Pancasila dan Islam, Apakah Bertentangan? Menguji Logika Gerakan Transnasional

0
220

Harakah.idPandemi ternyata tak menyusutkan semangat para gerakan transnasional. Mereka tak gentar untuk mempropagandakan sistem bernegara yang dianggap sesuai dengan syariat Islam. Logika utamanya adalah mempertentangkan Pancasila dan Islam. Apakah keduanya memang bertentangan?

Pandemi ternyata tak menyusutkan semangat para gerakan transnasional. Mereka tak gentar untuk mempropagandakan sistem bernegara yang dianggap sesuai dengan syariat Islam.

Gerakan transnasional di tengah pandemi diibaratkan laiknya virus yang terus mengancam imunitas pancasila sebagai ideologi negara yang sudah final. Mereka beranggapan bahwa Pancasila ialah ideologi yang sekuler nan kafir.

Tentu saja apabila ditelisik, menurut kang Muhammad Nuruzzaman dan kang Syaiful Arif di dalam bukunya yang berjudul “Pancasila Vs Khilafah” berpendapat bahwa penolakan mereka atas Pancasila merupakan hal yang sangat memprihatinkan, tersebab Islam di Indonesia telah lama mengalami harmonisasi dengan nilai-nilai kebangsaan bersendikan Pancasila.

Saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada suatu tantangan yang merongrong bangunan kenegaraan kita, yakni tantangan ideologi. Hal ini terbukti dengan hasil riset yang menemukan bahwa sekitar 18-20% masyarakat Indonesia menolak pancasila, dengan dalih keimanan terhadap agama dan mereka menginginkan Islam sebagai dasar negara. Lebih lanjut, mereka berpendapat bahwa Pancasila ialah ideologi sekuler nan kafir. Hal ini kemudian memunculkan suatu polemik dan tanda tanya, apakah benar Pancasila itu bukan dasar negara yang Islami?

Ahmad Syafi’I Ma’arif berpendapat bahwasanya sila-sila yang terdapat dalam pancasila sebenarnya memiliki kandungan nilai-nilai Islam, walaupun tidak bersumber langsung dari wahyu illahi. Substansi dari nilai-nilai Pancasila yang ada secara tak langsung menunjukkan nilai-nilai Islam yang hidup pada masyarakat Indonesia.

Titik temu antara nilai-nilai Pancasila dan nilai-nilai Islam yang terdapat dalam setiap sila nya ialah seperti kepercayaan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, sila ini seolah mempertegas bahwa masyarakat Indonesia ialah masyarakat yang mempercayai Tuhan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ikhlas ayat pertama.

Sila kedua yang berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab” menunjukkan tentang prinsip bersikap dan bertindak, sila ini seolah berbicara bahwasanya masyarakat Indonesia tidak boleh membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, baik itu suku, ras maupun agama nya. Hal ini tentu saja sesuai dengan spirit ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam surah Al-Maidah ayat delapan, bahwa semua orang memiliki kedudukan yang setara di hadapan Tuhan dan bahwa seseorang harus berlaku adil dan bersikap lemah lembut kepada sesama.

Sila berikutnya ialah sila ketiga yang berbunyi “persatuan Indonesia”, sila ini seolah berbicara mengenai hubungan antar sesama manusia. Dengan masyarakat yang multikultural atau majemuk, sila ini merupakan prinsip untuk saling menerima dan memahami serta komitmen untuk hidup bersama secara harmonis. Sebagaimana termaktub dalam Surah Ali- Imran ayat 103, bahwasanya Allah telah mengingatkan untuk menghindari perpecahan diantara sesama.

Nabi pun pernah mencotohkan bagaimana bersikap ketika hidup berdampingan dalam suatu masyarakat yang majemuk, ketika ia menetap di Madinah. Sila ke-empat yang berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” menegaskan akan pentingnya berdiskusi atau bertukar pikiran serta berdialog dalam memecahkan suatu persoalan.

Hal ini pun sejalan dengan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang menginginkan untuk melakukan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut hajat banyak orang. Sebagai termaktub dalam Surah Ali-Imran ayat 159 dan surah Asy-Syu’ara ayat 38 yang menegaskan pentingnya melakukan musyawarah untuk kepentingan bersama. 

Sila yang terakhir ialah sila kelima yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, sila ini merupakan representasi cita-cita bangsa yang mengharapkan agar seluruh warga negaranya bersikap, bertindak dan mendapatkan keadilan secara sosial. Kewajiban berlaku adil dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hubungan antar sesama, namun juga dalam segala aspek. Sebagaimana termaktub dalam surah An-Nahl ayat 90 yang secara tegas memerintahkan untuk senantiasa berlaku adil dan berbuat baik serta mengusahakan terwujudnya pemerataan dengan saling memberi, terlebih kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Jadi, ketika terdapat kelompok yang menolak keras Pancasila dan melakukan berbagai macam propaganda untuk memusuhi Pancasila, maka telah jelas bahwa sama saja mereka menolak nilai-nilai Islam. Pancasila ialah ideologi religius, bahkan mencerminkan nilai-nilai tauhid. Apabila kita perhatikan dengan seksama, walaupun Islam tak menjadi dasar negara di Indonesia, namun syariah telah dilegalkan serta difasilitasi pelaksanaannya. Adapun contoh penerapannya ialah seperti adanya kerangka pengelolaan waris, nikah, zakat, wakaf dan haji yang dilegalkan baik melalui legislasi Kompilasi Hukum Islam, Pendirian Peradilan Islam hingga Kementrian Agama. 

Hal yang diperjuangkan oleh gerakan transnasional tentu sangat berpotensi mengurangi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh cita-cita mereka yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI dengan Negara Islam atau yang disebut sebagai khilafah. Tentu saja hal ini sangat merugikan dan juga mengingkari cita-cita founding fathers negara Indonesia yang mendasarkan pada kebhinekaan dan kearifan budaya masyarakat.

Apabila dilihat dengan seksama, gerakan transnasional yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI merupakan tindakan makar. Apabila cita-cita tersebut tetap dipropagandakan pada seluruh umat Islam, maka dapat dipastikan akan terjadi perpecahan, baik dalam ranah pemikiran maupun fisik.

Maka sebagai pemuda generasi bangsa, kita harus meyakinkan masyarakat dan terus menyebarluaskan pemahaman bahwasanya Pancasila dan Islam tidaklah bertentangan. Senantiasa bersikap kritis terhadap dalil-dalil yang sering digunakan oleh kelompok tersebut, karena dari banyaknya pengamatan dan penelitian yang ada, ditemukan bahwasanya ayat-ayat Al-Qur’an ataupun dalil-dalil tersebut hanyalah legitimasi ideologi mereka untuk menarik simpatik masyarakat.

Lebih lanjut, sebagai generasi penerus bangsa kita harus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Mencintai pancasila sebagai ideologi bangsa dengan cara mempertahankannya dan tidak mengubahnya dengan ideologi yang tidak pas dengan keragaman di Indonesia.