Beranda Gerakan Ottoman, Dinasti Safawi dan Relasi Sunni-Syiah Dalam Iklim Politik Kawasan Timur Tengah

Ottoman, Dinasti Safawi dan Relasi Sunni-Syiah Dalam Iklim Politik Kawasan Timur Tengah

Harakah.idSunni-Syiah telah mengalami benturan selama berabad-abad. Bukan hanya dalam konteks teologis, tapi juga menyebar ke ranah politis. Dalam konteks iklim geopolitik Timur Tengah hari ini, relasi Sunni-Syiah, berikut Ottoman-Safawi, tampaknya kembali penting untuk diamati lebih lanjut.

Hubungan antara Syiah dan Sunni lebih cenderung kepada konflik ketika melihat preseden sejarah, lebih-lebih lahirnya dua kelompok tersebut akibat kondisi konflik ketika itu. Konflik Sunni-Syiah kemudian berkembang dalam konflik antara dua kekuatan besar Timur Tengah pada masanya, yaitu antara Ottoman dan Dinasti Safawi. 

Hubungan antara keduanya bermula dengan baik di mana Safawi yang ketika itu merupakan kelompok sufisme Sunni di Ardabil dihormati oleh Ottoman. Kelompok Safawi dibentuk oleh Shafy al-din Ishaq sekitar tahun 1301. Nama-nama penerusnya seperti Sadr al-din Musa, Khwaja Ali, Ibrahim, merupakan syekh-syekh pemimpin Safawi yang dihormati oleh kesultanan Ottoman. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena tradisi masyarakat Turki Ottoman penuh dengan ritus sufisme.

Namun ketika Safawi dipimpin oleh Syekh Junaid, maka Safawi bertransformasi menjadi kekuatan yang hendak mendirikan kesultanan di daerah antara Anatolia, Iran, dan Pegunungan Kaukasia. Syekh Junaid mempunyai pasukan Turkmen yang berasal dari Anatolia, dan segera setelah itu meninggalkan keyakinan Sunni dan menggantinya dengan paham Syiah dua belas imam (Imamiyah). Para pengikut dan warga yang berada dalam kekuasaan raja-raja Safawi selanjutnya disebut sebagai Kizilbas.

Di Masa kepemimpinan Ismail I, dia memerintahkan seluruh masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Safawi untuk mengikuti paham Syiah Imamiyah secara paksa. Ismail I juga menyatukan tujuan politik, militer, dan agama dalam satu pemerintahan dan mengenalkan perubahan besar pada peradilan dan cabang-cabang administrasi Persia.

Islam dalam hal ini Syiah dipergunakan untuk menundukkan bangunan keagamaan, dan sepanjang praktik, pihak ulama dalam Syiah menerima kedudukan Shah sebagai wakil yang sah dari al-Imam menggunakan gelaran “bayangan Tuhan di muka bumi” (dzillullahi fil ‘ardh). Dengan menyatukan pandangan politik, militer, dan agamanya, Safawi telah menjadi menganut teokrasi di mana agama dalam hal ini paham Syiah Imamiyah menjadi dasar dan pengejawantahan bagi kebijakan mereka.

Ismail selanjutnya menambahkan lafaz azan dengan kalimat bahwa “aku bersaksi bahwasanya Ali adalah wali Allah” dan “marilah berbuat amal baik”. Khutbah pada masanya juga ditambahi dengan tabarru’, yaitu pengecaman terhadap para sahabat Nabi terutama Abu Bakar, Umar, Usman, dan istri Nabi yaitu Aisyah. Perluasan wilayah kekuasaan Safawi juga dibarengi dengan tindakan penghancuran masjid, madrasah, dan pusara kaum Sunni. Namun, Ottoman yang ketika itu dipimpin oleh Bayazid pada awalnya hanya merespons dengan mengirim surat untuk menunjukkan kesalahan tindakan mereka.

Munculnya konflik secara terbuka mulai terjadi ketika pasukan Safawi merebut Baghdad dan Diyarbakir dan kepemimpinan Ottoman yang ketika itu berada di tangan Salim I mulai melakukan blokade jalur perdagangan dari Tabriz menuju Aleppo. Ottoman yang sebelumnya memandang Safawi dengan Kizilbas-nya sebagai sesama muslim dan lebih-lebih berasal dari bangsa Turkmen, mulai memprogandakan kesesatan Safawi dengan paham Syiahnya. Dengan representasi Safawi atas citra Syiah, maka Ottoman sebagai oposan akhirnya mengidentifikasikan diri sebagai representasi Sunni, selain perbedaan identifikasi Persia-Turki. Pertempuran Chaldiran pada 1514 merupakan salah satu perang antara Ottoman dan Safawi yang terkemuka

Dalam perkembangan selanjutnya, Safawi berkoalisi dengan Mamluk yang Sunni dan Ottoman berkoalisi dengan Gilan yang Syiah. Hal ini menarik, karena tidak semudah itu untuk mengatakan konflik antara Ottoman dan Safawi dikarenakan konfrontasi Sunni-Syiah, melainkan dari kepentingan yang dimiliki oleh kedua imperium besar tersebut.  Meskipun, kadang kala pada kenyataannya, ketika Ottoman menguasai daerah Safawi, mereka melarang tradisi tabarru’ kepada para sahabat Nabi, dan ketika Safawi menguasai daerah Ottoman, mereka memaksakan paham Syiah kepada masyarakat.

Hubungan kedua kekuatan besar pada zamannya itu selanjutnya dipenuhi dengan konflik dengan saling menaklukkan suatu daerah satu sama lain, seperti Tabriz yang dikuasai Ottoman, atau Baghdad yang diserang Safawi, tetapi, terdapat juga perdamaian seperti perjanjian Amisya pada 1555, dan Zuhab pada 1639, di mana yang terakhir ini membentuk garis sempadan antara Turki-Irak dengan Iran sampai sekarang ini.

Jika dilihat dari hubungan Ottoman dan Persia, kepentingan politik dan ekonomi, seperti perimbangan kekuatan secara geopolitik dan jalur perdagangan merupakan faktor utama dari konflik tersebut, bukan karena perbedaan paham pada mereka. Perbedaan paham merupakan bumbu-bumbu yang diangkat dan menjadi jargon bagi legitimasi penyerangan ke masing-masing daerah musuh.

Jikalau semata-mata konflik Sunni –Syiah, mestinya Ottoman dan Safawi berusaha saling mengeliminasi satu sama lain, namun ternyata konflik tersebut berkisar pada jalur perdagangan dan daerah-daerah strategis. Kita pun juga dapat melihat bahwa Irak bagian selatan dikuasai Ottoman dan masyarakat Syiah menjadi mayoritas hingga saat ini di sana, sedangkan di Kurdistan Iran, masyarakat memeluk Sunni dan menjadi mayoritas di daerah tersebut. Artinya, perbedaan paham bukan menjadi faktor utama bagi konflik antara Safawi dan Ottoman, terdapat faktor-faktor lain yang berkelindan dengannya seperti politik dan ekonomi.

Konflik sektarian yang menjalar Timur Tengah kini menjadi perhatian khusus bagi para analis politik. Apakah konflik ini benar-benar menimpa kawasan tersebut? Bagaimana hubungan antara Sunni dan Syiah yang biasa menjadi patokan dari konflik sektarian itu? Hubungan Sunni dan Syiah di kawasan memang berbeda dengan masa dahulu di mana negara-negara otoriter tak menyediakan konflik semacam itu.

Dahulu ketika Iran di masa Pahlevi bahkan menjadi sekutu bagi Arab Saudi. Saddam dan Hafeez Assad di Irak dan Suriah benar-benar mempertahankan negaranya dari konflik komunal tersebut. Memang ketika Saddam berkuasa, masyarakat Syiah Irak mendapatkan penindasan namun lebih dilihat pada hubungan elit-masyarakat, bukan konflik horizontal antar masyarakat. Sebagai bukti, Kurdi yang Sunni pun juga sama mendapatkan penindasan tersebut.

Sentimen Sunni – Syiah mulai terdengar sebagai dikotomi pengaruh antara Saudi dan Iran pasca revolusi 1979 yang dikatakan sebagai titik awal sektarianisme modern di Timur Tengah. Revolusi Islam Iran menjadi inspirasi bagi baik kelompok Syiah maupun Sunni untuk lebih terlibat secara politik. Khawatir atas revolusi Islam yang menyebar, Arab Saudi menahan pengaruh tersebut salah satunya dengan membantu Irak dalam Perang Irak-Iran. Setelah pendudukan Amerika Serikat ke Irak, sektarianisme terlihat nyata ketika terjadi kekerasan seperti bom bunuh diri yang menargetkan rumah ibadah kelompok tertentu.

Negara-negara di Timur Tengah yang mempunyai pengalaman pergolakan sektarian adalah Irak, Lebanon, Bahrain, Suriah. Sentimen sektarian Sunni bangkit ketika kaum Syiah memperoleh kekuasaan di negara Irak yang baru selepas invasi Amerika Serikat. Wahabisme bisa dianggap sebagai salah satu ideologi penyokong sektarianisme dengan kebencian terhadap Syiah lewat takfirisme mereka. Apapun cabang Syiah disamaratakan dengan disebut sebagai Rafidhah. Apalagi negara donor kegiatan mereka, adalah Arab Saudi yang berkonflik dengan Iran. Dan nantinya kelompok teror di Irak maupun di Suriah tak lepas dari ideologi takfirisme wahabi mereka.

Tetapi tak hanya dari Sunni saja yang mengalami radikalisasi, melainkan juga dalam kelompok Syiah yang memiliki kekuatan milisi bersenjata, seperti Hizbullah beserta milisi-milisi afiliasinya dan kelompok Muqtada al-Sadr. Hashd al-Sha’bi sebagai non-state actor di Irak juga terlibat pembunuhan terhadap masyarakat Sunni yang menyebabkan siklus kekerasan tanpa henti.

Pada akhirnya, sektarianisme bukanlah hadir secara given, melainkan sebuah konstruksi sosial, dengan elit politik dan media yang memanipulasi dan mengeksplotirnya. Banyak yang menyangka konflik Suriah adalah konflik antara Sunni-Syiah, padahal ini adalah konflik yang sarat kepentingan. Lalu Arab Saudi juga sempat memusuhi Qatar yang sama-sama Sunni, dikarenakan salah satunya adalah karena Qatar menolak memusuhi Iran, dan juga sokongan negara tersebut kepada Ikhwanul Muslimin. Ini berarti tak selamanya konflik Sunni-Syiah itu berlaku sebagai hubungan satu-satunya antara dua kelompok itu. Sunni bahkan bisa berkonflik dengan Sunni dan bersahabat dengan Syiah di sisi lain.

Mengutip Kaddorah, konflik di Timur Tengah adalah kontestasi geo-sektarian, di mana terdapat perhitungan antara permusuhan geopolitik dengan konflik sektarian. Sektarianisme mungkin bisa jadi berlangsung lama dan tak akan usai, namun itu muncul ketika krisis terjadi. Ketika sektarianisme timbul, hal itu biasanya digerakkan lewat  konflik antara kekuatan besar di kawasan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...