Beranda Headline Pandangan Tiga Ulama Besar Tentang Hukum Peringatan Maulid Nabi

Pandangan Tiga Ulama Besar Tentang Hukum Peringatan Maulid Nabi

Harakah.id Masih saja terdapat beberapa kelompok yang mempertanyakan dalil maupun pandangan ulama tentang hukum peringatan Maulid Nabi.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. biasanya marak dilaksanakan pada bulan Rabi’ul Awal. Masyarakat Islam Indonesia telah menjadikannya sebagai kegiatan rutinan tahunan. Bahkan di berbagai lembaga kepemerintahan juga memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Meskipun telah menjadi kebiasaan, tidak lantas membuat kegiatan keagamaan ini berjalan mulus begitu saja. Masih saja terdapat beberapa kelompok yang mempertanyakan dalil maupun pandangan ulama tentang hukum peringatan Maulid Nabi.

Berikut penulis akan kemukakan pandangan beberapa ulama tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Pertama, Al-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz Al-Suyuthi atau yang dikenal dengan imam Al-Suyuthi dalam kitabnya al-Hawi li Al-Fatawi pada awal bab حسن المقصد في عمل المولد membuka dengan pertanyaan tentang pandangan syari’at terhadap peringatan maulid Nabi, apakah terpuji atau tercela dan bagi mengerjakan mendapatkan pahala atau tidak?.

Jawaban Imam al-Suyuti:

والجواب عندي: ان اصل عمل المولد- الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرأن ورواية الاخبار الواردة في بداية امر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الايات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك- هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم واظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف

Jawabannya menurutku bahwa (hukum) asal perayaan maulid – yang (di dalamnya) terdapat orang-orang berkumpul, melantunkan ayat-ayat al-Quran yang  berkenaan dengan kelahiran Nabi dan riwayat hadits yang datangnya dari Nabi Saw. kemudian menghidangkan makanan, serta tidak menambahi selain dari itu – adalah termasuk dari bid’ah-bid’ah hasanah (terpuji) yang dapat membuahkan pahala bagi yang melakukannya, karena di dalamnya berisi pengagungan kepada Nabi serta menampakkan ungkapan rasa suka dan cita atas kelahiran Nabi yang mulia.

Kedua, Ibnu Taimiyah adalah salah satu ulama rujukan golongan Wahabi yang sering membid’ahkan amaliyah penduduk nusantara. Beliau dalam kitabnya اقتضاء الصراط المستقيم، دار الحديث، ص 266:

وكذلك مايحدثه بعض الناس إما مضاهة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم وتعظيما له والله قديثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد……

فان هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ا ه

Demikian (perayaan) yang  diadakan sebagian manusia, ada yang memang sekedar emulasi umat Nasrani dalam memperingati kelahiran Isa al-masih (Yesus), sebagian yang lain semata-mata karena cinta dan pengagungan kepada Nabi Muhammad Saw. dan Allah Swt mengganjar terhadap orang-orang yang kedua…..

Hal ini tidak pernah dilakukakn oleh ulama Salaf serta tuntutan ke sana, dan tidak ada larangan terhadap perayaan ini.

Ketiga, Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani, ulama ahli hadits dari madzhab Syafi’ie. Imam Al-Suyuti dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi menuliskan:

وقد سئل شيخ الاسلام حافظ العصر ابو الفضل ابن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: اصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن احد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها، كانت بدعة حسنة والا فلا

Syakhul Islam Hafidz al-Asr Abu Fadl Abu Fadl Ibn Hajar tentang perayaan Maulid Nabi, Jawabannya adalah: Hukum asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum salaf salih yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi peringatan maulid mengandung kebaikan dan sebaliknya. Jadi, barangsiapa berusaha dalam peringatan maulid melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah. jika tidak maka termasuk bid’ah madzmumah.

Kesimpulannya – menurut penulis – bahwa mencintai sebenarnya tidak membutuhkan dalil. Sama halnya kita mencintai terhadap makhluk baik yang bernyawa ataupun tidak. Mengenai ekspresi orang yang jatuh cinta juga bermacam-macam. Tidak bisa terbatas. Begitupun dalam hal mencintai Nabi dengan memperingati hari kelahirannya sebagai tanda syukur. Akan tetapi ekspresi dalam bentuk keagamaan haruslah tidak menyalahi terhadap aturan syari’at.

Terakhir, menurut penulis, benarlah uangkapan yang menyatakan:

اذا انت لم تعشق ولم تدر ما الهوى * فكن حجرا من يابس الصخر جلمدا

“Jika anda tidak mencinta dan tidak mengetahui apa itu cinta, maka jadilah batu karang yang kukuh kering kerontang”

*) Disadur dari kitab Haul al-Ihtifal Bi Dzikra Maulid An-Nabi Al-Syarif karya Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...