Beranda Gerakan Para Habib dalam Sejarah Politik Islam, Dari Pecinta Hingga Pembenci yang Punya...

Para Habib dalam Sejarah Politik Islam, Dari Pecinta Hingga Pembenci yang Punya Rujukan Agama

Harakah.id Istilah “Habib” sekarang sedang melambung. Ia mulai dikenal luas oleh masyarakat. Hal ini bersamaan dengan naiknya tokoh ormas Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab. Inilah ulasan tentang para habib dalam sejarah politik Islam, dari pecinta hingga pembenci yang punya rujukan agama.

Istilah “Habib” sekarang sedang melambung. Ia mulai dikenal luas oleh masyarakat. Hal ini bersamaan dengan naiknya tokoh ormas Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab. Baik di ibukota maupun di daerah, masyarakat semakin mengenal istilah Habib.

Untuk menyebut tokoh agama Islam, lebih dikenal istilah inyiak, tuan guru, ajengan, kiai dan ustadz. Hanya kelompok masyarakat di daerah tertentu yang menganggap habib sebagai sebutan untuk tokoh agama. Misalnya di kalangan masyarakat Muslim Betawi. Dalam hal ini, masyarakat Betawi sebenarnya lebih mengenal istilah muallim atau guru. Belakangan, Habib menjadi istilah yang tidak kalah populer untuk menyebut seorang tokoh agama. Penggunaannya menggeser istilah muallim atau bahkan guru di kalangan masyarakat Betawi Muslim.

Habib, selain dinilai memiliki kelebihan dalam persoalan agama, juga diyakini memiliki garis keturunan yang terhubung dengan Nabi Muhammad SAW. Inilah yang membedakan antara istilah tokoh agama dalam bahasa lokal dengan istilah habib. Sebutan untuk tokoh agama seperti inyiak, tuan guru, ajengan, kiai atau ustadz, tidak identik dengan garis keturunan Nabi Muhammad SAW.

Sebelum populer sebutan habib, kelompok masyarakat yang dinilai memiliki hubungan dengan keturunan Nabi ini disebut sayyid. Sampai abad kedua puluh sayyid atau syarif lebih populer dibanding istilah habib. Habib pada mulanya digunakan untuk menyebut para sayyid atau syarif yang memiliki pengetahuan agama lebih sehingga mereka dihormati oleh masyarakat. Habib secara tekstual berarti orang yang mencintai atau orang yang dicintai.

Masyarakat Muslim tradisional Sunni pada umumnya sangat menghormati para sayyid. Hal ini karena ada informasi yang menyebutkan bahwa mereka adalah orang yang memiliki garis keturunan yang terhubung dengan Nabi Muhammad SAW., melalui jalur Hasan dan Husain, putera pasangan Ali dan Fatimah. Yang disebut terakhir adalah puteri dan menantu Nabi Muhammad SAW.

Kaum Muslim Syi’ah lebih kuat penghormatannya terhadap orang-orang yang dinilai memiliki garis keturunan Nabi ini. Bahkan eksistensi kaum Syiah selama berabad-abad berpangkal kepada keyakinan penghormatan dan kepemimpinan pada para keturunan Nabi .

Berbeda dengan Muslim modernis yang pada umumnya menyetujui agenda reformasi agama. Kelompok ini menolak mengakui eksistensi ‘garis keturunan Nabi’ dan keunggulan-keunggulan spiritual yang disematkan kepada para sayyid atau habib ini. Di sisi lain, Muslim modernis juga meragukan keotentikan garis keturunan Nabi yang tersebar di kalangan yang mengaku sebagai keturunan Nabi. Jadi, bagi kelompok ini, tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan dari seorang yang mengaku sebagai habib.

Sebenarnya, kelompok yang sejenis dengan yang disebut terakhir telah muncul sejak era sahabat dan tabi’in. Mereka utamanya berasal dari masyarakat yang hidup dalam kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Sebuah rezim penguasa Muslim yang dirintis oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan setelah mengalahkan Ali bin Abi Thalib. Para pendukung Mu’awiyah pada umumnya tidak menyukai Ali bin Abi Thalib. Pada titik ekstremnya muncul kelompok yang disebut Nashibiyyah. Yaitu kelompok yang anti terhadap gerakan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Dalam sejarah, para sayyid yang mengklaim memiliki garis keturunan yang terhubung dengan Ali bin Abi Thalib menjadi kelompok oposisi. Sesekali dalam babak sejarah tertentu, mereka berhasil mendirikan kerajaan. Ambruknya Dinasti Bani Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah merupakan hasil eksploitasi narasi “ahlul bait” di wilayah Persia Islam.

Beberapa gubernur yang berafiliasi dengan Syiah pada akhir Dinasti Abbasiyah juga memanfaatkan sentimen ahlul bait. Kerajaan Fathimiyah di Mesir, yang merintis Universitas Al-Azhar, juga dibangun berdasarkan semangat Syi’ah, sebelum kemudian ditakhlukkan Shalahuddin Al-Ayyubi yang berpaham Sunni. Kesultanan Idrisiyah di Afrika Utara hingga Barat, dibangun di atas semangat ahlul bait bercorak Sunni. Demikian pula peberapa kesultanan di Nusantara-Melayu memiliki raja-raja yang memiliki garis keturunan sayyid.

Sampai di sini, sejarah politik ahlul bait, sayyid, dan kelompok pendukungnya, sebenarnya bukan perkara baru. Sejarah tradisi politik Muslim sangat kaya untuk sekadar menampilkan contoh bagaimana sayyid mencoba membangun, atau digunakan untuk membangun sebuah kekuasaan.

Tetapi, kembali pada pandangan Muslim terhadap kelompok sayyid yang beragam, kemunculan Habib Rizieq Syihab memunculkan simpati dari kelompok Muslim tradisional. Tetapi, bukan berarti setiap Muslim tradisional setuju dengan gerakan dan sikap politik Habib Rizieq Syihab. Di Indonesia, kelompok Muslim tradisional terwadahi dalam sejumlah ormas seperti Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Al-Washliyyah dan Nahdlatul Wathan (NW). Yang memiliki pengikut terbesar mungkin adalah NU dimana warga NU benar menghormati kalangan habib. Tetapi, penghormatan terhadap habib tidak selalu beriringan dengan persetujuan dan penerimaan terhadap sikap politik pihak yang menggunakan simbol kehabiban.

Memang benar, warga NU ada yang pada akhirnya simpati dan mendukung Habib Rizieq Syihab. Kenyataan ini tidak bisa ditutupi. Tetapi, kita bisa lihat bahwa pada umumnya sikap warga NU tidak menyetujui langkah-langkah, retorika dan sikap politik Habib Rizieq. Sebagian warga NU bahkan lebih jauh melangkah dengan menyatakan ketidaksetujuannya. Di sini, kita belum mengulas sikap Muslim tradisionalis di luar NU. Tetapi, agaknya ada kemiripan dengan NU. Menghormati tetapi tidak harus mengikuti.

Demikian ulasan singkat tentang para habib dalam sejarah politik Islam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...