Beranda Khazanah Panduan bagi Kaum Santri untuk Melawan Penyebaran Hoaks

Panduan bagi Kaum Santri untuk Melawan Penyebaran Hoaks

Harakah.idMelihat berterbangannya berita hoaks, berita bernuansa radikal dan propaganda, itu tidak bisa didiamkan. Apalagi bagi santri yang punya ilmu agama yang baik.

Melawan penyebaran hoaks. Santri sebagai poros NKRI, santri pula bagian dari negeri ini, maka dari itu hal-hal yang terjadi di negeri ini harus ada respond dari seorang santri. Santri tidak boleh apatis, bersikap bodoh amat, dan acuh tak acuh atas apa yang terjadi di negeri ini. Santri harus menunjukan kontribusinya bagi negara Indonesia tercinta.

Melihat berterbangannya berita hoaks, berita bernuansa radikal dan propaganda, itu tidak bisa didiamkan. Apalagi bagi santri yang punya ilmu agama yang baik. Santri harus merespon fenomena tersebut, dengan cara apa? Tentu saja dengan menulis berita yang benar, memuat informasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Bukankah santri tahu, kalau mereka melihat sebuah kemungkaran haruslah dirubah, misalnya kalau melihat berita hoaks, santri harus mengubahnya, dengan cara apa, dengan menghadirkan tulisan-tulisan yang bisa menepis berita hoaks tersebut.

Memangnya ada anjuran untuk menanggapi berita hoaks? Tentu saja ada hadis yang menjelaskan hal tersebut. Mari kita diskusikan hadis berikut ini.

Hadis Menanggapi Berita Hoaks

عَنْ أَبِيْ سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإيْمَانِ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia ubah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu juga, hendaklah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim: 49, Ahmad: 11460, 11514)

Secara bahasa hadis diatas menyeru pada siapun yang melihat, tau, menemui, menjumpai, dan mengalami sebuah kemungkaran apapun itu didepannya, maka dia punya kewajiban merubahnya dengan tangannya, atau dengan lisannya, atau juga dengan doanya.

Sedang hadis diatas secara umum membahas kewajiban amar makruf nahi mungkar. Mungkar sendiri artinya melanggar perintah tuhan atau menyalahi aturan. Apapun perbuatannya kalau itu menyalahi aturanm, misalnya: berjudi, mabuk, zina, mencuri, menipu, berbohong, dll.

Selain itu hadis diatas bernada klasifikasi dalam menghadapi kemungkaran, maka jika dibagi menjadi berikut:

Pertama, lawanlah dengan tangan, atau kekuasaan,

Kedua, jika tidak punya kekuasaan, maka cegah dengan lisan atau verbal.

Ketiga, jika kedua cara diatas sudah tidak bisa, maka doakan yang terbaik, semoga segera sadar atau biar Allah yang mengurus sisanya.

Bukankah umat islam disebut-sebut sebagai umat terbaik? Mengapa demikian? Ya tidak lain karena umat islam ini sangat aware dengan amar makruf dan nahi mungkar. Seperti dalam firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ﴿آل‌عمران: ١١٠﴾

“Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3] : 110)

Nah begitupula kontekstualisasi hadis diatas dalam menanggapi berita hoaks, yaitu bisa dibagi menjadi tiga tahapan. Simaklah penjelasan berikut:

Klasifikasi Menganggapi Berita Hoaks

  1. Balas Hoaks Dengan Tangan (Tulisan)

Dari hadis diatas, telah jelas, bahwa menanggapi mungkar harus membalas dengan tangan. Seperti halnya hoaks yang dianggap sebagai kemungkaran, maka kita harus balas dengan tangan kita, yaitu dengan tulisan, dengan menghadirkan tulisan yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan.

Sekarang bukan zaman dimana santri hanya bisa memegang kita kuning saja, banyak profesi santri yang sudah mengisi lini kehidupan ini, diantaranya menjadi penulis, peneliti, jurnalis, kolumnis dan lainnya. Semua itu santri lakukan tidak lain adalah untuk melawan perbuatan mungkar dalam hal penyebaran berita hoaks

Santri justru sangat diuntungkan untuk membeberkan penjelasannya yang berlandaskan kitab, sebab santri dibekali dengan banyak ilmu tidak hanya sebatas ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu agama pun dienyamnya, misalnya, fiqih, hadis, tafsir, aqidah, filsafat, mantik dll, yang berfungsi untuk membekali santri agar tidak tenggelam oleh zaman yang penuh dengan hoaks ini.

  • Cegah Pembaca Hoaks Dengan Lisan

Kalau kita tidak bisa membalasnya dengan tulisan, maka jika kita menjumpai teman kita termakan oleh hoaks, sebagai santri harus memberikan edukasi, bahwa itu adalah berita yang tidak baik, tidak layak dibaca lebih-lebih disebar luaskan.

Sebagai santri jika kita melihat rekan kita menyebarkan hoaks karena telah salah mengakses informasi, tentu saja sedikit banyak kita bisa memberinya peringatan bahwa, baiknya santri tidak boleh asal sharing info tidak jelas, atau bahkan mengandung hoaks.

Santri diajarkan untuk tabayyun (klarifikasi) yaitu dengan memilih dan memilah informasi yang layak dibagikan dan tentusaja dikonsumsi diri sendiri. Karena apatis terhadap temannya yang termakan berita hoaks atau menyebarkan berita hoaks sama artinya membiarkan teman kita berada didalam kemungkaran. Dan ini menyalahi hadis diatas.

  • Berdoa Agar Berita Hoaks Tidak Menyebar

Jika sudah mencoba menghadirkan tulisan balasan atas berita hoaks, mengedukasi bahwa itu tidak benar, dan masih saja percaya pada berita hoaks tersebut bahkan mengajak orang lain percaya. Maka santri tidak bisa diam saja, santri harus mendoakan, agar berita hoaks tersebut tidak menyebar luas.

Pada taraf ketiga ini mungkin akan sulit, dimana nampaknya kita tidak bisa mengontrol orang lain mengkonsumsi berita apapun, selain itu tidak punya kemampuan untuk menulis agar menyajikan hidangan berita pembanding atau counter dari berita hoaks. Maka dari itu mengacu hadis diatas kita masih punya kesempatan yaitu panjatan doa.

Doa mungkin tampak tidak menyelesaikan masalah penyebaran hoaks, namun dengan berdoa santri menyakini bahwa dia memasrahkan dan menyerahkan sepenuhnya permasalah hoaks ini kepada Allah, agar Allah lah sendiri yang mengurus sisanya. Entah nantinya dikirimkan orang yang membatu memberantas berita hoaks, atau cara apapun itu. 

Jangan Menjadi Santri Apatis

Dari kontekstualisasi hadis diatas, nampaknya jelas, bahwa sebagai santri tidak boleh bersikap apatis atau membiarkan begitu saja hoaks merabak, ada kewajiban melawannya, sebab itu adalah kewajiban yang sudah di anjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Meskipun sebenarnya secara garis besar, semua jenis kemungkaran tidak boleh dibiarkan, apalagi yang melihat itu adalah santri, orang yang dianggap belajar agama lebih dalam dari pada orang awam, tentu saja santri harus lebih sadar. Santri punya kewajiban untuk mengedukasi orang lain yang tidak tahu.

Hal-hal ringan yang bisa dilakukan seperti melihat ada batu ditengah jalan, jika santri lewat, maka hendaknya meminggirkan batu tesebut atau membuangnya, memang terlihat seperti kebaikan sepele, namun nilainya sangat besar, hal ini mengajarkan self awareness/rasa kesadaran dalam diri santri.

Seperti halnya panca kesadaran santri: kesadaran beragama, kesadaran berilmu, kesadaran berorganisasi, kesadaran bermasyarakat, dan kesadaran berbangsa dan bernegara. (Peradaban Sarung)

Nah dari lima kesadaran santri diatas, bukannya sudah jelas, bahwa santri itu sama sekali tidak boleh apatis, tapi harus aware. Semangat menjadi santri!!

Demikian Panduan bagi Kaum Santri untuk Melawan Penyebaran Hoaks. Meskipun singkat semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu …

Artikel kiriman dari Ramdhan Yurianto, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...