Beranda Kolom Pandangan Rashid Ghannushi tentang Kesetaraan dalam Islam

Pandangan Rashid Ghannushi tentang Kesetaraan dalam Islam

Harakah.idRashid Ghannushi, selain dikenal sebagai seorang politikus, juga dikenal sebagai salah seorang aktivis gerakan Islam abad 20. Idenya tentang relasi Islam dan modernitas mewakili sebuah situasi dunia Islam di abad kontemporer.

Rashid Ghannushi adalah orang yang ternama karena kepemimpinannya di Partai Kebangkitan (Renaissance Party). Lahir tahun 1941 di Tunisia, Ghannushi belajar filsafat di Universitas Damaskus. Bersama sejumlah tokoh Tunisia lainnya, Ghannushi mendirikan sebuah gerakan Islam yang tujuannya adalah ingin mereformasi masyarakat Tunisia menuju masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Karena gerakan ini adalah gerakan menentang kebijakan-kebijakan sekuler yang disokong oleh orang yang ternyata kemudian menjadi presiden Tunisia, Bourguiba, maka gelombang konfrontasi menjadi semakin meningkat antara kubu reformis dan rezim pemerintah.

Tahun 1981 Rashid Ghannushi dijatuhi hukuman 11 tahun penjara, tetapi pada tahun 1984 ia sudah dibebaskan. Tahun 1987 ia dipenjara lagi, kali ini hukumannya adalah seumur hidup, tetapi ia dibebaskan kembali pada tahun 1988. Ghannushi mulai hidup di Eropa sebagai tahanan politik sejak awal 1990.

Menurut Abdullah Saeed dalam buku Islamic Thought; an Introduction, Ghannushi merupakan salah satu tokoh utama gerakan Islam di akhir abad duapuluh. Ia sangat berpengalaman baik dalam pemikiran Islam maupun pemikiran Barat, dan menjadi salah satu kontributor utama bagi perdebatan seputar perdamaian Muslim dan non-Muslim. 

Baca Juga: Nada Dakwah Nasida Ria; Dari Kiblat Fesyen, Bias Gender Hingga Kritik Atas Industrialisme

Salah satu hal yang menjadi perhatian Ghannushi adalah rekonsiliasi antara Islam dan modernitas. Meskipun ia adalah seorang Muslim ortodoks, tetapi pandangannya berbeda dengan para tokoh ortodoksi lain; sebagai contoh, ia tidak melihat adanya konflik yang inheren antara Islam dan Barat atau antara Islam dan modernitas. Pandangan ini ia tuangkan dalam salah satu esainya berjudul “The Conflict Between the West and Islam, the Tunisian Case: Reality and Prospects Chatham House”.

Tetapi gagasan penting Ghannushi yang cukup penting dan dianggap inkonvensional yang membuat ia berselisih dengan sejumlah tokoh ortodoksi lainnya adalah bahwa dalam masyarakat, kaum wanita harus memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki; bahwa jilbab adalah soal pilihan individu dan, negara tidak boleh memaksakannya terhadap kaum wanita; bahwa umat non-Muslim yang tinggal di negara Islam harus diberi hak yang sama seperti kaum Muslim; dan bahwa pluralisme harus diterima.

Ghannushi pernah mengatakan: “kita di partai al-Nahdah sepenuhnya percaya dan mengatur sistem demokrasi beserta perangkat-perangkatnya seperti pluralisme dan proses pergantian kekuasaan melalui pemungutan suara”. Menurut Ghannushi, saat ini sangat diperlukan upaya penafsiran kembali atas teks-teks yang relevan agar dapat memenuhi kebutuhan umat Muslim di era modern.

Ia menekankan bahwa salah satu tujuan utama diajarkannya agama Islam sejak awal adalah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil. Hal ini menyiratkan perlunya melindungi setiap kaum yang lemah dan tertindas. Maka tidak heran, orang-orang seperti itulah yang justru pertama kali mengakui Islam. Pada dasarnya yang menjadi fokus perhatian semua ayat al-Qur’an yang mengatur tentang keadilan adalah manusia secara keseluruhan, bukan hanya umat Muslim saja.

Dasar dari pernyataan Ghannusi yang tegas tersebut adalah perlakuan Nabi terhadap umat Yahudi dan umat Muslim seperti yang tertera dalam ‘Piagam Madinah’, di mana Nabi memperlakukan keduanya secara sama, dan Nabi menganggap bahwa setiap penduduk kota Madinah adalah bagian dari ‘masyarakat’ seutuhnya. 

Dalam bukunya Huquq al-Muwatanah, Ghannushi selanjutnya mengatakan bahwa di dalam Konstitusi Madinah tersebut: “Terkandung keadilan Ilahiah dan juga hukum Ilahiah, karena menerapkan kesetaraan seluruh umat manusia berdasarkan pada prinsip keadilan, fairness, dan hubungan persaudaraan semua manusia di atas pertimbangan etnis, kelas, maupun agama.”

Selanjutnya Ghannushi mencari dalil-dalil dari teks utama al-Qur’an untuk melandasi gagasannya. Ia kemudian mengarahkan perhatian pada mereka yang tidah setuju dengan perlakuan yang sama terhadap non-Muslim  dan menolak konsep hak asasi manusia yang umumnya sudah diterima, seperti ha katas kebebasan beragama. Baginya, petunjuk al-Qur’an mengenai kebebasan beragama sudah sangat jelas; bahwa agama hanya bisa diterima jika orang meyakininya berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri. Gagasan ini merujuk pada ayat al-Qur’an yang berbunyi ‘tidak ada paksaan dalam beragama’.

Baca Juga: Mengenal Gagasan Ibn Haitsam: Ilmuwan dan Filosof Muslim yang Terlupakan

Dalam konteks ini, Ghannushi sangat kritis dalam mendiskusikan sumber-sumber klasik yang mencegah kaum non-Muslim minoritas dari upaya membangun serta memelihara gereja mereka. Ia mengkritik pada hakim yang pendapatnya digunakan untuk membatasi kebebasan umat non-Muslim.

Ghannushi mengatakan bahwa Islam menolak penggunaan metode paksaan dan kekerasan untuk memaksakan keyakinan dan ide-ide terhadap orang lain, sebab pendirian religius dan intelektual seseorang ditentukan oleh pilihan bebasnya sendiri, bukan oleh paksaan dan kekerasan.

Dengan demikian, setiap Muslim tidak seharusnya memaksakan orang lain untuk menerima suatu agama, termasuk agama Islam sekalipun. Bahkan dalam kasus ketika ada seorang Muslim yang murtad, Ghannushi termasuk dari pihak yang berpendapat bahwa ini adalah urusan antara orang yang murtad tersebut dengan Tuhan. 

Terlebih Rashid Ghannushi memiliki keyakinan bahwa soal kemurtadan dan hukumannya seperti yang ditentukan dalam hukum Islam pada dasarnya bersifat politis, bukan religius, dan bahwa kemurtadan seharusnya tidak dijatuhi hukuman mati. Tentu ini merupakan lompatan yang sangat radikal dan jauh meninggalkan persepsi hukum Islam tradisional.

Karenanya, apa yang dilontarkan oleh Rashid Ghanusshi adalah upaya mengkampanyekan bahwa Islam sangat menjujung tinggi kesetaraan, kebebasan, dan keadilan. Ketiga kata kunci inilah yang dapat membebaskan umat Islam dari belenggu ketertinggalan dan sebuah gagasan penting untuk menghubungkan antara Islam dan modenitas, serta antara religiusitas dan realitas mutakhir dalam kehidupan masyarakat secara global. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...