mampu membelah lautan dan kisah-kisah lain yang khariqun lil ‘adah adalah gambaran umum yang mengisi definisi tentang apa itu mukjizat.

Menurut Gus Baha’, pemahaman mukjizat semacam ini akan melahirkan beberapa dampak dan penyakit berpikir yang menjurus pada kesalahan-kesalahan berikutnya mengenai kekuasaan dan kebesaran Allah Swt.

Baca Juga: Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Penyakit Pertama, Mukjizat yang khariqun lil ‘adah adalah mukjizat yang rentan hilang dan luntur. Ia betul-betul akan bernilai mukjizat hanya bagi mereka yang menyaksikan langsung. Tongkat Nabi Musa betul-betul bernilai mukjizat hanya bagi orang-orang di masa Nabi Musa As. yang menyaksikan dan melihat sendiri bagaimana Nabi Musa As. membelah lautan menggunakan tongkatnya itu.

Penyakit Kedua, Logika mukjizat yang khariqun lil ‘adah akan melahirkan satu pola pikir yang menjadikan “keanehan” sebagai ukuran dan bukti kebesaran Tuhan. Umat pun pada akhirnya akan menuntut yang aneh-aneh. Kalau gak aneh, gak percaya kebesaran Tuhan. Bagi Gus Baha’, hal semacam ini merusak cara berpikir umat. Praktek-praktek klenik adalah satu di antara sekian banyak dampak langsung dari model berpikir semacam itu.

Penyakit Ketiga, Karena yang dijadikan ukuran kebenaran adalah sesuatu yang khariqun lil ‘adah, yang aneh-aneh, maka hal yang sama juga akan dijadikan ukuran untuk menentukan posisi seorang Kiai, pemuka agama dan tokoh masyarakat. Kiai diikuti bukan karena alim, tapi karena sakti. Kalau gak sakti gak ada santrinya. Pada akhirnya yang menentukan status sosial seorang pemuka agama bukanlah ilmu, tapi kesaktian dan kemampuannya menghadirkan yang aneh-aneh. Menurut Gus Baha’ hal ini yang menjelaskan kenapa Dimas Kanjeng Pribadi bisa banyak santrinya.

Nabi Muhammad Saw dan al-Qur’an pun datang untuk merekontruksi pemahaman mengenai apa itu mukjizat, sekaligus menertibkan logika dan cara berpikir umat terkait pemahamannya akan kebesaran Tuhan. Oleh sebab itu, permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi untuk memperlihatkan mukjizat tidak selalu dikabulkan oleh Allah Swt. Sebaliknya, al-Qur’an diturunkan dengan memberikan panduan bahwa mukjizat tidak mesti khariqun lil ‘adah. Justru mukjizat Tuhan lebih banyak yang ‘adah…

Al-Qur’an pun mengajak umat untuk berpikir alam semesta dan isinya. Bagaimana matahari, bulan dan bintang-bintar berputar sesuai dengan garis edarnya. Di dalam surat al-Baqarah, al-Qur’an bahkan menjadikan nyamuk sebagai contoh kebesaran Allah Swt. Di sinilah al-Qur’an kemudian menjungkirbalikkan cara berpikir umat Nabi Muhammad Saw mengenai mukjizat. Al-Qur’an seakan-akan mengajak kita berpikir; ketika sesuatu yang khariqun lil ‘adah dianggap keren karena di luar kebiasaan dan kita gak mampu melakukannya, apakah sesuatu yang ‘adah kemudian otomatis menjadi sesuatu yang bisa kita lakukan? Kan enggak juga.

Nabi Musa As. membelah lautan dengan tongkat; keren, khariqun lil ‘adah dan kita gak bisa melakukan. Sekarang bandingkan dengan penciptaan nyamuk. Sesuatu yang tiap hari kita lihat, sesuatu yang ‘adah. Lantas apa bisa kita menciptakan nyamuk? Kan gak bisa juga, Artinya al-Qur’an ingin menegaskan kalau sesuatu yang ‘adah justru lebih keren karena ia tampil sesuai hukum kebiasaan tapi manusia tidak bisa melakukannya. Pemahaman mukjizat semacam ini pada akhirnya akan menanggulangi tiga dampak sebelumnya;

Obat Penyakit Pertama, al-Qur’an memperluas cakupan mukjizat pada hal-hal yang biasa ditemui manusia setiap harinya. Ketika ia selalu hadir dan menjadi realitas, maka mukjizat tidak akan pernah luntur dan hilang. Ketika nyamuk dijadikan ukuran mukjizat, maka semua manusia akan menyaksikan dan mengiyakan karena seluruh umat manusia pasti pernah melihat nyamuk. Berbeda dengan kejadian tongkat Nabi Musa, unta Nabi Soleh dan lain sebagainya.

Obat Penyakit Kedua, umat akhirnya tidak membutuhkan sesuatu yang aneh hanya untuk menilai sesuatu mengandung mukjizat sekaligus memahami kebesaran Tuhan. Mukjizat dan kebesaran Allah Swt. hadir dalam hal-hal yang lumrah, biasa dan kita temui setiap harinya. Ketika kita melihat sesuatu, merasakan sesuatu dan mengamati sesuatu, mukjizat dan kebesaran Allah Swt. hadir di situ.

Baca Juga: Inilah Pandangan Gus Baha Terhadap Habib Rizieq

Obat Penyakit Ketiga, pemuka agama tidak lagi dinilai dan diacu melalui kesaktian serta kemampuannya melakukan hal-hal yang aneh. Umat justru diajak untuk memposisikan pemuka agama dalam batas-batas kewajaran dan nilai-nilai kebiasaan. Ketika ada yang aneh, umat bisa dengan mudah mengidentifikasi apakah seorang pemuka agama melakukan sesuatu yang salah atau sesuatu yang benar.

Menurut Gus Baha’, begitulah cara al-Qur’an, Islam dan Nabi Muhammad Saw. menuntun umatnya menuju satu logika berpikir yang benar. Begitulah seharusnya akidah seseorang bersikap. Mengafirmasi ketidakmampuannya membuat dan menciptakan sesuatu yang familiar dia temukan setiap hari adalah pondasi awal keimanan dan pengakuan atas kebesaran Allah Swt. Dengan begitu, kita pun tak perlu menunggu kedatangan tongkat Nabi Musa As, kehadiran unta Nabi Soleh As. dan lain-lain untuk menyaksikan mukjizat serta memahami kuasa Tuhan. Cukup arahkan mata kepada lingkungan dan hal-hal di sekitar kita; di sanalah Allah Swt menampakkan kebesaran dan kuasanya kepada umat manusia. Di sinilah kita dapat merangkai narasi Nyamuk, Gus Baha’ dan cara keren memahami mukjizat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...